The Kertanegara Dorong Penguatan Kapasitas Generasi Muda hingga Ketahanan Nasional

The Kertanegara Dorong Penguatan Kapasitas Generasi Muda hingga Ketahanan Nasional

Berita Utama | sindonews | Minggu, 27 September 2026 - 08:08
share

The Kertanegara Institute mendorong penguatan kapasitas generasi muda melalui pembelajaran kepemimpinan, kebijakan publik, dan ketahanan nasional sebagai bagian dari persiapan menuju Indonesia Emas 2045. Founder dan Chairman The Kertanegara Institute, Raga Awandayu Prakasa, mengatakan generasi muda perlu dibekali kemampuan memahami berbagai persoalan strategis yang dihadapi Indonesia.

Menurutnya, persiapan menuju 2045 tidak cukup hanya mengandalkan bonus demografi, tetapi juga membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kapasitas dan wawasan yang memadai. Hal itu disampaikan Raga dalam rangkaian School of Thought – Founding Associates Batch One yang salah satunya dilaksanakan melalui Studium Generale & Strategic Dialogue di Gedung Lemhannas RI, Jakarta.

Kegiatan tersebut menghadirkan Gubernur Lemhannas TB Ace Hasan Syadzily dengan tema “Membaca Arah Strategis Indonesia: Ketahanan Nasional dalam Kerangka Asta Cita.”

Baca juga: Kejagung Buka Suara soal Eksekusi Silfester Matutina Usai Dicopot dari Komisaris Pelindo

"Think tank bukan hanya tentang menghasilkan kajian atau gagasan. Kami ingin membangun ruang untuk belajar, bertukar pikiran, dan mempertemukan berbagai perspektif untuk memahami persoalan Indonesia secara lebih utuh,” ujarnya, Minggu (27/9/2026).

Dalam kegiatan tersebut, para peserta mendapatkan perspektif mengenai sejumlah tantangan strategis Indonesia, mulai dari pertumbuhan ekonomi, bonus demografi, ancaman middle-income trap, hingga dinamika geopolitik global.

Raga mengatakan, pembelajaran tersebut penting agar generasi muda dapat melihat keterkaitan antara berbagai persoalan nasional. Perubahan geopolitik, misalnya, tidak hanya berdampak pada aspek pertahanan dan keamanan, tetapi juga dapat berpengaruh terhadap ekonomi, energi, pangan, dan kepentingan strategis Indonesia.

Ia menilai penguatan kapasitas generasi muda setidaknya perlu dilihat melalui tiga perspektif, yakni kepemimpinan, kebijakan publik, dan ketahanan nasional. Dalam aspek kepemimpinan, generasi muda perlu memiliki kemampuan memahami persoalan, mengambil keputusan, membaca risiko, serta mempertanggungjawabkan setiap pilihan.

Sementara dalam kebijakan publik, pendidikan perlu mendorong kemampuan berpikir dan memahami persoalan masyarakat, tidak hanya mengejar pencapaian akademik. Adapun dalam perspektif ketahanan nasional, generasi muda perlu memahami hubungan antara perubahan lingkungan strategis dan kepentingan nasional Indonesia.“Kita sering berbicara mengenai bonus demografi sebagai sebuah peluang. Tetapi bagi kami, pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah kita sudah cukup mempersiapkan diri untuk mengubah bonus demografi tersebut menjadi kekuatan bangsa?” katanya.

Raga menambahkan, Asta Cita menjadi salah satu kerangka untuk memahami arah pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045. Kerangka tersebut kemudian diterjemahkan dalam berbagai prioritas pembangunan melalui RPJMN 2025–2029 sebagai tahapan menuju visi Indonesia Emas 2045.

Menurutnya, pengalaman belajar di Lemhannas menjadi bagian dari proses membangun tradisi intelektual melalui School of Thought. Para peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai ketahanan nasional, tetapi juga diajak melihat keterkaitan berbagai isu strategis dalam pembangunan Indonesia.

“Persiapan menuju 2045 tentu tidak dimulai nanti. Ia dimulai dari hari ini,” tegas Raga.

Ia menegaskan, School of Thought dibangun sebagai ruang belajar dan pertukaran perspektif bagi generasi muda. “Kami datang ke sini bukan karena merasa sudah memahami semuanya. Justru kami datang untuk belajar,” pungkasnya.

Melalui School of Thought – Founding Associates Batch One, The Kertanegara Institute berupaya mempertemukan generasi muda dengan berbagai perspektif mengenai pembangunan dan masa depan Indonesia. Program tersebut diarahkan untuk membangun kesiapan generasi muda agar mampu memahami persoalan bangsa dan mengambil bagian dalam perjalanan Indonesia menuju 2045.

Topik Menarik