Fury: Wilder tak Mau Tunjukkan Rasa Hormat

republika | Olahraga | Published at Minggu, 10 Oktober 2021 - 16:55
Fury: Wilder tak Mau Tunjukkan Rasa Hormat

REPUBLIKA.CO.ID, LAS VEGAS -- Tyson Fury menilai Deontay Wilder gagal menunjukkan rasa hormat ketika petinju Inggris itu menghampiri petinju Amerika setelah menjatuhkannya di ronde ke-11 dalam pertarungan perebutan gelar kelas berat di Las Vegas, Amerika Serikat, Ahad (10/10). Dalam pertemuan ketiga antara pasangan itu, Fury dan Wilder memainkan permainan klasik instan sebelum Raja Gipsi mengerahkan kekuatannya untuk menghabisi saingan Amerika-nya dengan serangan yang brutal dan menjatuhkannya tiga kali.

Fury mempertahankan gelar WBC yang dia menangkan dari Wilder dalam pertarungan mereka sebelumnya 20 bulan lalu, dan pada pertarungan di Vegas tersebut akan menjadi penutup salah satu persaingan paling menarik di era kelas berat baru-baru ini.

Pertarungan ini dibangun dengan ejekan dari kedua kubu, dengan Wilder terus bersikeras bahwa Fury curang dalam pertarungan terakhir mereka dengan merusak sarung tangannya. Sementara Fury bersumpah untuk membuat saingannya itu pensiun.

Pada akhirnya Fury-lah yang mengangkat tangannya di pengujung malam ketika Wilder duduk di bangkunya, memar, babak belur, dan putus asa. Di akhir pertandingann Fury tampak menghampiri Wilder di sudut ring sebagai tanda sportivitas.

Namun, orang Inggris itu mengeklaim dalam wawancara pasca-pertarungannya bahwa tawaran perdamaiannya telah ditolak oleh Wilder. "Saya berkata 'bagus,' dan dia berkata 'Saya tidak ingin menunjukkan sportivitas atau rasa hormat.'," tutur Fury dikutip dari RT , Ahad (10/10).

"Saya berkata 'Tidak masalah.' Saya sangat terkejut. Pecundang yang sakit," kata Fury kepada BT Sport.

Fury melanjutkan pembicaraannya pada konferensi pers pasca-pertarungan, menyeret kembali tuduhan berulang Wilder bahwa raja kelas berat dunia yang tak terkalahkan telah merusak sarung tangannya dalam pertarungan terakhir mereka.

"Bagaimana Anda bisa mengatakan saya curang ketika Anda tahu di dalam hati Anda sendiri dan seluruh tim Anda tahu bahwa Anda dikalahkan dengan adil," kata pria berusia 33 tahun itu.

"Ini pecundang 'sakit' dalam tinju. Dia bukan yang pertama dan dia tidak akan menjadi yang terakhir. Tapi saya telah bertindak seperti pria terhormat sepanjang karir saya dan hanya itu yang bisa saya lakukan sebagai pria," jelasnya.

Artikel Asli