Trump Peringatkan Netanyahu: Anda Akan Sendirian jika Terus Serang Iran
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperingatkan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu bahwa Israel bisa “berperang sendirian” jika kembali terlibat konflik dengan Iran.
Hal itu dilontarkan pada Senin 8 Juni 2026 di tengah kesepakatan Israel dan Iran untuk menghentikan serangan, setelah eskalasi paling serius sejak gencatan senjata mulai berlaku pada April.
Trump, yang dilaporkan semakin jengkel dengan Netanyahu, mendesak kedua pihak menghentikan “penembakan” melalui unggahan di platform Truth Social miliknya. Ia juga menyebut bahwa “negosiasi akhir” menuju perdamaian akan terus berjalan, meski “ketidaktahuan atau kebodohan dapat menghalanginya”.
Menurut laporan media, Trump juga telah menelepon Netanyahu dan meminta agar serangan dihentikan. Dalam wawancara dengan Axios, Trump mengungkapkan bahwa ia telah memperingatkan Netanyahu terkait konsekuensi jika perang dilanjutkan.
“Saya bilang, 'Bibi, sebaiknya kamu berhati-hati, atau kamu akan segera sendirian'," kata Trump melansir Aljazeera, Selasa (9/6/2026).
Ketegangan meningkat pada Minggu 7 Juni, dipicu pemboman Israel ke ibu kota Lebanon, Beirut. Iran—yang selama ini menegaskan bahwa kesepakatan damai dengan AS juga bergantung pada penghentian konflik di Lebanon—kemudian merespons dengan gelombang rudal ke Israel utara.
Trump dilaporkan kembali menghubungi Netanyahu pada Minggu malam untuk meminta Israel tidak membalas. Namun, Israel tetap melancarkan serangan ke Iran pada Senin pagi.
Dalam aksi tersebut, Israel menyerang sistem pertahanan udara Iran dan sebuah pabrik petrokimia. Sebagai balasan, Iran menargetkan fasilitas di Haifa dan dua pangkalan udara Israel. Sejumlah rudal juga berhasil dicegat di atas Tepi Barat yang diduduki.
Pertukaran serangan ini semakin mempersulit upaya Trump untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung sejak 28 Februari. Gencatan senjata yang diumumkan pada 8 April sempat menghentikan perang besar, namun ketegangan di kawasan Teluk tetap berlanjut.
Netanyahu dalam pernyataan televisi mengatakan bahwa ia telah menyampaikan kepada Trump bahwa “Israel memiliki hak penuh untuk membela diri, dan kami sedang melaksanakannya sebagaimana mestinya”.
“Saat ini, api di garis depan sudah terkendali, karena setelah kami menyerang rezim teroris di Teheran, mereka berhenti menyerang kami,” katanya.
Netanyahu juga menegaskan bahwa jika Iran “melakukan kesalahan dengan melanjutkan serangan terhadap kami, kami akan merespons dengan kekuatan penuh”.
Duta Besar Israel untuk Washington, Yechiel Leiter, meredam laporan ketegangan antara kedua pemimpin tersebut dan mengatakan kepada Fox News bahwa “kadang-kadang, sepasang kekasih bertengkar”.
Ia menambahkan meski Netanyahu telah “memutuskan” untuk “menurunkan ketegangan” atas permintaan Trump, Presiden AS memahami bahwa Israel tidak dapat “menerima rudal balistik ke negara kami tanpa membalas”.
Dari pihak Iran, juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baghaei menyalahkan AS atas eskalasi yang terjadi. “Amerika Serikat bertanggung jawab langsung,” katanya.
“Mereka adalah pihak dalam negosiasi gencatan senjata. Oleh karena itu, setiap tindakan yang melanggar gencatan senjata, baik melalui pencegatan kapal [di Selat Hormuz], penargetan Lebanon selatan oleh Israel, atau peristiwa lainnya, akan menyebabkan Amerika Serikat bertanggung jawab langsung atas eskalasi di kawasan tersebut.”
Wakil Presiden Pertama Iran Mohammad Reza Aref menyebut operasi terhadap Israel yang diberi nama “Nasr” atau kemenangan, menunjukkan “tingkat pencegahan baru dari Iran yang perkasa” dan membuat Israel “terpaksa memohon sekali lagi” untuk gencatan senjata. Di sisi lain, upaya diplomasi masih terus berlangsung di balik layar.
Sementara Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan di platform X bahwa Teheran masih “berada di meja perundingan”. Sementara itu, Duta Besar Iran untuk PBB Amir Saeid Iravani mengatakan bahwa Iran dan AS, melalui Pakistan sebagai perantara, “menyampaikan dan bertukar pandangan” menuju kesepakatan.










