Scroll, Klik, Terpikat: Drama Pendek China Diam-Diam Menantang Hollywood dan Drakor

Scroll, Klik, Terpikat: Drama Pendek China Diam-Diam Menantang Hollywood dan Drakor

Seleb | okezone | Selasa, 6 Januari 2026 - 15:33
share

Cuma berdurasi lima hingga enam menit perepisode, tapi dampaknya mulai terasa ke mana-mana. Drama pendek China kini diam‑diam jadi fenomena global yang mulai menantang dominasi Hollywood dan drama Korea Selatan (Drakor) di jagat hiburan dunia. 

Lewat ponsel dan platform digital, episode super singkat ini tidak hanya membuat ketagihan, tapi juga membawa strategi budaya baru China demi pengaruh global yang lebih luas. Pertanyaannya: Apakah format mini ini bisa menggoyang hegemoni budaya Amerika dan Korea yang sudah bertahun‑tahun merajai?

Kenapa Drama Pendek China Meledak?

Drama pendek China, yang sering disebut short drama, adalah drama dengan episode sangat singkat. Biasanya, iklan drama pendek China muncul di reels media sosial kita dengan durasi hanya 30 detik sampai 5 menit. 

Ceritanya cepat, langsung masuk konflik, dan sering berakhir menggantung supaya penonton penasaran dan ingin menonton episode berikutnya.

Drama ini dibuat khusus untuk ditonton di ponsel dengan layar vertikal (ratio 9:16). Karena itu, sangat cocok untuk kebiasaan scrolling di aplikasi seperti Douyin (TikTok versi China), Snack Video, iQIYI, WeTV, Dramabox, dan Tencent Video.

Short drama jadi hiburan favorit karena bisa ditonton di sela-sela aktivitas, misalnya saat istirahat atau dalam perjalanan. Format ini berkembang cepat karena kebiasaan menonton orang sudah berubah, dari layar besar ke layar ponsel, hampir setiap hari hingga tahun 2025.

Sudut Pandang dari Teori Gramsci: Hegemoni Budaya dan Drama Pendek

Untuk mengerti kenapa drama pendek China punya arti lebih dari sekadar tontonan, kita bisa pakai teori hegemoni dari Antonio Gramsci. Gramsci bilang, dominasi budaya itu bukan hanya soal kekuasaan politik, tapi juga tentang bagaimana nilai dan ide tertentu diterima sebagai hal yang dikatakan “normal” oleh banyak orang.

Contohnya, Hollywood sudah lama menyebarkan nilai-nilai Barat seperti kebebasan individu, cerita pahlawan super, dan gaya hidup Amerika lewat film dan serialnya. Korea Selatan lewat drama Korea juga menyebarkan gaya hidup dan cerita cinta ala oppa Korea ke seluruh dunia. 

Ini semua bentuk hegemoni budaya, di mana banyak orang di berbagai negara ikut setuju tanpa sadar bahwa hiburan dari mereka itu adalah yang “paling keren” atau “paling modern”.

Dalam situasi ini, drama pendek China mencoba jadi counter hegemoni, artinya menawarkan cerita yang berbeda. Ceritanya tetap menyentuh, seru, plot cepat, dan memberikan cara baru orang menonton lewat ponsel. Drama yang sangat singkat ini tidak memaksa nilai tertentu, tapi membuat orang setuju lewat hiburan yang cepat, mudah ditonton, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Kebiasaan Nonton yang Berubah dan Potensi Hegemoni Baru

Perubahan cara menonton jadi alasan utama kenapa drama pendek China bisa sangat populer. Generasi baru penonton di seluruh dunia sekarang lebih sering menonton lewat ponsel saat istirahat kerja, menunggu kendaraan, atau saat santai malam hari. Karena durasinya singkat dan langsung ke cerita utama, format ini cocok dengan waktu perhatian orang yang makin pendek.

Karena itu, penonton bisa mengenal cerita, tokoh, dan nilai dari konten China tanpa dipaksa, tapi lewat kebiasaan menonton sehari-hari. Gramsci mengatakan hegemoni terjadi saat ide tertentu terasa biasa atau wajar bagi banyak orang dan drama pendek ini sedang membuat hiburan yang cocok dengan kehidupan mereka.

Betapa Besarnya Nilai Pasar Drama Pendek China di 2025

Industri drama pendek China bukan sekadar tren kecil. Saat ini, bisnis ini sudah sangat besar dan bernilai miliaran dolar. Laporan Media Partners Asia (MPA) memperkirakan bahwa nilai pasar micro drama China mencapai sekitar USD 9,4 miliar (sekitar Rp156 triliun) pada tahun 2025. Jumlah ini naik tajam dibandingkan 2023 yang hanya USD5,1 miliar dan 2024 yang USD6,9 miliar.

Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa cara orang menonton yang berubah, terutama lewat ponsel, berdampak besar pada ekonomi konten di China. Laporan MPA juga memproyeksikan nilai pasar drama pendek ini bisa terus naik sampai  USD16,2 miliar (Rp270,5 triliun) pada tahun 2030.

Pendapatan Drama Pendek China di Luar Negeri: Nyaris USD 1,5 Miliar

Menariknya, penyebaran drama pendek China juga tidak cuma terjadi di dalam negeri. Data terbaru Yicai Global menunjukkan bahwa dari Januari sampai Agustus 2025, pendapatan drama pendek China dari pasar luar negeri hampir mencapai USD1,5 miliar, hampir tiga kali lipat dibandingkan periode sebelumnya. 

Angka tersebut menunjukkan bahwa drama pendek China berhasil menarik penonton global, bukan hanya di Asia Tenggara tetapi juga di berbagai wilayah lain. Hal ini membuat drama pendek China menjadi salah satu bentuk soft power budaya baru yang serius karena tidak hanya populer, tapi juga menghasilkan pendapatan besar di luar negeri.

Siapa yang Mendominasi Platform?

Bukan hanya soal pendapatan yang besar, dominasi pengembang aplikasi (developer) China di pasar drama pendek global juga sangat kuat. Data dari Econo Scope menunjukkan bahwa dari 50 aplikasi short drama dengan pendapatan tertinggi di dunia, lebih dari 80 dikembangkan oleh perusahaan China. Ini berarti China tidak hanya memproduksi konten, tetapi juga menguasai sebagian besar platform distribusi drama pendek di seluruh dunia. 

Film Hollywood & Drakor Korea: Anehnya Ikut Terpengaruh

Meski Hollywood dan Korea Selatan masih tetap besar di dunia hiburan, tren konten drama pendek mulai menarik perhatian mereka juga. Beberapa studio di Amerika Serikat (AS) sekarang mulai mencoba format drama pendek dan investasi pada startup drama pendek di AS meningkat signifikan. 

Menurut data platform bernama GammaTime berhasil mengumpulkan USD 14 juta (Rp233,8 miliar ) dari investor besar termasuk beberapa nama Hollywood untuk membuat konten drama pendek khusus untuk penonton AS.  Sedangkan di Korea Selatan (Korsel) penikmat drama pendek menggunakan platform Dramabox dan Vigloo. Ini menunjukkan bahwa format yang awalnya populer di China tidak hanya menantang dominasi hiburan dari Hollywood dan Korsel, tapi juga mempengaruhi industri hiburan global. 

Kritik dan Tantangan untuk Drama Pendek China

Tidak semua orang setuju kalau fenomena drama pendek China berjalan mulus. Kritikan muncul karena ceritanya sering terlalu mudah ditebak, terlalu fokus pada cerita yang berhenti di momen tegang, karakter kurang berkembang, atau cerita terlalu cepat tanpa memberi ruang bagi emosi penonton. 

Selain itu, regulasi di China yang mengatur konten supaya sesuai nilai sosial tertentu juga jadi tantangan karena bisa membatasi kreativitas kreator. Tapi, kritik ini justru menunjukkan kalau industri ini sedang proses belajar dan bereksperimen untuk menjadi lebih matang.

Dampak Budaya: Norma Baru dalam Hiburan Global

Drama pendek China itu tidak cuma soal angka view atau teknologi yang keren, tapi juga soal gimana budaya mereka mulai masuk ke cara kita berpikir. Kalau penonton internasional udah mulai biasa sama gaya cerita, tema, dan nilai-nilai seperti kesetiaan keluarga, kerja keras bersama, atau hidup rukun, itu artinya kita lagi belajar cara baru buat “membaca” cerita, bukan cuma buat hiburan saja. 

Jadi, lama-lama konten ini bisa jadi semacam medium buat menyebarkan ide-ide budaya yang bisa ngaruh ke cara kita berpikir, seringnya tanpa kita sadar.

Lebih dari Sekadar Tren, Ini Perebutan Pengaruh Budaya

Secara garis besar, drama pendek China tidak cuma populer karena durasi singkatnya. Ini adalah fenomena besar yang menggabungkan teknologi digital, perubahan kebiasaan nonton, strategi bisnis, dan narasi budaya dalam satu pak paket. 

Dengan pendapatan yang terus naik, ekspansi ke pasar global, dan dominasi platform oleh developer China, format ini punya potensi buat ngubah dominasi budaya di dunia.  Kalau pakai teori Gramsci, drama pendek China bisa dilihat sebagai contoh nyata gimana budaya populer bisa jadi alat hegemoni baru, bersaing sama Hollywood dan K drama yang udah lama terkenal.

Penulis: Ginta Febryana Ramadhani
Mahasiswi Magister Ilmu Komunikasi
Universitas Bakrie

Topik Menarik