Israel-Amerika Gempur Iran, Pengamat: Dampak Paling Cepat Akan Terasa di Pasar Energi

Israel-Amerika Gempur Iran, Pengamat: Dampak Paling Cepat Akan Terasa di Pasar Energi

Nasional | sindonews | Sabtu, 28 Februari 2026 - 18:19
share

Serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dinilai dapat mengubah arsitektur keamanan Timur Tengah (Timteng) bahkan dunia. Operasi yang disebut sebagai Major Combat Operations ini dipimpin langsung Presiden Donald Trump.

Pengamat Politik dan Militer dari Universitas Nasional (Unas) Selamat Ginting mengatakan, pesan yang dikirim bukan hanya ke Teheran, tetapi juga ke Moskow, Beijing, Riyadh, dan Brussel. Amerika Serikat telah memilih jalur konfrontasi terbuka.

Selama bertahun-tahun, kata dia, konflik antara Israel dan Iran berlangsung dalam bentuk perang bayangan, seperti sabotase fasilitas nuklir, serangan siber, operasi intelijen, dan pertempuran tidak langsung melalui aktor proksi.

Baca juga: Israel dan AS Lancarkan Serangan ke Iran

“Kini, fase itu telah berakhir. Serangan udara ke sekitar Teheran menandai eskalasi drastis. Ini bukan lagi pesan simbolik, melainkan demonstrasi kemampuan dan kemauan untuk menghantam pusat gravitasi politik dan militer Iran,” ujarnya, Sabtu (28/2/2026). Menurut dia, keterlibatan langsung Amerika Serikat mengubah kalkulasi. Jika sebelumnya Israel dapat bertindak unilateral dengan risiko regional terbatas, kini konflik ini membawa dimensi kekuatan adidaya. Artinya, ambang eskalasi menjadi jauh lebih tipis.

Lihat video: Israel Hantam Nuklir Iran, Sebabkan Petinggi Militer Gugur! Perang Dunia 3 Dimulai?

“Secara militer, tujuan operasi tampak jelas yakni melumpuhkan sistem rudal balistik, jaringan komando dan kontrol, serta infrastruktur militer yang dinilai mengancam Israel dan pangkalan AS di kawasan Teluk. Target yang lebih sensitif adalah program nuklir Iran isu yang selama ini menjadi sumber ketegangan utama,” ujarnya.

Secara geopolitik, kata dia, serangan ini adalah bentuk pemaksaan terhadap Iran agar menerima batasan yang sebelumnya gagal dicapai lewat diplomasi.

“Sejarah menunjukkan tekanan militer eksternal sering kali memperkuat konsolidasi internal rezim, bukan melemahkannya. Serangan terhadap wilayah metropolitan seperti Teheran berisiko membangkitkan nasionalisme defensif di dalam negeri Iran,” paparnya.

Dia menyebut, risiko terbesar bukanlah serangan pertama tetapi respons berikutnya. Iran memiliki spektrum balasan yang luas, rudal balistik, drone jarak jauh, serangan siber, hingga aktivasi jaringan proksi di Lebanon, Irak, Suriah, dan Yaman. “Jika kelompok seperti Hezbollah ikut terlibat, Israel akan menghadapi perang dua front. Jika pangkalan AS di Teluk diserang, Washington akan terdorong untuk memperluas operasi,” uapnya.

Selamat Ginting menyebut, konflik dapat berubah dari operasi terbatas menjadi perang regional yang melibatkan Levant dan Teluk Persia secara simultan. Di sinilah kalkulasi militer menjadi sangat kompleks. Serangan cepat mungkin berhasil secara taktis, tetapi tanpa strategi keluar yang jelas, operasi bisa berubah menjadi konflik berkepanjangan.

“Dampak paling cepat akan terasa di pasar energi. Ancaman terhadap Selat Hormuz — jalur vital ekspor minyak dunia — berpotensi memicu lonjakan harga energi global. Negara-negara pengimpor, termasuk di Asia, akan terdampak langsung,” katanya.

Secara diplomatik, kata dia, polarisasi global hampir tak terhindarkan. Rusia dan China kemungkinan mengecam operasi tersebut dan memperkuat dukungan politik kepada Iran. Negara-negara Arab Teluk akan berada dalam dilema mengkhawatirkan Iran, tetapi juga takut terhadap instabilitas kawasan.

“Eropa kemungkinan mendorong gencatan senjata dan kembali ke meja perundingan. Namun dalam atmosfer yang sudah terlanjur panas, ruang diplomasi semakin sempit,” katanya.

Selamat Ginting menambahkan, bila respons Iran terukur, konflik mungkin tetap berada dalam koridor terbatas. Namun bila pembalasan meluas, eskalasi bisa bergerak di luar kendali para pengambil keputusan awalnya.

Topik Menarik