Profil 9 Pemain Diaspora yang Ikut TC Timnas Indonesia U-17 Proyeksi Piala Dunia U-17 2025
Timnas Indonesia U-17 mulai menggenjot persiapan menuju Piala Dunia U-17 2025 yang akan digelar di Qatar. Pelatih Nova Arianto memanggil 34 pemain untuk mengikuti pemusatan latihan (TC) di Bali mulai 7 Juli hingga 10 Agustus 2025.
Yang menjadi perhatian utama dalam daftar kali ini adalah kehadiran sembilan pemain diaspora, yaitu pemain keturunan Indonesia yang saat ini berkarier di luar negeri. Mereka datang dari akademi-akademi ternama di Belanda, Italia, Norwegia, dan Australia.
Pemusatan latihan di Bali ini menjadi kesempatan emas untuk menyatukan gaya permainan pemain lokal dan diaspora. Pelatih Nova Arianto menargetkan Timnas U-17 memiliki skuad terbaik untuk bersaing di level tertinggi.
"Para pemain diaspora ini punya potensi besar dan pengalaman internasional yang sangat berguna. Kami berharap mereka bisa menyatu dan memberi warna baru bagi tim," ujar Nova.
Piala Dunia U-17 2025 menjadi panggung yang penting bagi Timnas Indonesia U-17, bukan hanya untuk prestasi, tetapi juga untuk menunjukkan kemajuan pembinaan sepak bola usia muda di Tanah Air.
Para pemain ini diharapkan dapat menambah kekuatan teknis sekaligus memperluas karakter permainan Timnas Indonesia U-17 yang akan berlaga di pentas dunia. Berikut profil lengkap sembilan pemain diaspora tersebut:
1. Feike Muller Latupeirissa
Tempat Lahir: Belanda
Tanggal Lahir: 10 Desember 2008 (16 tahun)
Posisi: Bek tengah
Klub: Willem II Tilburg U-17 (Belanda)
Keturunan: Kakek berasal dari Indonesia Feike dikenal sebagai bek tengah dengan kemampuan bertahan disiplin dan ketenangan dalam duel satu lawan satu.
2. Lionel De Troy
Tempat Lahir: Indonesia
Tanggal Lahir: 6 Januari 2008 (16 tahun)
Posisi: Gelandang serang
Klub: U.S. Città di Palermo (Italia)
Keturunan: Ibu asal Indonesia, ayah asal Kamerun Lionel punya visi bermain tajam dan kemampuan dribel yang mematikan, membuatnya cocok sebagai pengatur serangan.
3. Eizar Jacob Tanjung
Tempat Lahir: Australia
Tanggal Lahir: 30 Agustus 2008 (16 tahun)
Posisi: Gelandang bertahan
Klub: Sydney FC U-16 (Australia)
Keturunan: Kedua orang tua warga negara Indonesia Eizar merupakan jangkar di lini tengah, tangguh dalam perebutan bola dan kuat dalam menjaga struktur pertahanan tim.
4. Floris De Pagter
Tempat Lahir: Belanda
Tanggal Lahir: 8 September 2008 (16 tahun)
Posisi: Gelandang serang
Klub: SC Telstar (Belanda)
Keturunan: Kakek dan nenek berasal dari Indonesia Floris adalah playmaker berbakat yang mampu menciptakan peluang dari ruang sempit dengan umpan-umpan cerdas.
5. Noha Pohan Simangunsong
Tempat Lahir: Indonesia
Tanggal Lahir: 12 Maret 2010 (15 tahun)
Posisi: Gelandang serbaguna
Klub: NAC Breda U-15 (Belanda)
Keturunan: Ayah dari Indonesia, ibu asal Finlandia Meski masih 15 tahun, Noha sudah bermain di berbagai posisi lini tengah dengan kemampuan teknis yang matang.
6. Jona Giesselink
Tempat Lahir: Belanda
Tanggal Lahir: 2 Maret 2008 (16 tahun)
Posisi: Gelandang tengah (CDM/CAM)
Klub: FC Emmen (Belanda)
Keturunan: Kakek dan nenek berasal dari Indonesia Jona adalah gelandang lengkap yang mampu bertahan maupun menyerang, dengan stamina yang luar biasa dan akurasi operan tinggi.
7. Azadin Ayoub Hamane
Tempat Lahir: Norwegia
Tanggal Lahir: 26 September 2008 (16 tahun)
Posisi: Winger kanan dan kiri
Klub: Elverum FC (Norwegia)
Keturunan: Ibu Indonesia kelahiran Norwegia, ayah asal Maroko Azadin dikenal memiliki kecepatan dan akselerasi tinggi, serta kemampuan individu dalam menembus pertahanan lawan.
8. Nicholas Indra Mjøsund
Tempat Lahir: Norwegia
Tanggal Lahir: 13 Januari 2010 (15 tahun)
Posisi: Winger kanan dan kiri
Klub: Rosenborg BK (Norwegia)
Keturunan: Ibu dari Indonesia, ayah dari Norwegia Nicholas adalah pemain muda potensial dengan gaya bermain agresif dan berani mengambil risiko di lini depan.
9. Deston Deandré Denzell Hoop
Tempat Lahir: Belanda
Tanggal Lahir: 30 Mei 2008 (16 tahun)
Posisi: Winger kanan
Klub: SC Telstar (Belanda)
Keturunan: Kakek berasal dari Indonesia Deston menjadi salah satu nama paling menonjol. Ia punya kecepatan, insting menyerang, dan pengalaman dari akademi Belanda yang kompetitif.










