Penculikan Anak di Tamansari Jakbar Satu Jaringan dengan Kasus Bilqis

Penculikan Anak di Tamansari Jakbar Satu Jaringan dengan Kasus Bilqis

Nasional | sindonews | Minggu, 8 Februari 2026 - 15:33
share

Pengungkapan kasus penculikan balita RZA di Tamansari, Jakarta Barat, membuka babak baru yang lebih mengerikan. Polisi menyatakan ada kaitannya antara kasus tersebut dengan peristiwa yang pernah dialami Bilqis (4), bocah asal Makassar yang sempat viral setelah ditemukan di Jambi.

Kanit Reskrim Polsek Metro Tamansari AKP Egy Irwansyah mengungkapkan, sindikat perdagangan anak yang kini diusut ternyata saling terhubung.

Baca juga: Profil Irjen Djuhandhani Rahardjo Puro, Kapolda Sulsel yang Gagalkan Penculikan Anak Bilqis

Salah satu tersangka dalam kasus RZA yaitu WN (50) yang berperan sebagai calo pembeli anak di Wonosobo diketahui memiliki relasi langsung dengan tersangka dalam kasus penculikan Bilqis.

Polisi memastikan keduanya pernah berinteraksi langsung dan bahkan sempat bersama-sama mendatangi kediaman WN di Jawa."Sebenarnya ini ada garis merahnya. WN itu kenal juga sama tersangka kasus Bilqis. Karena mereka pernah berdua sama-sama ke rumahnya WN di Jawa. Sebenarnya ada tali benang merahnya," ujarnya, Minggu (8/2/2026).

Dari pengembangan kasus, polisi memetakan jaringan perdagangan anak yang beroperasi lintas daerah, mulai dari Jakarta, Jawa Tengah, hingga ke wilayah pedalaman Sumatera. Dalam mata rantai tersebut, tersangka EM berperan sebagai pengepul di Jambi dan menjadi pihak yang mengajukan permintaan anak kepada WN.

Permintaan itu berasal dari LN (36), sosok perantara yang menyalurkan anak-anak ke wilayah Suku Anak Dalam (SAD). Nama LN bukan figur asing bagi penyidik karena sempat muncul dalam pengusutan kasus Bilqis meski saat itu belum berhasil diamankan.

"Permintaannya dari E. E dapatnya dari LN. Nah, inisial LN sebenarnya sudah lama juga ada itu di perkaranya Bilqis. Cuma kan memang tidak diamankan (saat itu)," katanya.

Polisi juga mengungkap fakta mengejutkan lain. Jaringan dalam kasus RZA dan Bilqis sejatinya berasal dari satu kelompok besar yang sama. Namun, kelompok tersebut pecah akibat konflik internal yang diduga dipicu persoalan pembagian keuntungan.Menurut dia, praktik perdagangan anak ini dijalankan layaknya bisnis gelap murni dengan mekanisme permintaan dan penawaran. Nilai jual anak meningkat tajam seiring bertambahnya jumlah perantara hingga mencapai pembeli terakhir.

Dalam kasus RZA, ibu kandung korban berinisial IJ tega menjual anaknya dengan harga Rp17,5 juta. Namun, nilai tersebut melonjak drastis setelah korban berpindah tangan dari satu calo ke calo lain hingga tiba di Jambi.

"Ya supply and demand lah. Makanya semakin banyak piramidnya ya semakin kecil makin ke bawah itu nilainya. Makanya Bilqis kan di paling bawah cuma Rp3 juta? Setelah sampai ujungnya (LN) berapa tuh? 80-an juta," kata Egy.

Kasus Bilqis sempat menyita perhatian nasional setelah bocah berusia 4 tahun asal Makassar itu ditemukan di hutan pedalaman Jambi. Dalam kasus tersebut, empat orang menjadi tersangka di antaranya Sri Yuliana (SY) serta pasangan suami istri Adit Saputra (AS) dan Meriana (MA) yang diduga telah memperdagangkan 9 anak melalui perantara berinisial L.

Topik Menarik