Rexy Mainaky Peraih Emas Olimpiade Atlanta, Begini Kehidupannya Sekarang

Olahraga | inewsid | Published at Rabu, 11 Agustus 2021 - 15:10
Rexy Mainaky Peraih Emas Olimpiade Atlanta, Begini Kehidupannya Sekarang

BANGKOK, iNews.id Masih ingat dengan sosok Rexy Mainaky? Dia pebulu tangkis legendaris Indonesia yang pernah menyabet medali emas di Olimpiade Atlanta 1996.

Pria yang akrab disapa Eky itu lahir pada 9 Maret 1968 di Ternate. Dia ganda putra terbaik yang pernah dimiliki Indonesia sepanjang sejarah.

Keluarga Rexy sangat senang dengan bulu tangkis. Ayah dan saudara-saudara kandungnya rutin bermain badminton. Sedangkan dirinya saat kecil lebih senang sepak bola.

Di kampung halamannya saat itu, banyak anak muda yang kerjanya hanya mabuk-mabukan. Oleh karena itu sang ayah mengarahkan anak-anaknya untuk olahraga, karena tidak mau mereka menjadi pemabuk seperti pemuda-pemuda di sana.

Ada satu momen dimana Rexy dijanjikan akan diberi hadiah sang ayah jika masuk peringkat 10 besar di sekolah. Ayahnya mengira dia akan minta dibelikan raket, namun Rexy memilih untuk dibelikan sepatu sepak bola.

Ketika saudara kandung dan teman-temannya bermain bulu tangkis di halaman belakang rumah, Rexy hanya menonton. Dia baru main jika kurang orang. Dia lebih sering menghabiskan waktu di lapangan sepak bola.

Masih ingat dengan sosok Rexy Mainaky? Dia pebulu tangkis legendaris Indonesia yang pernah menyabet medali emas di Olimpiade Atlanta 1996. (Foto:Getty Images)

Menginjak usia remaja, sang ayah berbicara kepadanya dan membuatnya banting setir menjadi pemain bulu tangkis. Sebenarnya, saat itu Rexy sudah bermain di kompetisi sepak bola antar daerah. Namun situasinya sulit dan perkembangan sepak bola nasional juga belum menuju ke arah yang bagus.

Sang ayah mengatakan bulu tangkis Indonesia itu lebih dikenal dunia. Kalau Rexy bisa menjadi juara nasional, sangat besar peluang menjadi juara dunia. Berbeda dengan sepakbola yang punya 11 pemain, tapi skema permainan rusak jika tak kompak.

Rexy yang saat itu berusia 14 tahun mengikuti saran dari ayahnya. Dia lalu ikut seleksi untuk mewakili Maluku di pertandingan Pekan Olahraga Pelajar Seluruh Indonesia (POPSI). Dia berhasil maju mewakili Maluku, tapi gagal lolos dari babak grup. Meski begitu, pemerintah Maluku mengusulkannya untuk belajar di sekolah atlet Ragunan.

Pada 1985 Rexy terbang ke Jakarta menyusul sang kakak, Richard Mainaky, yang sudah lebih dulu menginjakan kaki di ibu kota. Rexy menunjukan kegigihan dan keseriusan dalam latihan sehingga dia menjadi penghuni tetap di Ragunan.

Rexy menjuarai Kejuaraan Pelajar se-ASEAN di Singapura. Dia juara di nomor tunggal dan ganda putra. Setelah lulus dari Ragunan, dia hampir bergabung dengan klub raksasa asal kudus PB Djarum. Namun, dia akhirnya bergabung dengan klub Tangkas setelah menerima saran dari Darius Pongoh.

Prestasinya terus meningkat sejak itu, Rexy dan Richard memberi banyak gelar untuk Tangkas. Meski berprestasi, pemuda Ternate itu sempat hampir menyerah karena tidak dipanggil ke Pelatnas. Padahal dia sudah menjadi juara DKI Jakarta dan seleksi nasional.

Akhirnya kesempatan itu datang pada September 1990. Rexy saat itu selesai juara tunggal putra, ganda putra dan ganda campuran dalam suatu turnamen. Christian Hadinata yang menjadi pelatih ganda putra di tim nasional, mendatanginya dan memberikan tawaran untuk masuk pelatnas, dengan syarat dia tidak lagi bermain di tunggal putra dan ganda campuran.

Rexy menerima tawaran itu dan dipasangkan dengan Thomas Indratjaya di tahun pertamanya. Pasangan emasnya, Ricky Subagja, saat itu masih dipasangkan dengan sang kakak, Richard.

