Loading...
Loading…
Penyaluran Kredit Baru Bakal Meningkat

Penyaluran Kredit Baru Bakal Meningkat

Nasional | koran-jakarta.com | Rabu, 20 Januari 2021 - 00:04

Vaksinasi meningkatkan ekspektasi investor di sektor riil akan perbaikan ekonomi pada 2021.

Restrukturisasi kredit per 4 Januari 2021 sebesar 971,1 triliun rupiah merupakan yang terbesar dalam sejarah.

JAKARTA Survei Perbankan Bank Indonesia (BI) mengindikasikan penyaluran kredit baru akan meningkat pada triwulan I-2021. Hal itu terindikasi dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT) penyaluran kredit baru triwulan I-2021 sebesar 49,4 persen atau meningkat dari 25,4 persen pada triwulan IV-2020.

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI, Erwin Haryono, dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (19/1), mengatakan permintaan didorong oleh kondisi moneter dan ekonomi, serta relatif terjaganya risiko penyaluran kredit.

Penyaluran kredit baru tersebut diperkirakan didorong oleh permintaan kredit modal kerja, diikuti oleh kredit investasi, dan kredit konsumsi. Sementara itu, pertumbuhan kredit pada triwulan IV-2020 diperkirakan masih terbatas, dipengaruhi oleh pertumbuhan kredit investasi.

Meningkatnya permintaan pembiayaan, papar Erwin, juga karena standar penyaluran kredit pada triwulan pertama ini diperkirakan tidak seketat periode sebelumnya. Hal itu terindikasi dari Indeks Lending Standard (ILS) sebesar 0,4 persen, lebih rendah dibandingkan dengan 3,2 persen pada triwulan sebelumnya.

Aspek kebijakan penyaluran yang diperkirakan tidak seketat triwulan sebelumnya antara lain plafon kredit dan jangka waktu kredit, kata Erwin.

Hasil survei juga mengindikasikan responden tetap optimistis terhadap pertumbuhan kredit untuk keseluruhan tahun 2021 dengan perkiraan tumbuh sebesar 7,3 persen secara tahunan ( year on year /yoy).

Pakar Ekonomi dari Universitas Katolik (Unika) Atmajaya Jakarta, Suhartoko, dalam kesempatan terpisah menyatakan meningkatnya penyaluran kredit baru pada triwulan I-2021 salah satunya dipengaruhi oleh mulainya vaksinasi untuk menghambat penyebaran Covid-19.

Vaksinasi telah meningkatkan ekspektasi investor di sektor riil terhadap perbaikan ekonomi di tahun 2021, ditambah dengan rendahnya suku bunga, sehingga mendorong kenaikan permintaan kredit modal kerja dan investasi, kata Suhartoko.

Peningkatan juga karena ada persaingan antarbank untuk survive , sehingga mereka berlomba menawarkan insentif bagi debitor. Apalagi di bank, likuiditas cukup melimpah sehingga memaksa mereka untuk menyalurkan agar memperoleh pendapatan guna membayar biaya pengelolaan dana atau cost of fund .

Bank melihat ada celah perbaikan ekonomi yang diikuti turunnya risiko kredit macet telah mendorong bank meningkatkan penawaran kreditnya, kata Suhartoko.

Sementara itu, Pakar Ekonomi dari Universitas Surabaya (Ubaya), Bambang Budiarto, mengatakan hasil survei dengan SBT 50 persen memang sebagai sinyal penyaluran kredit meningkat.

Semua belum bisa dilepaskan dari variabel Covid-19, namun kini situasainya mulai berubah dibanding awal pandemi yang begitu mencekam. Meskipun belum berakhir, masyarakat dan pelaku bisnis sudah tidak dalam kondisi psikologis mulai optimistis dan punya ekspektasi dalam berinvestasi, kata Bambang.

Sebagai implikasinya, para pelaku ekonomi mulai bergairah dan pada akhirnya kebutuhan pembiayaan juga naik. Kondisi tersebut tecermin pada survei perbankan yang mana permintaan kredit modal kerja berada di posisi teratas dibandingkan kredit investasi dan konsumsi.

Restrukturisasi Terbesar

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sendiri mencatat nilai restrukturisasi kredit perbankan hingga 4 Januari 2021 sudah mencapai 971,1 triliun rupiah di 101 bank.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Heru Kristiyana, dalam sebuah webinar mengatakan permintaan restrukturisasi kredit itu datang dari 7,57 juta debitur yang usahanya terdampak Covid-19.

Mayoritas debitur yang mengajukan keringanan kredit adalah pengusaha skala mikro kecil dan menengah sebanyak 5,81 juta dengan nilai kredit 387 triliun rupiah.

Meski dari sisi jumlah debitur UMKM terbilang mendominasi, namun secara nominal baki debet terbesar yakni 584 triliun rupiah diajukan oleh 1,76 juta debitur korporasi.

Ini perlu menjadi perhatian karena memang sudah cukup besar, ini restrukturisasi paling besar sepanjang sejarah saya menjadi pengawas, kata Heru. n ers/SB/E-9

Original Source

Topik Menarik

{
{
{