Gapura Cinta Ikonik Italia Ambruk di Hari Valentine!
JAKARTA - “Lovers’ Arch”, formasi batuan alami yang selama berabad-abad menjadi simbol romantisme di pesisir Adriatik, runtuh ke laut bertepatan dengan akhir pekan Hari Valentine setelah badai dahsyat menerjang wilayah tersebut.
Dilansir dari newsweek, Rabu (18/2/2026). Lengkungan yang dikenal sebagai Sant'Andrea Faraglioni itu berada di lepas pantai Torre Sant’Andrea, kawasan Salento, Puglia. Berdiri megah di antara tebing batu kapur dan perairan biru kehijauan, lokasi ini lama menjadi destinasi pasangan untuk berciuman di bawah lengkungannya atau melamar dengan latar laut lepas.
Legenda setempat menyebut, siapa pun yang berciuman di bawah lengkungan tersebut akan ditakdirkan meraih cinta abadi. Namun, cuaca ekstrem dan ganasnya ombak akhirnya meruntuhkan struktur kalkarenit yang telah rapuh akibat erosi bertahun-tahun.
Menurut laporan AccuWeather, badai memperparah erosi pantai yang sudah berlangsung lama di sepanjang garis pantai Salento, hingga menyebabkan runtuhnya formasi batuan tersebut pada akhir pekan liburan.
Pejabat dari kotamadya Melendugno mengonfirmasi keruntuhan itu pada 16 Februari, dua hari setelah Hari Valentine. Gapura runtuh saat badai hebat melanda Italia selatan dan menghancurkan bangunan ikonik itu menjadi puing-puing.
Wali Kota Melendugno, Maurizio Cisternino, menyebut peristiwa tersebut sebagai kehilangan yang bukan hanya emosional, tetapi juga berdampak pada sektor ekonomi. Ia mengatakan keruntuhan itu menjadi “pukulan telak bagi citra Salento dan pariwisata.”
Lengkungan alami tersebut terbentuk selama berabad-abad oleh kikisan angin dan ombak yang memahat tebing batu kapur. Pada masa lalu, lokasi itu sempat dimanfaatkan sebagai titik pengawasan strategis untuk mendeteksi ancaman bajak laut. Memasuki akhir abad ke-18, tempat ini berubah menjadi destinasi romantis bagi para kekasih.
Dalam beberapa tahun terakhir, popularitasnya semakin meningkat berkat media sosial. Foto-foto yang viral di Instagram disebut turut mendongkrak jumlah wisatawan yang datang ke kawasan tersebut.
Kawasan Kota Tua Jakarta Jadi Destinasi Favorit Wisatawan Habiskan Libur Panjang Isra Miraj 2026
Kekhawatiran terkait erosi sebenarnya telah muncul sejak lama. Pada 2024, pemerintah daerah mengajukan hibah pelestarian senilai 4,5 juta dolar AS untuk mengatasi erosi pantai, namun permohonan tersebut tidak memperoleh pendanaan.
Cisternino pun merefleksikan peristiwa itu sebagai bagian dari siklus alam. “Alam telah merebut kembali lengkungan itu, sama seperti saat ia menciptakannya,” ujarnya. Ia menambahkan, perubahan kondisi alam kini terasa signifikan dibandingkan beberapa dekade lalu.
Bagi banyak orang, runtuhnya gapura ini menyimpan makna personal. Lorenzo Barlato, yang melamar istrinya di lokasi tersebut lebih dari 40 tahun lalu, menulis di Facebook bahwa kini yang tersisa hanyalah kenangan dan foto-foto indah dari “surga kecil” itu.
Reaksi emosional juga membanjiri media sosial. Seorang pengguna Instagram berkomentar, “Bumi Ibu sedang menderita patah hati.” Ada pula yang menyebutnya sebagai “pertanda,” meski tanpa tahu pasti maknanya.
Keruntuhan ini terjadi di tengah rangkaian badai yang melanda Italia selatan dalam beberapa pekan terakhir. Bahwa suhu laut yang lebih hangat akibat perubahan iklim diduga turut berkontribusi terhadap meningkatnya cuaca ekstrem di kawasan Mediterania.
Sebelumnya, gapura tersebut telah mengalami kerusakan akibat Topan Harry pada Januari, sebelum badai di akhir pekan Hari Valentine menjadi pukulan terakhir.
Pemerintah setempat menyatakan sisa-sisa formasi batuan itu akan dibiarkan hanyut di laut. Anggota dewan pariwisata Puglia, Francesco Stella, menggambarkan momen tersebut “seperti pemakaman”, mengingat lokasi itu telah menjadi salah satu tempat paling membahagiakan bagi generasi demi generasi pengunjung.