Singkat cerita, Koh Chris panggilan Christian Hadinata- menawarkan Rexy euntuk dipasangkan dengan Rudy Gunawan atau Ricky Subagja. Dia pun memilih Ricky sebagai duetnya karena dari segi umur tidak jauh yang membuatnya jadi tidak sungkan selama di lapangan. Selain itu, Gunawan saat itu sudah terkenal dan Rexy takut itu menjadi beban baginya.

Pilihan itu ternyata sangat tepat, Rexy/Ricky menjadi pasangan yang sangat kuat yang dimiliki Indonesia saat itu. Sejak akhir 1992, mereka memenangkan empat turnamen beruntun, termasuk World Grand Prix Finals. Nama mereka mulai naik dan diperhitungkan di mata dunia.

Rexy/Ricky adalah roda penggerak penting dalam mesin bulu tangkis Indonesia yang membuat mereka merebut empat gelar Piala Thomas berturut-turut dari 1994 hingga 2000.

Hingga paruh kedua 1990-an, pasangan Rexy/Ricky memenangkan lebih dari 30 gelar internasional, termasuk tiga Kejuaraan Dunia, empat Indonesia Terbuka, tiga Final Grand Prix Dunia, dua All England, dan satu hattrick di Jepang Terbuka.

Salah satu momen yang paling diingat pecinta bulu tangkis Indonesia adalah saat Rexy/Ricky menyabet medali emas Olimpiade Atalanta 1996. Mereka bertarung melawan pasangan Malaysia Yap Kim Hock/Chean Soon Kit di partai final dengan skor 5-15, 15-13 dan 15-12.

Setelah pensiun pada 2000, Rexy tidak bisa jauh-jauh dari dunia bulu tangkis. Dia memutuskan untuk melatih di olahraga yang membesarkan namanya itu. Dia melatih di Pelatnas dan melahirkan atlet-atlet seperti Sony Dwi Kuncoro, Simon Santoso dan Maria Kristin Yulianti.

Masih ingat dengan sosok Rexy Mainaky? Dia pebulu tangkis legendaris Indonesia yang pernah menyabet medali emas di Olimpiade Atlanta 1996. (Foto: Instagram/rexy9601)

Setelah itu, Rexy melanjutkan karier kepelatihannya di Inggris. Selama lima tahun menjadi pelatih di Inggris, dia berhasil melahirkan pasangan ganda campuran Nathan Robertson/Gail Emms yang mendapat medali perak di Olimpiade Athena 2004.

Pada 2005, Rexy tetap melanjutkan kariernya sebagai pelatih di Malaysia. Dia dipercaya untuk melatih tim ganda putra di BAM (Badminton Assosiation of Malaysia).

Beberapa pemain ganda putra hasil sentuhan Eky yang mampu menyabet gelar juara adalah Mohamad Zakry Latif/Mohamad Fairuzizuan dan Koo Kien Keat/Tan Boon Heong. Pasangan Zakry/Fairuz mampu menembus final Indonesia Open, sementara pasangan Koo/Tan berhasil pada kejuaraan Asian Games, Malaysia Super Series, All England, dan Swiss Super Series.

Setelah berkarir di Negeri Jiran, Rexy melanjutkan petualangannya menjadi pelatih di Filipina pada 2011, tetapi tidak bertahan lama. Dia memutuskan kembali ke Indonesia dan menerima tawaran eks Ketum Persatuan Bulu tangkis Seluruh Indonesia (PBSI), Gita Wirjawan, untuk menjadi Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) PBSI.

Di Indonesia, Rexy juga berhasil membawa tim Piala Thomas lolos ke final pada 2016. Puncak kariernya saat menjabat sebagai Kabid Binpres PBSI yakni saat Indonesia meraih medali emas Olimpiade Rio 2016 lewat pasangan ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir.

Rexy kemudian resmi ditunjuk menjadi pelatih Thailand pada Januari 2017. Dia membawa Negeri Gajah Putih itu menjadi runner-up pada Piala Uber 2018 yang digelar di Bangkok, Thailand.

Kantaphon Wangcharoen menjadi tunggal putra pertama Thailand yang memenangi medali perunggu pada Kejuaraan Dunia 2019 di Basel, Swiss. Sementara itu, Dechapol Puavaranukroh/Sapsiree Taerattanachai juga menjadi pasangan ganda campuran Thailand pertama yang mencapai final pada kejuaraan dunia.

Rexy masih menjadi pelatih Thailand sampai saat ini. Walaupun dia sempat mengatakan keinginannya untuk kembali melatih di Malaysia dan tidak melanjutkan kontraknya dengan Thailand.

Artikel Asli