Produksi Beras RI Tertinggi di ASEAN, Stok Cadangan Tembus Rekor 3,5 Juta Ton
JAKARTA – Indonesia mencatat tonggak sejarah ketahanan pangan nasional dengan stok cadangan beras pemerintah yang berhasil menembus angka 3,5 juta ton, tertinggi dalam 57 tahun terakhir.
Tak hanya itu, Indonesia juga mencatatkan diri sebagai negara dengan produksi beras tertinggi di kawasan Asia Tenggara (ASEAN), melampaui Vietnam dan Thailand yang selama ini dikenal sebagai raksasa produksi dan ekspor beras di wilayah tersebut.
Berdasarkan laporan Rice Outlook edisi April 2025 dari Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), produksi beras Indonesia pada musim tanam 2024/2025 diperkirakan mencapai 34,6 juta ton (beras giling). Angka ini menjadikan Indonesia sebagai produsen beras terbesar di ASEAN, melampaui Vietnam dan Thailand yang selama ini mendominasi produksi dan ekspor di kawasan.
Sebagai perbandingan, berikut data produksi beras negara-negara ASEAN (dalam juta ton, hasil gilingan) menurut laporan USDA:
- Indonesia: 34,6 juta ton
- Vietnam: 26,5 juta ton
- Thailand: 20,1 juta ton
- Filipina: 12 juta ton
- Kamboja: 7,3 juta ton
- Laos: 1,8 juta ton
- Malaysia: 1,7 juta ton
Produksi Indonesia mengalami peningkatan signifikan sebesar 600 ribu ton dibandingkan proyeksi sebelumnya. Jika dibandingkan dengan musim tanam tahun lalu yang mencapai 33,03 juta ton, angka tahun ini menunjukkan kenaikan sebesar 4,8.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa stok cadangan beras pemerintah per 4 Mei 2025 mencapai 3,5 juta ton. “Ini pertama kalinya dalam 57 tahun terakhir stok cadangan beras pemerintah menembus lebih dari 3,5 juta ton dalam periode Januari hingga Mei,” ujar Mentan Amran di Jakarta.
Lonjakan stok ini terjadi tanpa adanya impor beras medium, menunjukkan keberhasilan program intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian yang dijalankan pemerintah. Dari hanya 1,7 juta ton pada Januari 2025, stok cadangan melonjak drastis menjadi 3,5 juta ton per 4 Mei 2025, atau meningkat 1,8 juta ton tanpa impor dalam empat bulan (Jan–Mei 2025).
Seluruh beras yang diserap Bulog merupakan hasil produksi petani lokal. Angka serapan ini melampaui rata-rata serapan tahunan Bulog selama 57 tahun, bahkan mendorong kebutuhan penyewaan tambahan gudang berkapasitas 1,1 juta ton.
Mentan Amran menegaskan bahwa pencapaian ini merupakan bukti nyata dari sinergi antara kebijakan yang tepat dan semangat para pelaku sektor pertanian.
“Kita patut bersyukur dan bangga. Saat negara lain menghadapi krisis pangan, Indonesia justru surplus beras tanpa impor. Ini bukti komitmen pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional, meningkatkan kesejahteraan petani, dan membangun fondasi pertanian yang berkelanjutan,” tutupnya.






