Medvedev Juara US Open, Gagalkan Djokovic Cetak Sejarah

republika | Olahraga | Published at 13/09/2021 06:30
Medvedev Juara US Open, Gagalkan Djokovic Cetak Sejarah

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Ambisi Novak Djokovic mencetak sejarah menyapu empat gelar Grand Slam dalam satu kalender tahun sekaligus melewati koleksi trofi Grand Slam Roger Federer dan Rafael Nadal urung terwujud. Djokovic, pengoleksi 20 gelar Grand Slam, takluk pada laga final US Open 2021, Senin (13/9) pagi WIB. Daniil Medvedev menumbangkan performa brilian Djokovic sepanjang tahun ini dengan kemenangan 6-4, 6-4, dan 6-4 di Stadion Arthur Ashe.

Setelah kalah dari Djokovic dalam dua pertandingan Grand Slam, termasuk final Australia Open tahun ini, Medvedev revans pada waktu yang tepat.

Petenis Rusia berusia 25 tahun itu menepati janjinya sebelum final untuk memberikan perlawanan terbaik untuk Djokovic dengan bermodal servis apik.

Medvedev memenangkan semua lima belas poin servis pertamanya di set pembuka dan melepaskan delapan ace, tanpa pernah menghadapi break point , demikian catatan resmi laman US Open.

Djokovic, 34 tahun, yang mengincar gelar mayor ke-21 dalam penampilan final Grand Slamnya yang ke-31, membuka peluang untuk dirinya pada set kedua, tetapi Medvedev menahannya. Sejumlah selebriti papan atas yang datang untuk menyaksikan sejarah tenis, akhirnya disuguhi kehebatan Medvedev yang menaklukkan Djokovic dalam dua jam 16 menit.

Medvedev menjadi petenis ketiga Rusia yang memenangkan gelar tunggal Grand Slam, dan yang kedua untuk gelar US Open. Warga asli Moskow ini orang pertama Rusia yang mengangkat trofi di New York sejak Marat Safin pada tahun 2000.

Sebaliknya, aksi gemilang Djokovic di Grand Slam berakhir dengan catatan 27-1, masih sejajar dengan rivalnya Roger Federer dan Rafael Nadal dalam daftar gelar tunggal Grand Slam sepanjang masa dengan 20 gelar.

Dari enam pemain yang telah memenangkan tiga gelar Grand Slam berurutan sejak awal tahun pada era Terbuka (sejak 1968), Djokovic menjadi pemain ketiga yang gagal menyapu bersih, mengikuti jejak kegagalan Martina Navratilova (1984) dan Serena Williams (2015).

Artikel Asli