Pebasket Indonesia Luncurkan Gerakan Satu Bola Satu Suara

republika | Olahraga | Published at 13/07/2021 06:41
Pebasket Indonesia Luncurkan Gerakan Satu Bola Satu Suara

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Sejumlah pemain dan mantan pemain basket profesional Indonesia meluncurkan gerakan atau kampanye yang diberi nama 'Satu Bola, Satu Suara'. Gerakan ini bertujuan untuk memperbaiki kondisi perbolabasketan Indonesia yang belum kondusif, terutama dari sisi hubungan pemain dengan klub.

Selama berpuluh-puluh tahun liga bola basket nasional berjalan dengan berganti-ganti nama, mulai Kobatama, IBL, NBL, dan kembali menjadi IBL, kerap terjadi situasi pemain tak berada dalam posisi menguntungkan. Saat ada perselisihan dengan klub, pemain yang hampir selalu dirugikan. Permasalahan yang lazim dihadapi pebasket Indonesia dari dulu dan masih terjadi belakangan antara lain mulai dari dipersulit untuk berpindah klub, pembayaran gaji terlambat, hingga gaji yang tak dibayarkan klub.

"Pemicu gerakan ini sih kasus Dimaz Muharri yang tengah berselisih dengan mantan klubnya CLS di pengadilan. Namun tujuan besar dari gerakan ini adalah kita semua berharap ada perubahan lebih baik di bola basket Indonesia," kata Christian Ronaldo Sitepu, mantan pemain Satria Muda yang merupakan salah satu penggerak 'Satu Bola, Satu Suara'.

Para pemain dan eks pebasket porfesional Tanah Air bertemu via zoom meeting pada Ahad (11/7). Mereka membahas persoalan Dimaz serta apa yang bisa mereka lakukan untuk membantu menyelesaikan masalah tersebut dengan cara damai dan kekeluargaan.

Karena kenyataannya belum ada wadah asosiasi resmi yang menaungi mereka, para pemain ini kemudian meminta bantuan PP Perbasi sebagai mediator Dimaz dan CLS Knights. Setelah itu, pembicaraan kemudian mengarah ke pembentukan asosiasi pemain.

"Kami memberikan dukungan moral untuk Dimaz. Kami sudah mengirimkan surat ke PP Perbasi, sebagai induk olahraga basket di Indonesia, meminta mereka turun tangan. Suratnya sudah dikirimkan Senin (12/7) siang," ungkap Dodo.

Menurut Dodo, pihak Perbasi merespons surat mereka dengan baik. Karena permasalahan sudah masuk ranah hukum, kata dia, Perbasi masih mendiskusikan cara terbaik untuk memediasi kedua belah pihak.

Secara garis besar, pertemuan pemain dan mantan pemain tersebut menghasilkan lima poin kesimpulan. Pertama, para pemain ini menyadari terjadi telah terjadi permasalahan dalam persoalan ketanagakerjaan yang melibatkan beberapa pebasket dan klub. Kasus Dimaz merupakan salah satu dan menjadi pemicunya hingga muncul gerakan ini.

Kedua, minimnya perlindungan kepada pemain dalam pemasalahan ketanagakerjaan dianggap dapat berdampak kepada calon pemain yang ingin berkiprah di liga profesional basket Indonesia. Jika ini tidak segera diselesaikan, para pemain ini mengkhawatirkan minat anak-anak muda untuk bermain basket profesional akan menurun.

Ketiga, belum ada wadah saran asosiasi pemain resmi yang bisa membantu dalam karier mereka andai mengalami masalah. Selama ini pebasket Indonesia berada di bawah naungan Perbasi secara umum.

Keempat, karena setiap pemain basket berada di bawah naungan Perbasi, mereka berharap adanya bimbingan dan arahan dari Perbasi demi perbaikan nasib mereka. Terakhir, para pemain ini menegaskan, mereka bergerak semata-mata untuk berkontribusi terhadap kemajuan basket Indonesia, bukan dipengaruhi motif lain.

