Kisah Pebulu Tangkis Lin Dan di Indonesia Open: Sang Penguasa Dunia yang Selalu Takluk di Bawah Angkernya Istora
SEPANJANG sejarah bulu tangkis, nama Lin Dan tercatat sebagai salah satu atlet paling dominan yang pernah ada. Dijuluki Super Dan, pebulu tangkis asal China ini telah menaklukkan hampir seluruh turnamen bergengsi di planet ini. Namun, di balik tumpukan medali emasnya, terselip satu fakta unik sekaligus menyesakkan, ia tidak pernah sekalipun mencicipi gelar juara di turnamen Indonesia Open.
Kegagalan Lin Dan di Indonesia menjadi misteri tersendiri bagi para penggemar tepok bulu. Padahal, pebulu tangkis bertangan kidal ini dikenal memiliki mental baja dan teknik yang hampir sempurna saat berlaga di berbagai belahan dunia lainnya.
1. Dominasi Global dan Koleksi Gelar yang Tak Terhitung
Jika melihat rekam jejaknya, sulit dipercaya bahwa Lin Dan memiliki titik lemah di Indonesia. Kiprah tunggal putra kelahiran 14 Oktober 1983 ini sangatlah mentereng, termasuk keberhasilannya meraih dua medali emas Olimpiade secara berturut-turut pada 2008 dan 2012.
Mauro Zijlstra Siap Hujani Gawang Myanmar demi Timnas Indonesia U-22 ke Semifinal SEA Games 2025
Tak hanya itu, Lin Dan juga merupakan kolektor lima gelar juara dunia (2006, 2007, 2009, 2011, dan 2013). Ketangguhannya di lapangan membuatnya betah menyandang status peringkat satu dunia selama total 211 minggu.
Hampir seluruh podium tertinggi turnamen elite seperti All England, China Open, Korea Open, hingga Australia Open pernah Lin Dan injak. Berkat prestasi fenomenal tersebut, ia dinobatkan sebagai bagian dari "The Big 4" tunggal putra dunia bersama Taufik Hidayat, Lee Chong Wei, dan Peter Gade.
2. Kutukan 10 Kali Percobaan di Tanah Air
Namun, keperkasaan Lin Dan seolah luntur setiap kali ia menginjakkan kaki di Indonesia Open. Tercatat, ia telah mencoba peruntungannya sebanyak 10 kali di turnamen level Super 1000 ini. Prestasi terbaiknya hanyalah mencapai babak semifinal pada edisi 2004. Kala itu, langkahnya dihentikan oleh sang rival abadi, Taufik Hidayat, dalam pertarungan sengit tiga gim.
Selebihnya, perjalanan Lin Dan di Indonesia kerap berakhir prematur secara mengejutkan. Ia pernah tumbang di tangan pemain-pemain yang secara peringkat jauh di bawahnya, seperti saat dikalahkan Irwansyah pada babak pertama tahun 2002 atau disingkirkan Sho Sasaki di 16 besar edisi 2011.
Bahkan di masa-masa akhir kariernya, ia sempat dipermalukan oleh Jonatan Christie pada 2016 dan terakhir kali harus menyerah dari Chou Tien Chen di babak 16 besar tahun 2019.
Hingga akhirnya memutuskan gantung raket, Indonesia Open tetap menjadi satu-satunya puzzle yang gagal diselesaikan oleh Lin Dan. Meski demikian, absennya gelar Indonesia Open tidak mengurangi statusnya sebagai salah satu pemain terbaik yang pernah dilahirkan dalam sejarah olahraga bulu tangkis.










