Riset Sosiologi Sebut MBG Perkuat Solidaritas dan Semangat Belajar Siswa

Riset Sosiologi Sebut MBG Perkuat Solidaritas dan Semangat Belajar Siswa

Nasional | okezone | Kamis, 12 Maret 2026 - 16:58
share

JAKARTA - Sejumlah pakar dan hasil kajian sosiologi menunjukkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memperkuat solidaritas dan semangat belajar siswa di sekolah. Riset ini juga memperkuat kajian Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang menegaskan MBG sebagai pondasi baru pendidikan bermutu di Indonesia.

Sosiolog Musni Umar mengatakan, MBG berperan dalam membangun interaksi sosial serta meningkatkan semangat belajar di lingkungan sekolah.

‘’MBG di sekolah bisa menciptakan kesetaraan, kebersamaan, dan kedekatan satu sama lain. Selain itu, siswa bisa  mengikuti pelajaran dengan baik dan nyaman  karena tidak dalam lapar,” ujar Musni kepada wartawan, Kamis (12/3/2026).

“Secara sosiologis, di masa depan akan tumbuh tunas-tunas bangsa yang sehat, cerdas dan memiliki solidaritas tinggi terhadap sesama karena kedekatan satu sama lain sewaktu makan bersama,” ujar Musni Umar.

Sementara itu, Kepala Badan Standar, Kurikulum , dan Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen Toni Toharudin menambahkan, Program MBG menjadi fondasi baru dalam menciptakan pendidikan bermutu di Indonesia.

Menurutnya, MBG tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada budaya sekolah. Praktik makan bersama menciptakan ruang interaksi sosial yang lebih inklusif dan memperkuat kebersamaan diantara siswa.

“Kegiatan makan bersama menjadi sarana pembelajaran karakter yang alami. Siswa belajar disiplin, menjaga kebersihan, dan menghargai makanan. Ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak selalu harus melalui pendekatan formal, tetapi dapat tumbuh melalui pengalaman keseharian yang dirancang secara bermakna,” ujarnya.

Pengalaman sosial ini menjadi penting untuk membangun empati, kolaborasi, dan tanggung jawab sosial. MBG membuka peluang bagi sekolah untuk membangun budaya belajar yang sehat dan positif.

 

Dikatakannya, MBG juga berpotensi membentuk ulang relasi pedagogis di sekolah. Aktivitas makan bersama menciptakan momen non-formal yang mempertemukan siswa dan guru dalam suasana yang lebih setara dan humanis.

Interaksi semacam ini memperkuat rasa aman psikologis (psychological safety) yang menjadi pondasi penting bagi pembelajaran mendalam.

“Ketika siswa merasa dihargai dan terhubung secara sosial, mereka cenderung lebih berani bertanya, bereksplorasi, dan terlibat aktif dalam proses belajar,” kata Toni.

Hasil penelitian Pusat Kajian Sosiologi Universitas Indonesia Maret 2026 serta kajian Research Institute of Socio-Economic Development pada Februari 2026 juga menunjukkan hal yang sama.

 

Riset dilaksanakan pada 30 sekolah dengan 1.267 sampel (siswa, guru, orang tua, dan pengelola dapur MBG) di lima kabupaten/kota (Kota Kupang, Kota Depok, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Garut, dan Kabupaten Pesisir Selatan.

Hasilnya menunjukkan bahwa Program MBG mampu memperkuat kebersamaan di antara seluruh siswa dan guru di sekolah.

Namun tidak hanya dari aspek sosiologis, Program MBG juga mampu meringankan beban orang tua secara ekonomi, khususnya dari kalangan menengah ke bawah.

Sekitar 72 orang tua melaporkan anak mereka menjadi lebih rutin mengonsumsi makanan bergizi, sementara 55 menyatakan anak lebih mudah menerima variasi jenis makanan yang sebelumnya jarang dikonsumsi.

Topik Menarik