Kemendikdasmen Buka Fakta Siswa SD Gantung Diri di Ngada NTT Penerima PIP

Kemendikdasmen Buka Fakta Siswa SD Gantung Diri di Ngada NTT Penerima PIP

Nasional | inews | Kamis, 5 Februari 2026 - 15:41
share

JAKARTA, iNews.id - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya siswa SD yang bunuh diri di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Pemerintah menyebut korban tercatat sebagai penerima Program Indonesia Pintar (PIP).

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat mengatakan, peristiwa siswa SD yang bunuh diri di Ngada NTT ini menjadi keprihatinan bersama. Dia menyampaikan empati kepada keluarga, teman, guru, serta seluruh warga sekolah yang terdampak.

"Kemendikdasmen memandang peristiwa ini sebagai kejadian yang sangat serius, serta mengingatkan bahwa kesejahteraan psikososial anak merupakan isu yang kompleks," kata Atip, Rabu (4/2/2026).

Menurut dia, kondisi emosional anak dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling terkait. Karena itu, dibutuhkan perhatian dan dukungan berkelanjutan dari keluarga, sekolah, masyarakat, hingga negara.

Atip menjelaskan, sebagai bagian dari kebijakan afirmasi pendidikan, siswa SD yang bunuh diri di Ngada NTT tersebut tercatat sebagai penerima manfaat Program Indonesia Pintar.

"Sebagai bagian dari kebijakan afirmasi pendidikan, mendiang murid tercatat sebagai penerima manfaat PIP yang dananya telah disalurkan sesuai mekanisme yang berlaku," ujarnya.

Meski demikian, Kemendikdasmen menegaskan pemenuhan hak dan perlindungan anak tidak dapat berhenti pada dukungan finansial semata. Anak-anak dari keluarga rentan juga membutuhkan pendampingan psikososial, perhatian moral, serta lingkungan tumbuh kembang yang suportif.

"Saat ini, Kemendikdasmen melalui Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) NTT telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah bersama perangkat daerah terkait untuk melakukan pendampingan kepada keluarga termasuk menyiapkan dukungan keberlanjutan pendidikan bagi anggota keluarga lainnya," ucapnya.

"Selain itu, koordinasi lintas sektor juga dilakukan untuk memastikan keluarga mendapatkan akses layanan sosial dan pendidikan yang dibutuhkan," katanya lagi.

Atip menambahkan, kejadian ini menjadi pengingat bagi semua pihak akan pentingnya menghadirkan lingkungan yang aman, nyaman, dan suportif bagi tumbuh kembang anak.

"Satuan pendidikan bersama orang tua dan masyarakat memiliki peran penting dalam membangun komunikasi terbuka di mana setiap anak merasa aman untuk mengekspresikan kerentanan mereka, memperkuat kepedulian terhadap kondisi emosional anak, serta memastikan setiap anak merasa didengar, dihargai, dan mendapatkan pendampingan yang memadai," ujarnya.

Sebelumnya, ibu kandung korban, Maria Goreti Te’a (47), menceritakan pagi terakhir sebelum anaknya ditemukan meninggal dunia. Saat itu, YBR mengeluh pusing dan sempat menolak berangkat ke sekolah.

Meski demikian, Maria tetap meminta anaknya masuk sekolah karena khawatir tertinggal pelajaran. Ia bahkan mengantarkan putranya menggunakan ojek agar tetap bisa mengikuti kegiatan belajar.

Namun, siang harinya kabar duka datang tanpa peringatan. YBR ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tergantung di pohon cengkeh dekat pondok sederhana tempat tinggalnya bersama sang nenek.

"Saya tidak merasa ada sesuatu yang aneh hari itu. Dia hanya sempat tanya pada hari Senin tentang PIP apa sudah terima," ujarnya, Kamis (5/2/2026).

Maria mengaku telah menjelaskan bahwa bantuan PIP belum diterima dan kebutuhan sekolah tahap pertama telah dibayarkan.

"Saya bilang PIP belum terima. Uang dari mana? saya minta keterangan dari desa dulu. Untuk tahap pertama uang sekolah sudah lunas, nanti berikutnya kalau PIP sudah cair," katanya.

Diketahui, korban berinisial YBS (10) ditemukan meninggal dunia pada Kamis (29/1/2026) siang. Dalam olah tempat kejadian perkara, polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan menggunakan bahasa daerah Ngada yang diduga ditulis korban untuk ibunya dan berisi pesan perpisahan.

Kasus siswa SD yang bunuh diri di Ngada NTT ini menjadi pengingat penting tentang dampak kemiskinan, minimnya pendampingan emosional, serta pentingnya kehadiran negara dalam melindungi anak-anak dari keluarga rentan.

Topik Menarik