Mengapa Iran Dan Amerika Serikat Sulit Berdamai?
Penulis: Ridwan Al-Makassary, Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dan Direktur Center for the Study of Muslim Politics and World Society (COMPOSE)
PERANG klasik acap berakhir dengan kekalahan satu pihak secara nyata, seperti menyerahnya Jepang kepada Amerika Serikat (AS) dan sekutunya pada 15 Agustus 1945 (waktu Jepang), yang diumumkan langsung oleh Kaisar Hirohito setelah pengeboman Hiroshima dan Nagasaki. Sebaliknya, perang modern jarang berakhir dengan takluknya satu pihak. Ia lebih acap berhenti karena kelelahan, jeda, atau kebingungan. Karenanya, tidak ada garis yang tegas antara damai dan perang. Malahan, yang ada hanyalah pengurangan intensitas kekerasan, yang diberi nama diplomasi. Itulah yang kini tampak dalam perang Iran 2026. Dunia menyebutnya sebagai gencatan senjata. Tetapi, banyak tanda menunjukkan bahwa yang terjadi sesungguhnya adalah damai semu dengan perang kata-kata dan letusan rudal yang masih terjadi.
Setelah berminggu-minggu ketegangan merundung kawasan Teluk, dengan pelbagai serangan rudal, drone, dan juga ancaman terhadap jalur energi global di Selat Hormuz, Iran dikabarkan menyahuti proposal damai AS melalui Pakistan. Respons Iran itu tidak menolak, tetapi juga tidak menerima sepenuhnya. Iran, prinsipnya, menghendaki penghentian perang yang dibahas lebih dulu, sementara isu nuklir dan konsesi strategis lainnya ditunda ke tahap berikutnya. Amerika Serikat, di lain pihak, tentu menginginkan sebaliknya, yaitu penyelesaian keamanan harus sekaligus menyentuh sumber ancaman dan akar masalah jangka panjang.
Perbedaan itu tampaknya teknis, tetapi sesungguhnya sangat mendasar. Iran ingin menghentikan api lebih dulu, sedangkan AS ingin mematikan sumber bensinnya sekaligus. Ketika dua negara berunding bukan untuk menyelesaikan konflik, melainkan untuk mengatur ulang posisi tawar, maka negosiasi diplomatik berubah menjadi ruang jeda. Setiap proposal damai yang diajukan sebagai bagian dari diplomasi acap hanya perpanjangan dari kalkulasi militer di lapangan. Serangan berhenti bukan karena kepercayaan yang tumbuh, melainkan karena masing-masing pihak sedang membeli waktu dan menghitung biaya perang berikutnya.
Tekanan militer dan blokade AS atas pelabuhan-pelabuhan Iran memang nyata, sehingga Iran mencoba opsi lain untuk produksi minyaknya. Namun, Iran memiliki alasan kuat untuk memainkan strategi waktu, karena kemampuan bertahan Iran juga telah terbukti. Ia menyampaikan pesan politik bahwa Iran tidak mudah diintimidasi. Dengan tidak menyerah, Teheran menunjukkan kepada publik domestik dan sekutunya, termasuk ke yang utama AS: Republik Iran itu tidak mudah dipaksa tunduk dan takluk. Dalam politik Iran, bertahan kadang sama berharganya dengan menang.
Amerika Serikat pun berada dalam dilema, simalakama. Intervensi militer mungkin menunjukkan kekuatan militer mereka yang unggul, tetapi perang panjang di Timur Tengah terlalu mahal secara ekonomi dan politik. Harga minyak yang bergejolak, risiko terhadap pasukan dan aset regional, serta kelelahan publik terhadap perang luar negeri menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Washington membutuhkan hasil cepat, tetapi lawannya justru unggul dalam permainan kesabaran (resiliensi) dengan pertahanan yang kokoh. Maka keduanya bertemu di satu titik yang sama di mana kedua negara yang bertikai sama-sama belum siap damai secara penuh, namun sama-sama tidak ingin melakoni perang total.
Situasi seperti ini adalah berbahaya karena mudah disalahartikan sebagai stabilitas. Pasar mungkin akan tenang sesaat, dan juga jalur pelayaran mungkin dibuka sebagian. Pun, pernyataan resmi kedua negara mungkin terdengar optimistis. Namun, di bawah permukaan, ketegangan tetap hidup, dan kelompok proksi masih bersenjata. Juga, armada laut masih berjaga, sanksi ekonomi masih berlaku, dan juga kecurigaan tetap menjadi bahasa utama.
Sejarah Timur Tengah menunjukkan bahwa “perang yang beku” acap lebih berbahaya daripada perang terbuka. Ketika perang berlangsung secara terang-terangan, dunia tahu bahwa bahaya sedang terjadi. Tetapi ketika perang hanya berhenti sebentar, banyak pihak yang lengah. Investasi kembali masuk, diplomasi longgar, dan kewaspadaan menurun. Lalu, satu insiden kecil, seperti drone jatuh, tanker disita, roket meleset, cukup untuk menyalakan kembali api yang belum padam.
Selat Hormuz menjadi simbol paling jelas dari damai semu ini. Jalur sempit yang dilalui sebagian besar energi dunia itu tampaknya hanya wilayah geografis, tetapi sesungguhnya politis. Setiap kapal yang lewat membawa pesan strategis sehingga setiap patroli angkatan laut adalah bahasa tekanan. Dunia berharap Hormuz tetap terbuka, tetapi keterbukaannya kini bergantung pada keseimbangan rasa takut.
Bagi Indonesia dan negara berkembang yang lain, damai semu di kawasan Teluk bukan isu yang jauh. Kita memang tidak mengirim kapal perang ke sana, tetapi kita menerima tagihannya. Ketika harga minyak naik, maka subsidi membengkak. Ketika logistik terganggu, maka inflasi merayap. Ketika dolar menguat karena ketidakpastian global, maka nilai tukar tertekan. Pada akhirnya, rudal diluncurkan di kawasan Teluk, tetapi dampaknya terasa di meja makan.
Lalu apa jalan keluarnya? Damai sejati hanya mungkin lahir jika para pihak yang bertikai berani melampaui logika menang-kalah. Amerika Serikat harus menerima bahwa tekanan militer tidak selalu menghasilkan ketundukan politik. Sementara Iran harus menyadari bahwa strategi bertahan tanpa kompromi hanya memperpanjang penderitaan ekonomi dan isolasi negara dan warganya. Mediator seperti Pakistan perlu mendorong perundingan yang tidak sekadar menunda ledakan, tetapi mengurangi sumber ledakan itu sendiri.
Pungkasannya, perang tampak berhenti dengan gencatan senjata. Tetapi, tanpa perdamaian antara Iran dan Amerika Serikat yang utuh, perang hanyalah ditunda untuk meletus lagi secara lebih mematikan. Dan, Amerika kini terjebak dalam rawa perang yang diciptakan sendiri.










