RANS Buka Suara soal Rumor Pencucian Uang

RANS Buka Suara soal Rumor Pencucian Uang

Ekonomi | okezone | Jum'at, 10 Juli 2026 - 16:52
share

JAKARTA - PT RANS Entertainment Indonesia Tbk (RANS) buka suara soal rumor pencucian uang. RANS membantah rumor yang beredar di masyarakat bahwa perusahaan terkait dengan aktivitas pencucian uang usai resmi melakukan penawaran umum perdana saham (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada hari ini.

“Kalau masalah pencucian uang, itu mungkin lebih kepada rumor yang ada daripada fakta yang ada,” kata Komisaris Utama RANS Darwin Cyril Noerhadi di Jakarta, Jumat (10/7/2026).

Cyril menjelaskan bahwa seluruh proses IPO dijalankan sesuai ketentuan yang ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI).

Dia mengingatkan setiap emiten yang akan melantai di bursa harus melalui proses uji kelayakan yang ketat dengan dokumen dan jawaban atas berbagai pertanyaan regulator yang mencapai ratusan halaman.

Proses tersebut, jelas dia, mencakup tiga aspek utama, yakni keterbukaan dari sisi hukum, akuntansi dan informasi.

Dari aspek hukum, seluruh transaksi perusahaan harus didukung dokumen yang sah, termasuk dokumen notaris. Dari aspek akuntansi, perusahaan wajib membuka pembukuan dan sumber pencatatan keuangannya. Selain itu, emiten juga harus memenuhi seluruh ketentuan mengenai keterbukaan informasi kepada publik.

Selain itu, Cyril juga menjelaskan bukti kepercayaan investor terhadap perseroan. Menurutnya, hal tersebut tecermin ketika Emtek masuk sebagai investor pada 2021 dengan nilai investasi sekitar Rp248 miliar untuk mengakuisisi sekitar 17-18 persen saham perseroan.

Pada saat itu, ujar dia, valuasi RANS telah mencapai sekitar Rp1,3 triliun. Seiring perkembangan bisnis perseroan hingga saat ini, Cyril mencatat valuasi tersebut telah meningkat menjadi lebih dari Rp2 triliun.

“Makanya saya rasa IPO-nya RANS itu penting untuk menyampaikan apa yang terjadi di emiten ini secara fakta yang ada, mengikuti ketentuan baik dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI),” kata dia.

Cyril menambahkan bahwa perseroan juga berkomitmen memenuhi seluruh persyaratan yang berlaku, seiring reformasi pasar modal terkait peningkatan integritas pasar melalui keterbukaan informasi, ketentuan free float minimum 15 persen, serta pengungkapan kepemilikan saham di atas 1 persen.

“Jadi keterbukaan informasi dan jumlah saham yang diperdagangkan RANS lebih dari 20 persen, itu adalah diperdagangkan di bursa. Mengenai 1 persen itu jelas keterbukaan kita memenuhi ketentuan yang ada di bursa,” kata Cyril.

 

Sementara itu, sebagai underwriter, Trimegah Sekuritas Indonesia menilai valuasi RANS tidak dapat diukur semata-mata menggunakan indikator keuangan konvensional karena bisnis perseroan bertumpu pada kreativitas sebagai aset utama.

Direktur Trimegah Sekuritas Indonesia David Agus menjelaskan nilai perusahaan berawal dari kreativitas yang menghasilkan pengaruh (influence), kemudian membangun basis pengikut (followers), hingga akhirnya menciptakan peluang monetisasi.

Karena itu, pendekatan valuasi seperti price to earnings ratio (PER) maupun price to book value (PBV) dinilai tidak sepenuhnya mampu mencerminkan nilai ekonomi dari bisnis berbasis kreativitas.

“Jadi balik lagi pertanyaannya, apakah memang nilainya kreativitas, entrepreneurship, dan kemampuan influence dengan base follower yang ada dari Pak Raffi dan Mbak Nagita, dan ekosistemnya termasuk artis-artis yang lain, itu hanya nilainya Rp2,5 triliun (kapitalisasi pasar RANS) kan tidak bisa dijawab (hanya dengan angka),” kata David.

Dari sisi fundamental, David menilai komposisi pemegang saham menjadi salah satu indikator positif karena diisi investor yang memahami industri media.

Terkait risiko investasi, meski sebagian investor masih memandang ketergantungan terhadap figur pendiri sebagai risiko utama, David memandang bahwa kondisi bisnis perseroan saat ini menunjukkan kontribusi pendapatan maupun profitabilitas tidak lagi sepenuhnya bergantung pada kekayaan intelektual (IP) pribadi Raffi Ahmad maupun Nagita Slavina.

Diketahui, RANS resmi melangsungkan IPO dengan menghimpun dana senilai Rp429,25 miliar. Saham RANS dibuka sekaligus bertahan di level Rp228 per saham, meningkat 34,12 persen atau 58 poin dari harga IPO Rp170 per saham, sehingga langsung menyentuh batas auto reject atas (ARA).

Hingga pukul 14.23 WIB, volume transaksi mencapai 7,11 juta saham dengan nilai transaksi Rp1,62 miliar dalam 17.480 kali transaksi. Kenaikan tersebut mendorong kapitalisasi pasar perseroan menjadi sekitar Rp2,87 triliun.

Struktur kepemilikan saham RANS didominasi oleh Raffi Farid Ahmad dengan porsi 62,93 persen, diikuti publik 20,02 persen, PT Indonesia Entertainmen Grup 7,23 persen, Soultan Ariq Rachman 2,74 persen, Dony Oskaria 2,74 persen, Sutanto Hartono 1,14 persen, Nagita Slavina Mariana Tengker 0,99 persen, Kaesang Pangarep 0,91 persen, Hikmat Janika 0,68 persen dan PT Ekonomi Baru Investasi Teknologi 0,61 persen.

Topik Menarik