Loading...
Loading…
Cerpen : Ada Kisah Masa lalu di Warkop Jonril

Cerpen : Ada Kisah Masa lalu di Warkop Jonril

Nasional | sumselupdate.com | Sabtu, 06 Maret 2021 - 10:08

Karya : Rusmin Toboali

Warung Kopi Jonril selalu ramai. Mulai dari pagi hingga tengah malam. Selalu ada saja orang yang bersantai disana. Menikmati kopi sebagai pelepas dahaga dan penat dari kehidupan yang makin ganas dan terkadang liar. Selain lokasi warkopnya staregis di tengah pusat Kampung, makanan dan kopi yang dijual pun terjangkau kantong para pengunjung. Murah meriah. Apalagi makanan yang dijual pun khas Kampung. Mulai dari ubi goreng hingga kue yang bahan bakunya berasal dari ubi juga. Celepon salah satunya.Penganan khas Kampung. Tak heran hingga tengah malam, warkop Jonril selalu ramai didatangi para pengunjung.

Dan para pengunjung biasanya datang selalu berkelompok. Walaupun ada juga yang datang sendirian dan lantas bergabung dengan kelompoknya yang datang terlebih dahulu datang. Perbincangan para pengunjung di warkop Jonril selalu up to date. Topik-topik hangat selalu jadi bahan narasi para pengunjung.

Trending topik yang selalu dibicarakan para elite di media televisi pun tak luput mareka perbincangkan dan narasikan ala mareka,para pengunjung warkop. Mulai dari soal asap yang tak bisa dipadamkan hingga soal Pilkada serentak. Soal koruptor yang tertangkap tangan hingga Kepala daerah yang kebal hukum. Terkadang perdebatan antar pengunjung pun tak terelakkan. Bak acara talkshow televisi menjadi penghias warkop itu.

Dalam tiga malam terakhir ini, para pengunjung warkop Jonril kedatangan seorang pria asing yang tak mareka kenal. Wajahnya sangat asing bagi para pengunjung warkop. Terutama di kalangan pengunjung usia 30 tahun ke bawah. Pria itu datang selalu tengah malam ketika warkop tinggal 30 menit mau ditutup pemiliknya.

Dan pesanannya selalu kopi yang memang kualitas aromanya tak kalah dengan cafe-cafe di ibukota. Dan tempat duduknya selalu dekat sang pemilik warkop. Beberapa kali terlihat pria asing bicara dengan pemilik warkop Ibu Hindun. Entah apa yang mareka bicarakan. Dan wajah Ibu Hindun biasanya merah merona. Seolah ada rasa bahagia yang menghias wajahnya.

Tak pelak diorama yang terlihat nyata itu mengundang sejuta tanya di kalangan para pengunjung warkop. Dengan nada iseng sarat telisik mareka pun bertanya kepada Ibu Hindun.

Siapa sih Bu yang datang ngopi malam-malam itu, tanya Akew.

Katanya mencari keponakannya, jawab Ibu Hindun sembari mengantar kopi kepada kelompok Akew yang selalu duduk di kursi paling ujung.

Memangnya bapak itu asli warga Kampung ini, tanya Nomas.

Saya tidak tahu. Katanya mau mencari keponakannya, jawab Ibu Hindun sembari meninggalkan meja kelompok Akew yang hanya bengong mendengar jawaban pemilik warkop.

Malam itu purnama bercahaya dengan indah. Dunia terang benderang. Di warkop Jonril, pengunjung sepi. Semua meja kosong melompong. Satu per satu para pengunjung meninggalkan warkop. Maklum jam sudah menunjukan angka 3. Sudah tengah malam. Bahkan dinihari. Dan Ibu Hindun kaget saat hendak membereskan warungnya, lelaki itu datang. Belum pulang rupanya dia ujar Ibu Hindun dalam batin.

Mohon maaf sebelumnya. Apakah Ibu mengenal Jonril, tanya lelaki itu sambil menghirup kopi yang baru saja dihidangkan Ibu Hindun.

Wanita setangah baya itu terdiam. hanya wajanya merah merona sebagai tanda sebuah jawaban.

Kalau Ibu tak mengenal Jonril, kenapa warkop ini diberi nama Jonril, lelaki itu kembali bertanya.

Dan Ibu hindun hanya terdiam. Membisu. Hanya senyum dibibirnya yang masih memerah sebagai tanda bahwa dia mengenal nama itu.

Apakah kehadiran saya malam-malam seperti ini menganggu pekerjaanmu, tanya lelaki itu lagi.

Oh, tidak. Silahkan habiskan kopinya. Saya masih menunggu.Saya masih setia menunggu, jawab Ibu Hindun bersuara. Dan suara itu sangat indah ditelinga lelaki itu. Suara yang amat dikenalnya. Ya,suara yang amat khas di telinganya.

Malam itu usai lelaki itu meninggalkan warkopnya, di rumahnya yang terletak di belakang warung itu, Hindun merasakan adanya getaran hidup yang menyala-nyala dalam nuraninya. Ya, Hindun sungguh mengenal lelaki itu. Sangat mengenalnya. Lelaki itu bernama Jonril. lelaki yang pernah mengisi ruang cinta hidupnya. Lelaki yang pernah membakar semangat asmaranya. lelaki yang pernah merasakan manisnya bibir tipis dirinya. Lelaki yang pernahAh. Hindun tersenyum. Seekor cecak didinding membuat senyum Hindun hilang. Hindun malu. Mukanya langsung ditutupi dengan bantal. Dan cecakpun berlari.Sembunyi.

