Eks Striker Timnas Prancis Akui Kariernya Gagal di Juventus karena Goda Pacar Direktur

inewsid | Olahraga | Published at 09/09/2021 10:00
Eks Striker Timnas Prancis Akui Kariernya Gagal di Juventus karena Goda Pacar Direktur

SAINT-ETIENNE, iNews.id - Nama Vincent Pericard tampak asing bagi fans sepak bola masa kini. Dia pernah membela Juventus dan bisa saja meraih kesuksesan jika tidak menggoda pacar direktur klub raksasa Italia tersebut.

Richard Elliot adalah akademisi lulusan Universitas Leicester yang fokus di bidang olahraga. Salah satu karya tulisnya yang menarik ialah "The man who would be worth billions". Dalam karya tulis yang terbit pada 2020 itu, Elliot mengulik lebih dalam karier berliku eks striker Juventus, Vincent Pericard.

Mungkin nama Pericard tidak familier oleh anak zaman sekarang. Terbilang wajar, karena karier Pericard singkat di Juventus. Selain karena tak pernah tampil di Liga Italia, dia juga langsung "diberi jalan" berkarier ke sejumlah klub Liga Inggris, salah satunyaPortsmouth.

Sesuai dengan judul karya tulis Elliot, Pericard bisa saja menjadi "pria yang bisa dihargai miliaran". Pasalnya peluang menjadi pemain sukses terbuka ketika dia memperkuat klub besar Italia Juventus pada awal milenium.

"Saya tahu saat itu saya jago, tetapi saya tidak pernah bermimpi atau berharap dipinang Juventus. Saya bermain beberapa pertandingan untuk Saint-Etienne dan Juventus membidik saya saat bermain di sebuah turnamen untuk Timnas Prancis U-17," ucap Pericard, dikutip dari Planet Football, Kamis (9/9/2021).

Hanya bermain dua kali bersama Saint-Etienne, Pericard langsung direkrut Juventus. Hal itu menandakan dia memiliki potensi menjadi bintang. Kala itu sosok yang kini berusia 38 tahun diangkut Juventus bersama dua pemain muda Prancis lain, Aboubacar Fofana dan Frantz Bertin.

"Saya tidak merasakan tekanan, tapi kalau melihat ke belakang, mungkin karena saya 18 tahun dan naif," kata Pericard yang mengaku mendapat sambutan hangat di tim senior.

Hanya saja petaka terjadi seusai dia melakoni debut ketika Juventus melawan Arsenal pada 2002. Untuk merayakan debutnya, Pericard, Fofana dan Bertin mencoba mengundang guru Bahasa Italia mereka di acara perayaan minum-minum.

Pericard mengirimkan pesan SMS lewat gawainya pada sang guru. Namun tak disangka, guru mereka adalah pacar dari salah satu direktur Juventus.

Sepuluh menit kemudian Pericard mendapat telepon dari seorang pria. Di seberang telepon, pria tersebut tampak marah karena menduga Pericard tengah menggoda pacarnya: "Berani-beraninya kau mengirim pesan pada pacarku."

"Pria itu salah satu direktur Juventus. Dia berkata 'kalian bertiga, ke kantorku besok pagi'. Ketika kami menghadap paginya dia menatap kami dan berkata 'kau ke sana, kau ke sana, dan kau ke sana', sama sekali tidak ada diskusi," papar Elliot yang mengutip curhatan Pericard lewat karya tulisnya.

"Jadi seperti itulah saya bisa ke Portsmouth. Bukan karena sepak bola, bukan karena apa pun, tapi karena saya salah mengirim teks di waktu yang tak tepat dan bahkan saya tak pernah mendengar Portsmouth. Tak pernah ada bayangan pada saya untuk datang ke Inggris," terangnya lagi.

Karier sepak bola Pericard dari abu-abu menjadi hitam pekat. Dia mengaku belum siap dipinjamkan. Imbasnya, Pericard kesulitan tinggal di Inggris karena tidak menguasai bahasanya, makan makanan yang sama, dan kesepian.

Saking depresinya Pericard sampai kecanduan alkohol dan perjudian. Bahkan pada 2007, dia pernah dipenjara karena kebut-kebutan di jalan. Ada satu momen juga di mana dia ingin sekali bunuh diri karena terus-menerus diliputi depresi.

Mengutip Sportbible, Pericard dikabarkan sudah pensiun sejak 2011. Dia kemudian bersekolah di jurusan Business Enterprise Development di Universitas Plymouth. Pendidikannya berlanjut ke jenjang master di jurusan akuntansi dan finansial.

Setelah lulus, Pericard mengatur perusahaan yang membantu pemain asing yang hendak berkarier di inggris. Meskipun sudah terbilang sukses hidup di luar sepak bola, Pericard mengaku pernah masih menyimpan penyesalan di masa lalu.

"Saya berharap tidak pernah mengirim teks pada guru Italia itu, tapi saya lantas berpikir apa yang telah terjadi cuma reaksi berlebihan saja," ujar Pericard.

Artikel Asli