Heroik! Prajurit Baret Merah Kopassus Selamatkan Pasukan UNIFIL di Lebanon

Heroik! Prajurit Baret Merah Kopassus Selamatkan Pasukan UNIFIL di Lebanon

Nasional | okezone | Minggu, 5 April 2026 - 08:06
share

JAKARTA – Indonesia berduka dengan gugurnya tiga prajurit TNI saat menjalankan misi perdamaian di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Lebanon. Ketiganya adalah Praka Farizal, Rhomadhon, Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan.

Diketahui, Indonesia telah lama menjadi salah satu negara yang konsiten mengirim pasukan perdamaian PBB. Saat ini, terdapat 756 personel TNI yang bertugas di bawah bendera UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon). Berbagai kisah heroik pun pernah dialami kontingen Indonesia.

Salah satunya saat Prajurit Kopassus yang ditugaskan dalam misi pasukan perdamaian di Lebanon,  menyelamatkan tentara Spanyol dari kepungan milisi Hizbullah.

Kejadiannya bermula ketika Tim Recce (pengintai) dari Spanyol melakukan berpatroli di daerah Lebanon. Membawa 60 orang pasukan dengan 10 unit panser. Namun di tengah perjalanan, mereka melihat sebuah kabel di saluran air.

Kabel yang merupakan aliran komunikasi milisi Hizbullah. Barang itupun difoto sebagai barang bukti untuk dilaporkan kepada komandan mereka. Demikian terungkap dalam “Kopassus untuk Indonesia”. Sebuah karya yang disusun oleh EA Natagera dan Iwan Santosa, dikutip, Minggu (5/4/2026).

Kegiatan tersebut diketahui oleh anggota milisi Hizbullah. Mereka pun dikejar kemudian dikepung oleh pasukan milisi Hizbullah dengan senjata lengkap. Menggunakan motor trail dan membawa senjata AK-47 serta roket anti-tank atau RPG.

“Anda punya senjata, kami juga punya senjata. Kami tidak takut menghadapi Anda,” ujar salah satu milisi Hizbullah.

 

Anggota militer Spanyol segera menghubungi anggota TNI yang juga ada di Lebanon. Pada saat itu keduanya, tergabung dalam United Nation Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Sebuah pasukan perdamaian yang dibentuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Pasukan TNI yang datang segera menengahi kedua kelompok tersebut dan memintanya untuk berdialog. Pihak milisi Hizbullah pun setuju untuk berdialog dan menghentikan pengejaran.

Pasukan milisi Hizbullah akhirnya sepakat untuk berdamai dan menghindari konflik. Mereka hanya meminta memory card yang digunakan pasukan Spanyol diberikan kepadanya. Syarat ini disetujui oleh pihak militer Spanyol tanpa ada pertentangan berarti.

Setelah keadaan lumayan membaik, pasukan TNI coba meluruskan masalahnya kepada anggota milisi Hizbullah. Pasukan TNI memang terkenal dekat dengan warga sekitarnya. Gemar membantu dan dinilai ramah oleh masyarakat Libanon yang pernah bersinggungan.

 

Hal ini pun divalidasi oleh salah seorang anggota milisi Hizbullah. Ia mengatakan jika bukan pasukan Indonesia yang memintanya, akhir masalahnya mungkin akan berbeda. Mereka memutuskan untuk berdialog dan menghindari konflik, karena menghormati pasukan Indonesia.

"Kami orang Lebanon sebenarnya tidak menghargai dan menghormati UNIFIL. Karena, mereka tidak berpihak secara adil pada orang Lebanon. Tetapi, kami melakukan ini karena sangat menghormati Anda orang Indonesia," ujar salah seorang anggota Hizbullah.

Setelah kejadian itu, Chief of Cimic Sector Major Ferera mengucapkan terima kasih kepada Staff Cimic Indonesia atas bantuan penyelesaian masalah, termasuk perlindungan serta pengamanan terhadap Tim Recce Spanyol.

Topik Menarik