Tiga puluh tahun silam, Hindun adalah kembang Kampung. Selain dikaruniakan wajah cantik bak selebitis masa kini yang sering nongol di televisi, Hindun juga dikaruniakan otak yang cerdas. Tak heran banyak pria kampung yang mencintainya. Namun Hindun hanya manaruh hati kepada seorang lelaki yang bernama Jonril. lelaki yang bukan hanya berwajah tampan namun memiliki bakat yang luarbiasa dalam bidang sepakbola. Selain itu Jonril adalah seorang pekerja keras dan pintar.

Walaupun jonril dicintai banyak wanita kampungnya, namun Jonril hanya menaruh hati kepada wanita bernama Hindun. walaupun berasal dari keluarga yang tak mampu, namun prestasi Jonril tak kalah klas dengan para pemuda Kampung lainnya. Ini menjadi daya magnet bagi kaum hawa Kampung untuk mendapatkan cinta lelaki gagah itu.

Perebutan cinta ibarat perebutan bola dilapangan hijau. Selain perlu dukungan suplai dari kawan-kawan se klub, seorang pemain bola perlu kepiawaian dalam mengolah bola hingga membobol gawang lawan. Dan ini yang kurang dimiliki Jonril. Suplai suport dari kawan-kawan se kampungnya minim. Para pemuda Kampung lebih seneng mensupport Akang, putra Pak Lurah untuk menyunting Hindun. Dukungan finasial dari Akang membuat para pemuda Kampung lebih senang kalau Hindun menikah dengan Akang. Sebuah dekadensi moral yang mulai melanda anak-anak Kampung.

Dan ketika pak Lurah mengizinkan pengoperasian sebuah tambang pasir hitam kepada seorang pengusaha hitam dari Kota, perlawanan dari masyarakat pun terjadi. Demo besar-besaran yang dipimpin Jonril membuat lelaki itu menjadi incaran aparat hukum karena dianggap sebagai provokator bagi masyarakat. Walaupun banyak dukungan diberikan masyarakat kepada Jonril, namun aparat hukum tetap mencarinya.

Kami demo karena kami menentang izin penambangan pasir hitam. Dan Jonriel tidak pernah memprovokasi kami, ungkap Cimot warga Kampung dihadapan aparat hukum dan pemda.

Benar Pak. Kami demo karena hati nurani kami. Sampai mati pun kami tak pernah setuju dengan izin pertambangan pasir hitam itu, sambung warga Kampung lainnya. Sekeras apapun suara dari warga dalam membela jonril, aparat hukum tetap menjadikan Jonril sebagai provokator dan penggerak demo yang membuat Pak Lurah harus turun dari jabatannya. Dan kini para aparat hukum terus mengejar dan mencari Jonril yang diasumsikan sebagai dalang demo besar-besaran itu. Tak terkecuali Pak Lurah dan para pendukungnya.

Kini, setelah 30 tahun peristiwa itu Jonril kembali ke kampungnya. Walaupun hidupnya sudah mapan di Kota, namun kerinduannya untuk bertemu dengan Hindun tak dapat dihindarinya. Walaupun kini suasana kampung sudah berubah total dengan banyaknya pembangunan gedung dan kantor-kantor, namun Jonril masih tetap hafal dengan semua lekuk Kampungnya. Termasuk masih mengenal lekuk tubuh Hindun walaupun kini mareka sudah dimakan usia. Dan kecantikan Hindun masih terlihat kendati usianya sudah merenta sebagaimana dirinya kini.

Dengan semangat 45, Jonril ingin kembali merajut asa asmara yang pernah mareka reguk 30 tahun silam. Setidaknya romansa masa silam masih membekas dalam jiwa lelaki itu. Dan kalau malam ini Jonril masih terdiam di warkop milik Hindun hingga tengah malam, karena dirinya belum mampu untuk mengutarakan isi hatinya yang terpendam dalam lumpur kegelisahan.

Apakah Jonril itu nama suamimu, tanya Jonril.

Hindun hanya diam. Tak menjawab

Di mana anakmu kini? Apakah mareka bersekolah di Kota, tanya Jonril lagi.

Kembali Hindun hanya membisu. Tak ada sepatah kata pun keluar dari bibir tipisnya. Berdesis pun tidak.

Jonril meninggalkan warkop itu dengan langkah yang gontai membelah malam yang makin merenta. Serenta hatinya menahan gejolak romansa. Hindun tersenyum menatap kepergian lelaki yang pernah dicintainya dan mencintainya dalam membelah malam yang bercahayakan purnama. Setidaknya dia sebagai wanita masih tetap mencintai lelaki itu kendati lelaki beruban itu tak pernah berani untuk melamarnya hingga kini.

Desis anjing liar mendengus tajam mencari mangsa dalam kerentaan malam yang masih bercahayakan purnama. Ketajaman isnting anjing hutan liar itu terus susuri hutan kecil Kampung mencari mangsanya tanpa henti. Malam makin menua seiring datangnya kokok ayam sebagai tanda mentari mulai menghias bumi untuk menerangi penghuninya. Dan Jonril masih tetap menunggu dengan setia hingga mentari kembali keperaduannya. (*)

Pengirim : Rusmin Toboali

Original Source

Topik Menarik

{
{
{
{
{
{
{