UMKM dan Pasar Kreatif Jadi Motor Pemulihan Ekonomi Aceh
JAKARTA – Upaya memulihkan ekonomi pasca-bencana di Aceh terus dilakukan melalui penguatan UMKM dan ekonomi kreatif. Pemerintah menghadirkan pasar kreatif di Banda Aceh yang memanfaatkan ruang strategis sebelumnya tidak produktif, menghadirkan bazar kuliner, kerajinan, serta program pendampingan UMKM untuk meningkatkan legalitas dan kapasitas usaha masyarakat.
Kegiatan ini juga mengintegrasikan layanan sosial, termasuk klinik kesehatan gratis dan bantuan pangan, sebagai bagian dari strategi memperkuat kemandirian ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara inklusif.
Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Pelindungan Pekerja Migran Kemenko PM, Leontinus Alpha Edison, menekankan bahwa aspek kemanusiaan merupakan bagian integral dari strategi pemberdayaan UMKM.
“Program ini bukan sekadar pusat transaksi ekonomi, melainkan wadah aksi kemanusiaan,” ujar Leontinus melalui keterangan tertulis, Selasa (10/3/2026).
Leontinus menambahkan, kegiatan ini juga berfungsi sebagai katalis untuk memperkuat UMKM dan ekonomi kreatif dengan memanfaatkan ruang strategis yang sebelumnya tidak produktif menjadi lokasi usaha dan kreatif berbiaya terjangkau.
Di Aceh, kegiatan ini dikemas dengan nuansa Ramadhan, menghadirkan bazar kuliner dan kerajinan, serta panggung talenta anak-anak untuk mengembangkan potensi generasi muda. Tersedia juga Klinik Kesehatan gratis yang memberikan pemeriksaan medis dasar, serta Klinik UMKM Bangkit yang berkolaborasi dengan pemerintah daerah untuk pendampingan legalitas usaha.
“Kami ingin menciptakan pengalaman yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan dan kesehatan masyarakat,” jelas Leontinus.
“Melalui sinergi solid antara pemerintah, swasta, dan komunitas, kami yakin kemandirian ekonomi yang bermartabat dapat terwujud,” tambahnya.
Selain itu, kegiatan ini juga mencakup penyaluran bantuan pangan siap saji bagi penyintas bencana banjir, serah terima 103 unit hunian sementara hasil kolaborasi dengan Rumah Zakat, serta distribusi 1.000 kitab kuning untuk pesantren di Aceh Utara dan Aceh Tamiang.









