Cucu Pendiri NU Sebut Sepak Bola Satukan Semua Perbedaan
JAKARTA- Katib Syuriyah PWNU DKI Jakarta, Kiai Lukman Hakim Hamid, menegaskan, sepak bola tidak sekadar olah raga favorit rakyat. Namun juga menjadi ajang silaturahmi diantara kiai-kiai muda pesantren, santri dan masyarakat, terutama di Jawa Timur.
“Ini bukan sekadar bola. Ini hiburan rakyat, ini silaturahim. Capek kan lihat berita-berita korupsi di tanah air hingga konflik saling serang di Timur Tengah," ujar Kiai Lukman, Minggu (19/7/2026).
Gus Lukman—panggilan akrabnya – menjelaskan, bagi pecinta bola, final Piala Dunia 2026 ini adalah puncak dari sebulan penuh drama, air mata, dan kejutan dunia seakan berhenti sejenak.
Bahkan para kandidat calon ketua umum PBNU yang bakal bertarung di Muktamar ke-35 NU, akhir Agustus nanti, semua bakal duduk bersama di depan layar yang sama, dengan harapan dan doa yang sama: semoga tim jagoannya menang.
“Sepak bola menyatukan bahasa, menyatukan doa, dan menyatukan sorak-sorai dari penjuru manapun sampai pesantren. Itu hebatnya bola. Tapi NU juga hebat lho. Kan simbol NU bola dunia, dan NU diperebutkan, sekaligus menyatukan,” tutup Gus Lukman.
Sementara itu, Pengasuh PP Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, Kiai Abdussalam Shohib alias Gus Salam sepakat dengan pernyataan Gus Salam yang menyebut sepak bola menyatukan semua perbedaan.
Cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Kiai Bisri Syansuri ini juga mengungkapkan prediksinya dalam filnal Piala Dunia 2026, antara Argentina vs Spanyol yang akan berlangung pada dini hari nanti.
“Ini pertarungan mental juara, Argentina melawan agresifitas Spanyol. Tim Tango punya mental juara dan berpengalaman di partai final,”ujarnya.
“Piala dunia sebelumnya, 2022, Argentina juara. Sekarang, ia berhadapan dengan Spanyol yang siap merebut juara dengan skuad muda yang agresif dan bermain cepat,” lanjutnya.
Menurut Gus Salam, di laga sekelas final, faktor teknis saja tidak cukup. Faktor keberuntungan akan sangat menentukan siapa yang keluar sebagai pemenang. Meski mayoritas penggemar sepak bola saat ini lebih memfavoritkan Spanyol karena materi pemain mudanya, keyakinan Gus Salam tidak goyah. Sejak 1986, ia konsisten mendukung Argentina.
Kisah Cinta Sutan Sjahrir dan Maria Mieske, Dipisahkan Penjara hingga Politik Kolonial Belanda
Lebih jauh, Gus Salam menyebut satu nama yang akan jadi pembeda di injury time: Lionel Messi. Baginya, magis Lionel Messi di menit-menit akhir masih bisa menentukan kemenangan.
“Insya Allah Argentina. Saya tetap menjagokan Argentina. Tidak berubah, apalagi berpindah ke lain hati. Prediksi saya, Argentina menang 3-1 atas Spanyol,” ucapnya.
Kandidat calon Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-35, ini mengaku mulai jatuh cinta dengan Timnas Argentina sejak Piala Dunia 1986 di Meksiko. Terutama saat sang legendaris Maradona dan kawan-kawan mengangkat trofi juara piala dunia untuk kedua kalinya.
“Dari 1986 sampai sekarang, saya tetap Argentina dan ini soal istiqomah. Viva Argentina,” tutup Gus Salam.










