Ikuti Jejak Xavi Hernandez Jadi Pelatih, Andres Iniesta Segera Tangani Barcelona?
DUBAI — Legenda hidup Barcelona, Andres Iniesta, bersiap memulai petualangan baru di pinggir lapangan hijau. Pria berusia 42 tahun yang memutuskan gantung sepatu pada 2024 lalu tersebut dilaporkan bakal segera melakoni debutnya sebagai pelatih profesional.
Berdasarkan laporan pakar transfer Fabrizio Romano, pahlawan Timnas Spanyol di Piala Dunia 2010 ini akan mengambil alih kemudi Gulf United FC. Menariknya, Iniesta memilih pelabuhan yang jauh dari sorotan masif media, yakni sebuah klub kasta kedua di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), yang baru berdiri pada tahun 2019.
Langkah merangkak dari bawah ini dinilai sangat mirip dengan filosofi yang diambil oleh mantan rekan setimnya di Barcelona, Xavi Hernandez, saat pertama kali melatih klub Qatar, Al Sadd, sebelum akhirnya pulang ke Camp Nou.
1. Pilih Latih Gulf United FC
Pilihan Iniesta menetap di UEA bukan tanpa alasan, mengingat ia menghabiskan masa-masa akhir karier sepak bolanya bersama Emirates Club sebelum resmi pensiun pada 8 Oktober 2024. Kini, ia siap memimpin Gulf United FC yang memiliki ambisi besar untuk promosi ke kasta tertinggi UAE Pro League.
Klub berbasis di Dubai ini sendiri tidak asing dengan figur sepak bola Eropa; mereka saat ini diperkuat mantan gelandang Liga Inggris, Leroy Fer, serta sempat diarsiteki oleh Steven Taylor dan Neil Taylor.
Sebelum sepakat menakhodai Gulf United, nama Iniesta sebenarnya sempat santer dikaitkan dengan kursi kepelatihan tim nasional Maroko awal tahun ini untuk menggantikan Walid Regragui menjelang Piala Dunia 2026. Namun, proses negosiasi tersebut kandas di tengah jalan, dan posisi pelatih Singa Atlas akhirnya jatuh ke tangan Mohamed Ouahbi.
Bagi banyak pengamat, batalnya kesepakatan internasional tersebut justru menjadi berkah tersembunyi bagi Iniesta demi mematangkan visi bermainnya.
2. Impian Masa Depan di Camp Nou
Keputusan Iniesta melatih tim kasta kedua ini menegaskan profesi barunya bukanlah sekadar hobi masa pensiun demi eksistensi semata. Berbekal kualifikasi akademis dan lisensi kepelatihan yang telah ditempuhnya dengan serius, Iniesta sengaja mencari ruang yang jauh dari tekanan publik agar bisa belajar, beradaptasi, dan meramu strategi tanpa beban nama besar yang dipikulnya.
Sama seperti Xavi yang memanen enam trofi bersama Al Sadd sebagai modal penting sebelum menukangi Barcelona, Iniesta tampaknya sangat memahami bahwa kesabaran dan proses adalah kunci utama. Jika proyek besarnya di Dubai berjalan mulus, bukan hal yang mustahil di masa depan publik Catalan akan menyaksikan sang maestro kembali berdiri di pinggir lapanga Stadion Camp Nou sebagai pelatih utama Blaugrana.









