Netanyahu Perdana Muncul sejak Perang Iran, Ancam Bunuh Mojtaba Khamenei
JAKARTA - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, muncul ke publik untuk pertama kalinya sejak perang dengan Iran berlangsung pada 28 Februari 2026. Ia menyebut serangan Israel telah memberikan pukulan berat ke Iran.
1. Kemunculan Perdana Netanyahu
Kemunculan Netanyahu ini sekaligus menjawab isu dirinya tewas, sebagaimana dilaporkan kantor berita semi pemerintah Iran, Tasnim.
Melansir Al Jazeera, berbicara pada konferensi pers pada Kamis, Netanyahu mengatakan serangan Israel menewaskan ilmuwan nuklir Iran terkemuka dan menimbulkan kerusakan parah pada Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan pasukan Basij.
"Iran bukan lagi Iran yang sama," kata Netanyahu, mengklaim serangan yang diluncurkan pada 28 Februari telah mencegah Iran memindahkan proyek nuklir dan balistiknya ke bawah tanah.
Ditanya tentang pemimpin tertinggi Iran yang baru terpilih, Ayatollah Mojtaba Khamenei, dan pemimpin Hizbullah Naim Qassem, Netanyahu mengatakan dia tidak akan mengambil "asuransi jiwa" untuk kedua tokoh tersebut.
Soroti Harga Minyak Goreng Sering Mahal, Amran Bakal Sanksi Pengusaha yang Jual di Atas HET
"Saya tidak akan mengeluarkan polis asuransi jiwa untuk pemimpin organisasi teroris mana pun," katanya, melansir Reuters.
Ia mengatakan Khamenei adalah "boneka Garda Revolusi" yang tidak dapat tampil di depan umum setelah pemimpin tertinggi mengeluarkan pernyataan yang dibacakan di televisi pemerintah oleh seorang pembawa berita.
Menanggapi warga Iran yang turun ke jalan untuk memprotes pemerintah mereka, terakhir kali pada bulan Januari, Netanyahu mengatakan:
"Kami berdiri di sisi Anda."
"Tetapi pada akhirnya ini terserah Anda, ini ada di tangan Anda," katanya.
Pernyataannya menggemakan pernyataan sebelumnya dari Presiden AS Donald Trump, yang berulang kali menyerukan warga Iran untuk bangkit dan menggulingkan pemerintah mereka, dengan mengatakan "saat kebebasan mereka sudah dekat".
Perdana menteri Israel itu juga mengatakan perang dengan Iran telah memungkinkan negaranya untuk menjalin aliansi di kawasan tersebut.
"Ini tidak mungkin terjadi di masa lalu, tetapi sekarang kami melakukan yang terbaik," katanya.
Iran telah melancarkan serangan drone dan rudal ke negara-negara Teluk, memaksa beberapa terminal minyak untuk menghentikan operasi dan menghancurkan citra keamanan.
Iran membela serangannya di kawasan itu, dengan mengatakan bahwa mereka hanya berupaya menargetkan aset AS di sana, tetapi negara-negara tetangganya mengatakan serangan tersebut telah merusak kepercayaan untuk masa mendatang.
Dewan Keamanan PBB pada hari Rabu mengadopsi rancangan resolusi yang disponsori oleh Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) yang mengutuk serangan Iran terhadap negara-negara Teluk dan Yordania, menuntut agar Teheran segera menghentikan permusuhan.









