Bursa Calon Ketua Umum PBNU Memanas, Eks Ketum PMII Gus Hery Ikut Maju
JAKARTA – Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) Hery Haryanto Azumi alias Gus Hery akan maju sebagai calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Sejumlah tokoh penting juga dikabarkan akan maju.
Gus Hery pun bersilaturahmi ke Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur, KH. Fahim Royani alias Gus Fahim. Pertemuan ini menjadi bagian dari rangkaian silaturahim kebangsaan dan ke-NU-an menjelang pelaksanaan Kombes dan Musyawarah Nasional Ulama yang akan digelar di lingkungan Pondok Pesantren Al Falah Ploso.
"Saya senang sekali mendengar Gus Hery siap ikut dalam kontestasi Ketua Umum PBNU yang akan datang,”ujar Gus Fahim dikutip, Minggu (21/6/2026).
“Mulai sekarang, perbaiki niat. Niatkan semata-mata untuk berkhidmat kepada NU dengan ikhlas. Kalau niatnya lurus dan baik, Insya Allah ketika ada tantangan, hambatan, atau ujian di tengah jalan, Allah akan melapangkan jalan keluarnya. Sebab perjuangan yang dilandasi keikhlasan selalu mendapatkan pertolongan-Nya,"lanjutnya.
Ultimatum Komplotan Begal, Polisi: Pikir Ulang Beraksi di Jakarta, Banyak CCTV Pantau Pergerakan!
Pertemuan tersebut juga membahas berbagai tantangan yang dihadapi NU menjelang Muktamar ke-35, termasuk harapan besar warga nahdliyin terhadap lahirnya kepemimpinan baru yang mampu membawa organisasi memasuki abad kedua dengan lebih progresif dan berdaya saing.
Gus Fahim mengungkapkan bahwa selama ini dirinya sering merenungkan sosok yang tepat untuk memimpin PBNU pada periode mendatang. Menurutnya, NU membutuhkan figur yang tidak hanya berakar kuat dari tradisi pesantren, tetapi juga memiliki kemampuan memahami persoalan kebangsaan dan global secara komprehensif.
“NU membutuhkan pemimpin yang lahir dari tradisi santri, memahami pesantren, tetapi sekaligus mengerti politik, ekonomi, hubungan internasional, perkembangan teknologi, dan memiliki jejaring global yang kuat. Yang paling penting, semua itu diniatkan untuk kemajuan NU dan kemaslahatan nahdliyin,"ujar Gus Fahim.
Gus Fahim menggambarkan NU sebagai sebuah keyakinan yang harus dijaga dengan penuh kesungguhan oleh siapa pun yang dipercaya memimpin organisasi tersebut.
"NU itu bagi warga nahdliyin bukan sekadar organisasi, tetapi sudah menjadi bagian dari aqidah sosial dan tradisi perjuangan. Karena itu, siapa pun yang mengemban amanah memimpin NU harus memegangnya dengan keyakinan yang kuat, kesabaran yang panjang, ketulusan hati, serta kesiapan berkorban demi umat. Memimpin NU bukan soal jabatan, tetapi soal pengabdian,"tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Gus Fahim juga menilai kemunculan Gus Hery sebagai calon baru dalam kontestasi PBNU merupakan angin segar yang dibutuhkan organisasi.
"Kehadiran Gus Hery dalam kontestasi ini merupakan angin segar bagi NU. Kita membutuhkan pemimpin yang datang bukan membawa konflik, melainkan membawa semangat persatuan dan pengabdian,”ujarnya.
Gus Hery adalah kader yang relatif bebas dari konflik, memiliki kapasitas yang memadai, dan menunjukkan kesungguhan untuk berkhidmat. Saya melihat beliau memiliki bekal yang cukup untuk membawa NU memasuki abad kedua dengan lebih percaya diri dan berwibawa,"pungkasnya.
Sementara itu, Gus Hery mengaku langkah tersebut bukanlah keputusan yang lahir secara tiba-tiba. Ia menceritakan bahwa beberapa tahun silam dirinya pernah mendapatkan nasihat langsung dari dua dzuriyah pendiri NU, yakni Lily Wahid dan KH. Hasyim Wahid (Gus Iim).
"Saya masih ingat betul nasihat almarhumah Bu Lily Wahid dan Gus Iim beberapa tahun lalu. Mereka pernah berpesan kepada saya, 'Suatu saat kamu harus berkhidmat dengan sungguh-sungguh dan ikhlas untuk NU,"ujarnya.
"Jangan pernah berhitung soal untung-rugi ketika berjuang untuk jam'iyah ini.' Nasihat itu terus saya simpan dalam hati. Apa yang saya lakukan hari ini semata-mata sebagai ikhtiar menjalankan amanah moral tersebut dan menjawab panggilan untuk mengabdi kepada NU,"tutup Gus Hery.