"Dari kesimpulan pertemuan itu, kami mengirimkan surat yang isinya memohon kepada Perbasi untuk membantu memfasilitasi permasalahan Dimaz dengan mantan klubnya. Kemudian, kami momohon untuk beraudiensi dengan pihak Perbasi membahas poin-poin kesimpulan dari pertemuan kami sebelumnya. Ketiga, kami para pemain dan mantan pemain sebagai mana dalam lampiran surat yang kami kirimkan ke Perbasi, bersepakat menjadi saluran wadah atlet basket nasional," kata Dodo.

Sejauh ini, kata Dodo, ada 100 pemain dan mantan pemain yang tergabung dalam gerakan Satu Bola, Satu Suara ini. Dodo berharap permasalahan Dimaz dengan CLS berakhir dengan cara terbaik dan cita-cita lebih besar dalam pembentukan asosiasi pemain basket demi perbaikan iklim perbolabasketan nasional bisa terwujud.

Mengenai kasus Dimaz, ia digugat ke pengadilan negeri Surabaya oleh pengurus CLS Knights karena dianggap wanprestasi. Sebab, setelah mengundurkan diri dari CLS pada 2015, Dimaz menyambut ajakan Louvre Surabaya bermain di kompetisi IBL 2020 yang terhenti di tengah jalan karena pandemi Covid-19.

Pihak CLS menuding Dimaz melanggar surat yang sudah ditandatangani pebasket asal Binjai, Sumatra Utara ini. Surat tersebut berisi pernyataan Dimaz harus membayar sejumlah uang jika ingin kembali bermain basket.

Di sisi lain, Dimaz menganggap surat yang ditandatanganinya itu sudah tidak berlaku lagi. Sebab, Dimaz sudah hampir lima tahun meninggalkan CLS.

Dalam pengakuan Dimaz, surat yang ia tanda tangani pada 2015 itu semata demi mendapatkan surat keluar dari CLS, bahwa kedua belah pihak sudah sama-sama sepakat menghentikan kontrak sebelumnya yang berdurasi sampai 2017. Karena menjadi pihak yang meminta pemutusan kontrak di tengah jalan, Dimaz mengaku sudah melaksanakan semua kewajibannya dalam butir kerja sama tersebut. Termasuk mengembalikan sejumlah uang kepada CLS.

Hanya, pihak CLS masih menyodorkan surat pernyataan lagi. Saat mau menandatangani surat pernyataan tambahan tersebut, kata Dimaz, pengurus CLS yang mendampinginya menyebutkan surat tersebut hanya untuk mencegah Dimaz bermain sampai 2017. Sebab ada kekhawatiran dari pihak klub Dimaz sengaja mundur karena ingin bermain di klub lain yang menawarkan gaji lebih tinggi.

Dimaz tidak pikir panjang untuk menandatangani surat tersebut. Sebab saat itu ia memang sudah mantap berhenti bermain basket profesional. Dalam surat terbukanya yang dikirimkan ke awak media akhir pekan lalu, Dimaz menyatakan saat itu hanya fokus pada keluarganya. Bisa lebih sering mendampingi istrinya yang pernah dua kali keguguranmerupakan salah alasan Dimazmemilih berhenti dari CLS dan menerima pekerjaan lain. Dimaz akhirnya memiliki anak laki-laki yang lahir pada 17 Mei dalam kondisi prematur, tapi sekarang sudah bertumbuh menjadi anak yang sehat.

Ia menegaskan, sama sekali tidak membayangkan, apalagi merencanakan kembali bermain basket profesional. Namun tiba-tiba datang tawaran dari Louvre pada pengujung 2019. Karena menilai istrinya sudah bisa ditinggal, Dimaz menyambut tawaran dari Louvre.

Dimaz baru menyadari dalam kesulitan setelah pihak CLS menghubunginya, memintanya membayar sejumlah uang sebesar hampir Rp 400 juta. Sebab dalam surat yang ditandatangani Dimaz tersebut, tidak dituliskan batas waktu kapan perjanjian itu mengikat, alias seumur hidup. Padahal lazimnya aturan di bola basket nasional, pemain yang sudah dua tahun mundur dari klub otomatis berstatus agen bebas dan bisa bermain lagi tanpa ada biaya transfer apa pun. Perselisihan inilah yang berujung gugatan perdata CLS kepada Dimaz yang sudah berjalan di Pengadilan Negeri Surabaya.

Artikel Asli