7 Pembalap F1 Terburuk Sepanjang Masa, Nomor 5 Sampai Buat Timnya Kesal

Olahraga | inewsid | Published at Minggu, 02 Agustus 2020 - 20:20
7 Pembalap F1 Terburuk Sepanjang Masa, Nomor 5 Sampai Buat Timnya Kesal

LONDON, iNews.id – Berada di Formula 1 (F1) merupakan impian semua pembalap. Sayang, tidak semua pembalap memiliki kualitas yang bagus, dan beberapa dianggap tak bisa bersaing.

Biasanya, sejumlah pembalap dikenang penggemar karena memiliki prestasi yang apik. Entah karena menjadi juara dunia atau karena gaya balapannya yang juga flamboyan.

Meski begitu, tak sedikit pula pembalap yang dikenang karena begitu buruk di lintasan. Hal itu biasanya karena dia tak mampu menggeber mobilnya.

Berikut tujuh pembalap terburuk sepanjang masa, seperti dikutip WTF1, Minggu (2/8/2020):

1. Yuji Ide 

Ketika tim F1 asal Jepang, Super Aguri, menjalani debut pada 2006, mereka merekrut Yuji Ide, salah satu talenta terbaik yang dimiliki Negeri Matahari Terbit. Dia dipilih berkat prestasinya sebagai runner-up Formula Nippon 2005.

Sayang, talentanya itu tak bisa ditampilkan dengan baik di lintasan F1. Pada balap debutnya di F1 di GP Bahrain, dia kesulitan mengendalikan mobilnya. Saking buruknya, dia sampai tertinggal 3 detik dari rekan satu timnya, Takuma Sato.

Akibat performanya yang buruk, Ide mendapat keluhan dari pembalap lainnya, dan dianggap menjadi penghalang mereka. Atas saran dari FIA, Super Aguri lalu melepaskannya usai 4 balapan. FIA juga kemudian mengambil Superlicense (SIM F1) milik Ide, dan otomatis melarangnya ikut balapan.

2. Taki Inoue 

Karier Inoue di F1 bisa lebih lama ketimbang Ide. Setelah debut di GP Jepang 1994 bersama Simtek, dia lalu membela Footwork selama 1995. Sayang, perjalanan kariernya begitu buruk.

Dari 18 balapan yang diikutinya, pembalap asal Jepang itu hanya bisa menyelesaikan lima di antaranya. Sementara lainnya, dia gagal finis akibat melintir, atau kerusakan mobil.

Bukan hanya pelan, Inoue juga kerap terlibat dengan insiden konyol. Seperti pada GP Hungaria 1995, mobilnya mengalami kerusakan dan terbakar. Setelah berhenti dan mencari alat pemadam, dia justru ditabrak mobil petugas lintasan.

3. Jean-Denis Deletraz 

Inoue bukan satu-satunya pembalap buruk yang mengarungi musim 1994 dan 1995. Nama buruknya didampingi Deletraz yang tampil di tiga balapan saja, yakni GP Australia 1994 bersama Larrousse serta GP Portugal dan GP Eropa 1995 mengendarai Pacific.

Performa Deletraz pada tiga balapan itu begitu buruk. Pada GP Australia 1994, dia bahkan sampai tertinggal 10 putaran dari pemenang, Nigel Mansell. Penampilan pembalap asal Swiss itu lebih buruk pada GP Portugal 1995, karena keluar balapan akibat terkilir.

4. Al Pease

Biasanya, seorang pembalap didiskualifikasi akibat melanggar aturan atau mobilnya rusak. Tetapi, F1 pernah satu kali mendiskualifikasi pembalap akibat terlalu pelan, yaitu pada GP Kanada 1969.

Ya, pembalap yang didiskualifikasi karena terlalu pelan itu adalah Al Pease. Saking pelannya, dia hanya bisa menjalani 22 putaran, dari 44 lap yang dijalani. Oleh sebab itu, F1 pun mendiskualifikasinya dan dia tak lagi tampil di F1.

5. Ricardo Rosset 

Ketika pertama kali diperkenalkan pada 1996 bersama Arrows, Rosset memiliki harapan besar. Pasalnya, dia berstatuskan runner-up Formula 3.000 pada musim sebelumnya.

Namun, kecepatan di lintasan begitu mengecewakan. Puncaknya, pada 1998 saat membela Tyrrel, kecepatannya justru semakin pelan. Akibatnya, dia gagal lolos kualifikasi pada lima balapan.

Tidak hanya pelan, Rosset juga kerap terlibat kecelakaan yang tidak perlu. Hal itu membuat mekaniknya sedikit jengkel dan menjahilinya. Mereka mengubah nama Rosset menjadi Tosser atau pecundang pada skuter milik pembalap asal Brasil itu.

6. David Walker 

Ketika bergabung dengan Lotus pada 1972, Walker mendapat beban yang cukup besar, karena membela tim besar. Selain itu, dia menjadi rekan satu tim Emerson Fittipaldi.

Hal itu pun menunjukkan betapa buruknya Walker. Ketika Fittipaldi berhasil menjadi juara dunia pada 1972, Walker justru gagal bersaing. Dia bahkan sama sekali tak mencetak poin sepanjang musim.

Tidak hanya itu, peringkat kualifikasi terbaik Walker hanya berada di posisi ke-12. Sementara Fittipaldi meraih 3 pole position, dan tak pernah lebih buruk dari posisi kesembilan.

7. Claudio Langes 

Pada 1990, F1 menerapkan prakualifikasi, karena saking banyaknya tim dan pembalap yang ikut. Karena posisi yang terbatas, pendatang baru dan tim papan bawah harus memperebutkan tempat di prakualifikasi.

Dengan jatah empat pembalap tercepat yang bisa ikut balapan, babak prakualifikasi pun berjalan ketat. Namun, ada satu pembalap yang tak pernah lolos dari babak prakualifikasi, yaitu Langes.

Ya, dari 14 seri yang diikutinya, dia hanya bisa mencapai babak prakualifikasi, dan tak pernah balapan. Dia pun mendapat rekor pembalap paling sering mengikuti seri F1 tanpa pernah balapan.

Artikel Asli