Kebangkitan Luar Biasa Italia

koran-jakarta.com | Olahraga | Published at 13/07/2021 03:10
Kebangkitan Luar Biasa Italia

LONDON - Italia menuntaskan penantian panjang selama setengah abad lamanya untuk merengkuh gelar Piala Eropa setelah di laga final Piala Eropa 2020 menang 3-2 atas Inggris melalui drama adu penalti di Wembley, London, Senin (12/7) dini hari WIB.

Setelah main imbang 1-1 di waktu normal dan dua babak tambahan waktu, Gianluigi Donnarumma mementahkan eksekusi penalti pemain muda Inggris, Bukayo Saka untuk memastikan kemenangan adu penalti 3-2 bagi Italia.

Kemenangan itu membuat Italia kini punya dua trofi Henri Delauney, piala yang diperebutkan dalam ajang ini setelah pertama kali juara pada 1968 silam. Italia kini selevel dengan Prancis yang pada 2000 meraih trofi Piala Eropa kedua mereka.

Kedua negara itu masih di bawah Jerman dan Spanyol yang sama-sama sudah tiga kali membuktikan diri sebagai tim terbaik di Eropa. Sementara Inggris, yang untuk pertama kalinya menjejaki final Piala Eropa, harus menunda jargon "It's Coming Home" terwujud menjadi kenyataan.

Bagi Italia, keberhasilan merengkuh gelar juara ini sekaligus menuntaskan perubahan haluan luar biasa bagi tim yang gagal lolos ke putaran final Piala Dunia 2018 itu.

Dalam adu penalti, Inggris berhasil menjaringkan dua penalti pertama, namun kemudian Marcus Rashford dan Jadon Sancho gagal menjaringkan bola. Jorginho memiliki kesempatan memastikan kemenangan bagi Italia. Namun, upayanya digagalkan Jordan Pickford. Itu memberikan harapan baru kepada Inggris.

Klimaks yang menegangkan tampaknya tidak mungkin terjadi mengingat cara pertandingan dimulai. Luke Shaw mencetak gol untuk Inggris saat laga baru berlangsung hanya satu menit 57 detik. Itu menjadi gol tercepat yang pernah tercipta di final Piala Eropa. Laga final juga mempertemukan dua tim yang tak terkalahkan pada 33 pertandingan.

Italia terguncang dan berupaya keras untuk bangkit. Mereka mendominasi penguasaan bola dan pantas menyamakan kedudukan di pertengahan babak kedua melalui Leonardo Bonucci.

Dengan tidak adanya gol yang tercipta lebih lanjut, ini adalah final Piala Eropa pertama yang diputuskan melalui adu penalti sejak 1976. Keputusan untuk membiarkan Saka yang berusia 19 tahun menjadi eksekutor dipertanyakan.

Hasil ini menjadi kekecewaan besar bagi Inggris karena kembali kalah lewat adu penalti. Sebelumnya, Inggris juga kalah adu penalti dari Italia di Piala Eropa 2012 serta di semifinal Piala Eropa 1996 melawan Jerman ketika Southgate gagal pada tendangan krusial.

"Kami menang dan kalah sebagai tim dan pengambil penalti adalah keputusan saya," ujar Southgate.

Hasil ini membuat penantian 55 tahun Inggris memenangkan gelar internasional besar lainnya terus berlanjut. Sebaliknya, paceklik setengah abad yang dialami Italia berakhir. Gli Azzurri telah memenangkan empat Piala Dunia tetapi satu-satunya kemenangan di Piala Eropa sebelum ini terjadi pada 1968. Mereka kalah pada dua final Piala Eropa dalam waktu kurang dari dua dekade.

Namun kali ini Italia menjadi tim yang luar biasa. Mereka mengalahkan dua favorit juara, Belgia dan Spanyol, dalam perjalanan ke final. "Kami telah mengatakan bahwa ada sesuatu yang ajaib sejak akhir Mei, hari demi hari," ujar kapten Italia, Giorgio Chiellini.

Tim asuhan Roberto Mancini sekarang akan kembali ke Roma untuk merayakan keberhasilan mereka menjadi jawara Eropa.

Puncak Karier

Kemenangan Italia juga menandai puncak karir bagi Mancini. "Kami senang karena benar-benar pantas mendapatkan ini setelah periode yang sulit. Ini adalah kegembiraan besar bagi kami," ujar Mancini.

Itu adalah trofi ke-14nya sebagai pelatih dan yang pertama bersama Italia setelah gagal sebagai pemain dengan tim nasional antara tahun 1984 hingga 1994.

Pada Mei 2018, dia mengambil alih tim dari Gian Piero Ventura, setelah Italia gagal lolos ke Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam 60 tahun.

Mancini telah melatih selama 17 tahun, memenangkan trofi bersama Fiorentina, Lazio, Inter, Manchester City, dan Galatasaray. ben/AFP/S-2

Artikel Asli