Produktivitas Melonjak 35,6, Cara Ini Bikin Panen Padi Tembus 9,49 Ton per Hektare

Produktivitas Melonjak 35,6, Cara Ini Bikin Panen Padi Tembus 9,49 Ton per Hektare

Ekonomi | okezone | Senin, 7 September 2026 - 13:08
share

JAKARTA — Penerapan pola pemupukan berimbang pada budidaya padi di sejumlah daerah menunjukkan hasil produksi hingga 9,49 ton per hektare. Pola tersebut mengombinasikan penggunaan pupuk konvensional dengan pupuk hayati cair.

Pengujian dilakukan melalui demplot budidaya padi seluas 15 hektare yang tersebar di tiga daerah, yakni Ciparay, Kabupaten Bandung, Jawa Barat; Desa Plosogaden, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah; serta Nogosari, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Masing-masing demplot memiliki luas 5 hektare.

Salah satu hasil panen diperoleh dari demplot Kelompok Tani Sumber Rezeki 4 di Blok Bojong, Desa Ciparay, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung. Dari lahan seluas 1,1 hektare, petani menghasilkan 10.444 kilogram atau 10,44 ton gabah, setara dengan produktivitas 9,49 ton per hektare.

Ketua Kelompok Tani Sumber Rezeki 4, Haji Anang, mengatakan produktivitas tersebut lebih tinggi dibandingkan hasil panen sebelumnya yang berada di kisaran 5-7 ton per hektare. Jika menggunakan produktivitas 7 ton per hektare sebagai pembanding, peningkatannya mencapai sekitar 35,6 persen.

"Hasil akhir perhitungan jumlah hasil panen dengan luas 1,1 hektare lahan di Blok Bojong diperoleh 10.444 kilogram (10,44 ton) atau 9,494 ton per hektare," ujar Anang.

Hasil tersebut juga lebih tinggi dibandingkan perkiraan hasil ubinan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bandung yang mencapai 8,67 ton per hektare. Pengamatan di lahan demplot mencatat rata-rata 55 anakan per rumpun dan sekitar 160 bulir per malai pada padi varietas Cakra Buana.

Di demplot Ciparay, pola pemupukan berimbang diterapkan dengan mengurangi penggunaan pupuk kimia hingga 50 persen dan menambahkan pupuk hayati cair Pureplant sebanyak 6 liter per hektare.

Anang mengatakan penerapan pola tersebut turut memberikan perubahan pada kondisi lahan dan pertumbuhan tanaman.

"Tanah sawah kami menjadi gembur, padi tumbuh subur, dan panen lebih cepat dibandingkan sawah lainnya," tuturnya.

Pengembangan demplot dilakukan Perkumpulan Insan Tani dan Nelayan Indonesia (Intani) bersama sejumlah pihak, termasuk Kementerian Pertanian dan mitra industri pertanian. Program tersebut ditujukan untuk menguji penerapan pola pemupukan berimbang dalam meningkatkan produktivitas dan efisiensi budidaya padi.

Anggota Komisi IV DPR RI Dadang Naseer mengatakan penerapan pola pemupukan berimbang dapat menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus mendukung ketahanan dan swasembada pangan.

Menurut Dadang, penerapan pola pemupukan perlu disesuaikan dengan kondisi lahan dan kebutuhan tanaman. Ia mendorong hasil pengujian melalui demplot dapat menjadi bahan evaluasi untuk pengembangan budidaya padi di wilayah lain.

Ketua Umum Intani Guntur Subagja Mahardika mengatakan pengembangan demplot merupakan bagian dari upaya mendorong praktik pertanian yang lebih efisien dan berkelanjutan. Menurut dia, penggunaan pupuk hayati dan pembenah tanah dapat menjadi salah satu pendekatan dalam memperbaiki kondisi lahan.

Sementara itu, demplot di Nogosari, Trirenggo, Bantul, saat ini memasuki masa menjelang panen. Tanaman padi di lokasi tersebut diperkirakan siap dipanen pada 15-20 September 2026.

Hasil dari sejumlah demplot tersebut selanjutnya dapat menjadi bahan evaluasi untuk melihat efektivitas pola pemupukan berimbang pada berbagai kondisi lahan dan wilayah.

Topik Menarik