Cerita Mengurus Jenazah Pekerja Migran di Yunani, Biaya Pemakaman Muslim Sama dengan Ongkos Pemulangan
YUNANI - Bagi banyak perantau asal Indonesia, bekerja atau menetap di negara asing adalah bagian dari kehidupan. Namun ketika ajal menjemput di negeri orang, terutama di negara dengan mayoritas penduduk nonmuslim, berbagai tantangan muncul dalam proses pengurusannya.
Begitulah yang dialami masyarakat Indonesia di Yunani. Pada Selasa 11 Maret 2025, pagi, Ketua Rohis Ikatan Kerukunan Keluarga Indonesia di Yunani (IKKIY), Hening, mendapat kabar salah seorang pekerja migran wafat di salah satu rumah sakit di Kota Athena akibat penyakit asma
Hening mengatakan saat itu jenazah masih berada di rumah sakit. “Jenazah masih berada di rumah sakit dan belum bisa dimandikan, karena menunggu informasi dari Masjid Bangladesh yang saat ini sedang direnovasi,” ujarnya seperti dikutip, Senin (18/3/2025).
Masjid yang bisa digunakan oleh komunitas muslim asing untuk pengurusan jenazah di Yunani hanya Masjid Al Jabbar atau yang lebih akrab dengan nama Masjid Bangladesh. Sementara itu, Masjid Al Ikhlas, yang merupakan masjid komunitas Indonesia, belum dapat digunakan karena keterbatasan tempat dan perizinan.
Berselang tiga hari, yakni pada Jumat 14 Maret 2025, pihaknya pun menerima kabar yang ditunggu-tunggu yakni Masjid Al Jabbar bersedia menyediakan tempat untuk pengurusan jenazah, meskipun bangunannya masih dalam proses renovasi.
Sekira pukul 17.00 waktu Yunani, jenazah tiba di masjid dan langsung dimandikan serta dikafani. Kami bersama para teman dan kerabat almarhumah Ibu Mardiyah, bersiap untuk melaksanakan salat jenazah.
"Pada saat itu, saya mendapat amanah dari Ketua Rohis untuk menjadi imam dan memimpin salat jenazah. Salat jenazah juga dihadiri oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Yunani, Dr Bebeb Djundjunan, beserta Staf Kedutaan Besar Indonesia lainnya," ujarnya.
Setelah sholat selesai, ia bertanya kepada salah satu pengurus Rohis, di mana jenazah akan dikuburkan? "Ia menjawab, Insya Allah akan dipulangkan ke Indonesia, Ustadz” kata Hening menirukan ucapan pengurus Rohis.
Hening sempat menanyakan apakah ada pemakaman muslim di sekitar lokasi, dan sang pengurus Rohis mengatakan pemakaman muslim berada jauh dari kota dan membutuhkan biaya yang besar, hampir sama dengan ongkos pemulangan jenazah ke Indonesia.
Karena itu, jenazah diputuskan akan dipulangkan ke Indonesia pada Kamis 20 Maret 2025, di mana sebelmnya harus mengurus persyaratan administrasi yang panjang dan menunggu jadwal penerbangan yang tersedia untuk mengangkut jenazah dan hanya maskapai Qatar Airways yang memiliki layanan tersebut.
Keluarga almarhumah Ibu Mardiyah pun terpaksa harus menunggu 10 hari hingga bisa bertemu dengan jasad almarhumah sampai ke Tanah Air.
"Semoga ke depannya pemerintah Yunani menyediakan pemakaman khusus untuk umat Islam yang jaraknya tidak jauh dari perkotaan dan pemukiman penduduk, sebagaimana pemakaman kaum Kristen Ortodoks yang berada di dalam kota," harapnya.
Hal tersebut, menurutnya sangat diperlukan karena beberapa warga asing ingin dimakamkan di sana. "Semoga proses kepengurusan kematian bisa lebih mudah dan cepat, agar keluarga yang ditinggalkan tidak menunggu terlalu lama," pungkasnya.









