Drama China Makin Populer, Tema CEO Menikahi si Miskin Jadi Sorotan

Drama China Makin Populer, Tema CEO Menikahi si Miskin Jadi Sorotan

Gaya Hidup | okezone | Minggu, 11 Januari 2026 - 10:02
share

JAKARTA - Fenomena drama China kian diminati. Tema CEO menikah dengan perempuan miskin pun menjadi daya tarik tersendiri, meski kini disebut-sebut dilarang oleh pemerintah China.

Mengomentari hal tersebut, Prof. Rhenald Kasali menilai bahwa dari sisi cerita, drama China menawarkan kisah yang ringan dan mudah dicerna. Tema-temanya pun dibuat sensasional dan dekat dengan fantasi keseharian penonton.

Mulai dari cerita orang miskin yang ternyata seorang CEO, CEO kaya raya yang menikahi wanita miskin tetapi baik hati, ayah sederhana yang ternyata direktur utama, hingga kisah pernikahan mendadak dengan bos besar.

“Judul-judulnya juga dibuat sangat menggoda, seperti Suamiku Ternyata CEO, Menikah Lagi dengan Ketua Direksi, atau Satpam yang Ternyata Raja CEO,” kata Guru Besar Universitas Indonesia (UI) tersebut, dikutip dari akun Instagram-nya, Minggu (11/1/2025).

Menurutnya, judul-judul semacam ini terbukti ampuh menyedot perhatian di tengah persaingan konten yang sangat padat.

Tak hanya itu, teknologi kecerdasan buatan (AI) juga memungkinkan drama-drama ini dengan mudah diadaptasi ke berbagai negara. Proses sulih suara dapat dilakukan menggunakan suara lokal, bahkan nama tokoh pun disesuaikan dengan budaya setempat. Nama yang terdengar asing bisa diganti menjadi nama lokal. Hal ini membuat penonton merasa lebih dekat.

Kalahkan Disney

Drama China atau dracin kini tak lagi sekadar hiburan, tetapi telah menjelma menjadi mesin ekonomi raksasa yang mengubah cara masyarakat mengonsumsi tontonan. Industri drama China berhasil membaca selera penonton melalui pemanfaatan data dan kecerdasan buatan, sekaligus menciptakan model bisnis baru yang sangat menguntungkan.

Prof Rhenald Kasali mengungkapkan bahwa banyak orang saat ini rela mengeluarkan uang sekitar Rp80 ribu hingga Rp150 ribu per minggu hanya untuk menonton drama pendek berformat episode singkat. Jika dikalkulasikan, angka tersebut dapat membengkak cukup besar dalam sebulan.

 

“Tidak mengherankan jika pendapatan industri drama di China sudah mencapai sekitar Rp156 triliun. Angka ini bahkan mengalahkan pendapatan bioskop di Amerika Serikat dan Kanada,” ujarnya.

Dia menambahkan, pada 2025 pendapatan industri ini bahkan diperkirakan bisa melampaui Disney dengan selisih hingga Rp100 triliun.

Menurut Rhenald, kesuksesan drama China tidak lepas dari kemampuan mereka membaca perilaku penonton. Dengan bantuan kecerdasan buatan, produsen konten memahami bahwa rentang perhatian masyarakat kini semakin pendek. Alhasil, drama dibuat dalam episode berdurasi sangat singkat, sekitar lima menit, dan disajikan secara bersambung.

“Kalau ingin tahu kelanjutan ceritanya, penonton harus membayar. Ini cara baru mencari uang,” jelasnya.

Penciptaan Budaya Baru

Format video vertikal yang mudah diakses melalui ponsel juga menjadi kunci penyebaran cepat drama China ke berbagai belahan dunia. Rhenald pun mempertanyakan apakah fenomena ini akan mengubah pola konsumsi masyarakat Indonesia, seperti halnya gelombang budaya Korea yang sebelumnya memengaruhi gaya hidup hingga produk makanan.

“Budaya itu bisa mengubah kehidupan. Pertanyaannya, apakah kita siap dengan gelombang produk dan budaya China yang semakin menguat?” tutupnya.

Topik Menarik