Si Kutu Loncat Rangnick

Olahraga | republika | Published at Jumat, 26 November 2021 - 08:48
Si Kutu Loncat Rangnick

REPUBLIKA.CO.ID, MANCHESTER -- Ralf Rangnick merupakan pelopor permainan menekan yang kini menjadi karakteristik pelatih-pelatih Jerman. Ia dikabarkan akan menjadi arsitek sementara Manchester United.

Jika skenario tersebut menjadi kenyataan, Rangnick bakal bersaing dengan sejumlah kompatriotnya. Itu termasuk Juergen Klopp (Liverpool). Rupanya, Klopp yang kini jadi salah satu juru taktik terbaik dunia, pernah terobesi melihat hasil kerja seniornya itu.

Pada September 2008, Rangnick yang menangani tim promosi, Hoffenheim, mengalahkan Borussia Dortmund era Klopp, 4-1. Jalannya laga tersebut, menjadi pelajaran berharga untuk Klopp. Ia melihat sebuah tim yang menekan secara efektif.

"Kami harus sampai ke tempat mereka sekarang. Sayangnya, tindakan taktis, tidak seperti mengendarai sepeda. Anda harus berlatih, dan berlatih lagi," kata Klopp usai timmya dibantai Hoffenheim, lebih dari satu dekade lalu, dikutip dari dailymail.co.uk, Jumat (26/11).

Rupanya Rangnick merupakan mentor Klopp. Sebelum menandatangani kontrak dengan Mainz pada 2001, Klopp menelpon 'the professor'. Pada tahun berikutnya, keduanya muncul bersamaan di TV.

Mereka memberikan analisis mengapa tim nasional Jerman mengalami kegagalan. Analisa keduanya, terbukti visioner. Saat ini Der Panzer bermain dengan tekanan tinggi di setiap pertandingan.

Klopp dan Rangnick akan berhadapan secara langsung pada 19 Maret 2022. Saat itu United melakukan kunjungan ke Stadion Anfield. Pertanyaannya, ada berapa banyak ide dan sistem yang dibawa 'the Professor' ke tim United saat ini?

Sebagai contoh, saat masih membesut Schalke 04, Rangnick sampai melarang pemainnya melakukan back-pass dalam latihan. Ia juga menetapkan maksimal dua sentuhan pada bola. Artinya, ia berorientasi pada sepakbola menyerang dengan sirkulasi atau perpindahan bola yang sangat cepat saat memasuki pertahanan lawan.

"Tetapi personel United saat ini, sama sekali tidak cocok dengan pendekatan seperti itu," demikian laporan yang dikutip dari Dailymail.

Cristiano Ronaldo tidak memiliki tempat lebih dalam pengaturan seperti itu. Jadon Sancho juga demikian. Tapi Sancho baru berusia 21 tahun. Masih bisa dibentuk.

Bakal ada banyak pertentangan, apalagi berkaitan dengan Ronaldo. Tapi para mantan pemain Rangnick mengatakan, mentor mereka bisa membuat mereka bermain lebih baik, dan menciptakan lingkungan kerja yang bahagia.

"Pada malam pertandingan Liga Champions melawan United asuhan Sir Alex Ferguson, striker legendaris Spanyol dari Schalke, Raul, berbicara tentang atmosfer positif yang telah diciptakan Rangnick dalam waktu singkatnya di sana," tambah laporan dari Dailymail.

Rangnick tidak memiliki riwayat bertahan lama di sebuah klub alias ia tergolong sebagai pelatih kutu loncat. Dalam 38 tahun berada di manajemen, hanya ada dua klub yang membuat ia bertahan lebih dari dua tahun. Salah satunya di Hoffenheim, di mana ia bertugas selama lima musim.

Ia berada di Schalke selama delapan bulan. Setelah bertemu United di Liga Champions pada 2011 lalu, ia mengundurkan diri. Ia mengalami sindrom kelelahan.

"Sejak saat itu, ia menjadi spesialis pelatih sementara," demikian laporan yang dikutip dari Dailymail.

Pada awal musim 2015/16, Rangnick menangani RB Leipzig. Setelah membawa tim tersebut promosi ke Bundesliga, ia mengundurkan diri. Tiga tahun kemudian, ia balik lagi ke klub tersebut. Die Roten Bullen finis di posisi ketiga Bundesliga di eranya.

Setelah membawa Leipzig ke Liga Champions, ia mengundurkan diri. Ia sempat berbicara dengan Everton. Pada akhirnya the Toffees memilih Carlo Ancelotti.

Chelsea hampir saja menandatangani Rangnick musim lalu. Tepatnya ketika the Blues terseok-seok di bawah kepemimpinan Frank Lampard. Hanya saja manajemen London Biru cuma memberinya waktu empat bulan. Sang arsitek merasa periode tersebut terlalu singkat untuk memberikan pengaruhnya.

Di luar dari perannya sebagai pelatih sementara, Rangnick dikabarkan akan menjadi konsultan United. Bakal terjadi situasi yang dinamis di tubuh skuat Old Trafford. Pada 2018 lalu, pria 63 tahun ini menegaskan, fokusnya hanya meningkatkan performa pemain. Dengan begitu, segala sesuatu berjalan lebih baik.

"Pemain mengikuti anda sebagai pelatih, jika mereka merasa anda membuat mereka menjadi lebih baik. Itu motivasi terbesar dan paling tulus yang pernah ada," ujar Rangnick.

Menarik dinantikan bagaimana petualangan salah satu tokoh revolusi sepak bola Jerman di Old Trafford. Persaingan melawan Klopp, Thomas Tuchel, dan Pep Guardiola, jadi magnet baru di kompetisi terelit Negeri Ratu Elisabeth.



Artikel Asli