Danantara Bentuk BUMN Tekstil, Kadin Minta Impor Bahan Baku Dikurangi

Danantara Bentuk BUMN Tekstil, Kadin Minta Impor Bahan Baku Dikurangi

Ekonomi | okezone | Rabu, 21 Januari 2026 - 14:26
share

JAKARTA - Pemerintahan Prabowo Subianto akan membentuk BUMN tekstil di bawah Danantara untuk menangani masalah tekstil dan garmen di Tanah Air. Langkah ini diambil sebagai respons atas berbagai permasalahan yang terjadi di sektor tekstil, termasuk kasus yang menimpa PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex).

Menanggapi hal ini, Wakil Ketua Umum (WKU) Bidang Perindustrian Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Saleh Husin menilai, pembentukan BUMN tekstil dapat membantu memperkuat industri nasional jika diarahkan untuk memperbaiki masalah mendasar yang selama ini membuat industri tekstil tertekan.

"Salah satu masalah utama adalah banjirnya impor, baik yang legal maupun ilegal, yang membuat produk dalam negeri kalah harga," kata Saleh di Jakarta, Rabu (21/1/2026).

Menurut Saleh, dengan skala besar dan dukungan negara, BUMN tekstil bisa menjadi penopang produksi dalam negeri, menjaga pasokan bahan baku lokal, dan menekan biaya produksi melalui efisiensi energi dan teknologi.

Tidak hanya itu, BUMN tekstil dapat menjadi contoh penerapan mesin modern, penggunaan energi yang lebih murah dan ramah lingkungan, serta sistem kerja yang lebih produktif. 

"Jika ini berhasil, maka industri tekstil tidak lagi dipandang sebagai sunset industry, tetapi sebagai industri yang berubah bentuk, tidak lagi hanya mengandalkan upah tenaga kerja murah, melainkan efisiensi, kualitas, dan kepastian pasar domestik," katanya.

Dirinya berharap berharap agar investasi yang digelontorkan pemerintah senilai USD6 miliar atau setara Rp101 triliun difokuskan pada bagian hulu dan intermediate rantai industri tekstil, seperti produksi serat sintetis, benang, dan kain. 
"Selama ini, banyak pabrik garmen bergantung pada bahan baku impor karena pasokan dalam negeri terbatas atau mahal. Akibatnya, ketika impor dibanjiri produk murah, industri lokal semakin tertekan," ujarnya.

 

Selain itu, lanjut Saleh mengatakan, investasi pada mesin modern dan tekstil khusus, misalnya untuk kebutuhan kesehatan, otomotif, atau bahan industri, lebih menjanjikan dibandingkan hanya memproduksi pakaian jadi massal. Segmen ini tidak terlalu sensitif terhadap harga murah dari impor ilegal dan lebih menekankan kualitas serta spesifikasi. 

"Dengan arah ini, industri tekstil bisa keluar dari citra sunset industry yang identik dengan persaingan harga murah dan margin tipis," ungkap Saleh.

Menurutnya, keberhasilan BUMN tekstil tidak semata-mata diukur dari untung besar dalam waktu singkat. Indikator yang lebih realistis antara lain: berkurangnya impor bahan baku tekstil, meningkatnya penggunaan produk tekstil dalam negeri, serta naiknya produktivitas tenaga kerja karena mesin yang lebih modern dan pelatihan yang lebih baik.

Indikator lain yang tidak kalah pentingnya adalah biaya energi yang lebih terkendali dan berkelanjutan, sehingga pabrik tidak lagi kalah bersaing hanya karena listrik atau gas mahal. 

Jika BUMN tekstil juga mampu menjadi penopang bagi IKM, misalnya dengan menyediakan bahan baku yang stabil dan berkualitas, maka perannya akan terasa nyata bagi industri nasional. 

"Dalam konteks ini, keberhasilan berarti industri tekstil tidak mati, tetapi bertransformasi menjadi lebih efisien, modern, dan tahan terhadap guncangan impor dan tekanan global," tukasnya.

Topik Menarik