Adu Kisaran Gaji Pevoli Proliga dengan Liga Voli Korea, bak Bumi dan Langit?
ADU kisaran gaji pevoli Proliga Indonesia dengan Liga Voli Korea Selatan menarik untuk dibahas. Sebab ada anggapan gaji pevoli dari kedua kompetisi itu bak bumi dan langit.
Dunia voli Indonesia tengah berada dalam masa keemasan, baik dari segi prestasi maupun popularitas. Hal ini pun memicu rasa penasaran para penggemar mengenai kesejahteraan para atletnya.
Banyak yang bertanya-tanya, apakah berkarier di luar negeri seperti Megawati Hangestri di Korea Selatan beberapa tahun lalu jauh lebih menguntungkan secara finansial dibandingkan bermain di kompetisi domestik, Proliga?
1. Gaji Pevoli Proliga
Meskipun durasi kompetisi Proliga tergolong singkat, hanya sekira 3 hingga 4 bulan, ternyata nilai kontrak yang ditawarkan sangat menggiurkan. Pevoli papan atas Indonesia, Rivan Nurmulki, memberikan gambaran bahwa gaji pemain bintang bisa menembus angka miliaran rupiah dalam satu musim.
Kisah Sukses Rendy Varera Raih Medali Emas dan Perak SEA Games 2025, Berkat Dukungan sang Istri
Jika dirata-rata dengan masa persiapan tim yang totalnya sekira 6 bulan, seorang pemain elite bisa mengantongi gaji sekitar Rp200 juta per bulan. Angka ini belum termasuk bonus-bonus kemenangan di setiap putaran hingga bonus juara. Estimasi total pendapatan per musim untuk pemain level Timnas Voli Indonesia bisa mencapai lebih dari Rp1 miliar.
Bahkan bagi pemain berlabel bintang lainnya seperti Yolla Yuliana yang kini bermain di Jakarta Livin Mandiri, atau para pemain papan atas lainnya, kisaran gaji bulanan di klub besar Indonesia umumnya berada di angka Rp75 juta hingga Rp125 juta. Jika melihat nilai per bulan ini, Proliga justru seringkali lebih menguntungkan dibandingkan liga luar negeri karena durasi kerjanya yang jauh lebih pendek.
2. Gaji Pevoli Liga Voli Korea
Di sisi lain, Liga Voli Korea (V-League) menawarkan stabilitas pendapatan melalui durasi kompetisi yang lebih lama, yakni sekira 9 bulan. Sebagai gambaran, Megawati Hangestri pada musim debutnya di Red Sparks menerima gaji sebesar 100 ribu USD atau sekira Rp1,5 miliar per musim. Jika dibagi 9 bulan, gaji bulanannya berkisar di angka Rp160 jutaan.
Namun, regulasi baru KOVO memberikan kenaikan signifikan bagi pemain asing Asia yang bertahan di musim kedua, di mana gaji bisa melonjak hingga Rp2,3 miliar hingga Rp2,4 miliar per musim (Rp266 juta per bulan).
Sebagai tambahan perbandingan internasional, Yolla Yuliana saat memperkuat Tokyo Sunbeams di Jepang dilaporkan menerima gaji sekira Rp1,5 miliar per musim atau Rp125 juta per bulan.
Kesimpulannya, meski total nilai kontrak di Liga Korea terlihat lebih besar, Proliga menawarkan efisiensi pendapatan yang sangat tinggi mengingat singkatnya waktu kompetisi. Namun, bagi pemain, bermain di luar negeri bukan sekadar soal materi, melainkan juga peningkatan level permainan dan karier di kancah internasional.










