Monas, Ruang Publik Bersejarah yang Ikut Bangun Jakarta
JAKARTA — Monumen Nasional (Monas) yang berdiri megah di pusat ibu kota ini dikenal sebagai simbol perjuangan bangsa. Selain itu, kawasan ini juga berfungsi sebagai ruang publik yang aktif dimanfaatkan untuk destinasi wisata, edukasi, sekaligus menjadi bagian dari ekosistem penerimaan daerah.
Tidak hanya sebagai monumen bersejarah, Monas juga menjadi ruang edukasi dan aktivitas publik. Di bagian bawah monumen terdapat Museum Sejarah Nasional yang menampilkan diorama perjalanan bangsa Indonesia, mulai dari kerajaan Nusantara hingga era modern. Adanya fasilitas ini memberikan pengalaman edukatif yang memperkaya pemahaman pengunjung tentang sejarah nasional.
Monas juga menjadi ruang publik yang inklusif. Kawasan ini kerap dimanfaatkan untuk kegiatan keluarga, olahraga, hingga acara kebudayaan. Dengan akses yang relatif terjangkau, Monas menjadi destinasi yang dapat dinikmati berbagai kalangan masyarakat.
Sebagai informasi, Monas pertama kali digagas oleh Presiden Soekarno pada 1954 untuk merepresentasikan semangat perjuangan rakyat Indonesia. Pembangunannya dimulai pada 17 Agustus 1961, bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Bahkan, dimensi bangunan ini mencerminkan tanggal proklamasi, 17 Agustus 1945.
Tinggi monumen ini mencapai 132 meter yang dilengkapi dengan lidah api berlapis emas di bagian puncaknya untuk melambangkan semangat perjuangan yang tak pernah padam. Dengan luas kawasan yang mencapai sekitar 80 hektare, menjadikan area Monas sebagai ruang terbuka yang terus relevan bagi generasi masa kini.
Berkontribusi bagi Pembangunan Kota
Sebagai destinasi wisata publik, Monas menerapkan retribusi yang menjadi bagian dari penerimaan daerah.
Kepala Pusat Data dan Informasi Pendapatan Bapenda Jakarta, Morris Danny menuturkan, penerimaan tersebut dikelola secara akuntabel oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan berkontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Dana yang diperoleh dari retribusi jasa usaha ini digunakan untuk mendukung pembiayaan layanan publik, pemeliharaan fasilitas umum, peningkatan infrastruktur, serta pengembangan destinasi wisata yang lebih representatif dan nyaman,” ujarnya.
Kunker ke Singkawang, Menko AHY Hadiri Perayaan Cap Go Meh hingga Cek Pembangunan Infrastruktur
Dengan demikian, setiap kunjungan ke Monas tidak hanya memberikan pengalaman sejarah dan edukasi, tetapi juga menjadi bentuk partisipasi dalam mendukung pembangunan kota.
Monas terus berdiri sebagai representasi kolaborasi antara warisan sejarah dan pembangunan masa kini. Keberadaannya mencerminkan bagaimana sebuah simbol nasional dapat tetap hidup dan relevan, tidak hanya sebagai pengingat masa lalu, tetapi juga sebagai bagian dari dinamika pembangunan kota modern.
Melalui pengelolaan yang berkelanjutan, Monas diharapkan tetap menjadi ruang publik yang inspiratif, edukatif, dan berkontribusi nyata untuk Jakarta yang lebih baik di masa kini dan mendatang.










