Siapa Lagi yang Ogah Berlutut?

republika | Nasional | Published at 17/03/2021 00:11
Siapa Lagi yang Ogah Berlutut?

REPUBLIKA.CO.ID, Liga Primer Inggris sangat konsisten mengkampanyekan slogan anti-rasisme di sepak bola. Meski perlu diapresiasi, nyatanya hal tersebut belumlah efektif. Rasisme masih menjadi duri dalam daging pada hingar bingar kompetisi sekelas Liga Primer.Hingga akhirnya, penyerang Crystal Palace Wilfred Zaha gerah dengan slogan anti-rasisme. Ia merasa slogan itu sekadar pemanis bibir belaka. Pemain jebolan akademi Manchester United ini pun memilih menjadi pemain Liga Primer pertama yang emoh menjalankan aksi berlutut sebelum kick off pertandingan.Zaha rupanya kesal meski ada komitmen memerangi rasisme di sepak bola. Masih saja ada kasus rasisme yang menimpa para pemain meski sudah banyak hal dilakukan guna mencegahnya. Sang pemain pun menyimpulkan, berlutut hanya seremoni belaka yang sudah tak lagi relevan dengan upaya memperjuangkan penegakan hak yang sama dalam sepak bola. Dengan berdiri tanpa berlutut, Zaha ingin menegaskan sikapnya yang menolak segala bentuk rasisme kepada siapapun.Apa yang dilakukan Zaha sebenarnya sudah banyak dilakukan para pemain di liga elite Eropa lainnya. Pesannya sama, mereka hanya ingin bermain sepak bola tanpa harus dilecehkan. Baik karena status ras ataupun agama. Harapan sederhana inilah yang menurut mereka begitu sulit terwujud.Zaha bahkan menyarankan agar pendidikan keberagaman sudah harus diperkenalkan sejak dini, sehingga dapat menekan laju kasus rasisme. Pendidikan dinilai Zaha lebih tepat ketimbang harus berlutut selama beberapa menit lalu selesai. Harus diakui, keseteraan hak yang digaungkan di Eropa sejatinya tengah menghadapi benturan keras kemajuan teknologi komunikasi, yang bernama media sosial. Kebebasan berekspresi lantas bablas dan menghantam sendi-sendi kemanusiaan. Kebebasan berekspresi menjadi senjata makan tuan yang akhirnya akan membuat kampanye kesetaraan seolah menelan ludahnya sendiri.Apalagi bicara urusan sepak bola. Melecehkan pemain lawan menjadi dalih bagian dari psy war pertandingan. Menirukan suara kera di lapangan dianggap hal lumrah guna menakuti lawan sehingga bermain buruk dan akhirnya kalah. Lalu spanduk dengan tulisan bernada sarkas dinilai sebagai tradisi sebuah klub.Kondisi ini semakin runyam dengan hadirnya media sosial.  Bayangkan, Zaha pernah menjadi korban rasisme dari sebuah akun profil seorang bocah 12 tahun.  Memang ada upaya untuk menekan kasus rasisme di media sosial. Perusahaan teknologi sebagai induk dari media sosial untuk memblokir ciutan atau unggahan. Namun, saya rasa itu hanya salah satu bagian saja bukan inti dari solusi persoalan itu.Sudah seharusnya, hal ini menjadi titik bahasan yang melibatkan banyak pihak, termasuk para penonton sepak bola dengan akun media sosialnya.  Percuma cuap-cuap, apabila supporter yang menjadi bagian dari sepak bola itu sendiri menjadi biang keroknya. Dari sisi pemain sendiri juga perlu memiliki sikap yang sama. Debat dua pesohor olahraga yakni Zlatan Ibrahimovic dan LeBron James jadi contoh. Bagi Zlatan, seorang atlet yang harusnya fokus dengan apa yang menjadi tugasnya. Ironisnya, Zlatan sendiri merupakan korban rasisme. Bomber gaek itu enggak mau ambil pusing dengan rasisme yang menimpanya. Secara blak-blakan, ia  menyatakan dirinya bukan Andersson atau Svensson.Nah, sikap itulah yang selanjutnya dikritik LeBron James. Menurut bintang LA Lakers ini, sudah sewajarnya para pemain memperjuangkan kebenaran bukan diam dan menganggap hal tersebut tidak ada.  LeBron memilih lantang menyuarakan apa yang salah. Liga Primer Inggris sejatinya memiliki solusi dari apa yang diperdebatkan Zlatan dan LeBron. Bila Anda cek laman resmi Liga Primer, solusi itu begitu lengkap dan detail. Sebagai kompetisi sepak bola paling digemari di dunia, wajar memiliki konsep yang demikian lengkap.  Lantas, apa yang salah hingga akhirnya seorang Wilfred Zaha akhirnya ogah berlutut sebelum pertandingan?*) Penulis adalah jurnalis republika.co.id

Artikel Asli