Rhenald Kasali Khawatir Kasus Tata Kelola Minyak Bikin Anak Muda Takut Bisnis
JAKARTA – Guru Besar Manajemen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Rhenald Kasali, mengaku khawatir perkara dugaan korupsi tata kelola minyak dan produk kilang di PT Pertamina membuat pengusaha muda takut berbisnis. Apalagi, kata dia, berbisnis dengan perusahaan negara atau BUMN.
“Rumit ya. Rumit. Saya khawatir anak-anak muda enggak berani bekerja sama dengan perusahaan negara, enggak berani menjadi pemimpin di BUMN, enggak berani berbisnis dengan perusahaan negara,” kata Rhenald di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Selasa (3/2/2026).
Lebih lanjut, Rhenald menyoroti kaitan risiko bisnis dengan anggapan kejahatan dalam segi ekonomi. Menurutnya, teori ekonomi dan bisnis harus ditulis ulang jika para terdakwa dalam kasus ini dinyatakan bersalah.
“Jadi kalau itu dianggapnya kesalahan, ya Indonesia harus menulis ulang teori ekonomi dan bisnis,” katanya.
Rhenald berharap penjelasan yang disampaikannya di persidangan dapat membuat terang perkara tersebut. Konsultan bisnis ternama itu meminta aparat penegak hukum untuk mencari kejahatan yang sebenarnya.
“Temukan kejahatan yang sebenarnya, tetapi kalau bisnis jangan dianggap itu sebagai kejahatan,” katanya.
Sekadar informasi, salah satu terdakwa dalam perkara ini yaitu beneficial owner PT Navigator Khatulistiwa, Muhammad Kerry Adrianto Riza, yang masih berusia sekitar 40 tahun. Kerry dan terdakwa lainnya didakwa menyebabkan kerugian keuangan negara senilai Rp285,1 triliun dalam perkara dugaan korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang PT Pertamina.
Dalam surat dakwaan, jaksa memerinci sejumlah perbuatan yang dinilai merugikan negara. Salah satunya terkait kerja sama penyewaan Terminal BBM Merak. Jaksa menyebut nilai kerugian dari kerja sama penyewaan terminal BBM ini sekitar Rp 2,9 triliun.
Rhenald angkat bicara mengenai kerugian keuangan negara dalam penyewaan terminal BBM milik Kerry oleh Pertamina. Menurutnya, terminal BBM sangat diperlukan untuk ketahanan energi nasional. Apalagi, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia berbangga atas pengapalan 1 juta barel minyak mentah hasil produksi Pertamina di Aljazair ke Indonesia.
“Kalau kita bisa mendatangkan minyak sebesar itu dan inilah bisnis yang di terminal ini yang dipersoalkan, itu akan sangat efisien,” katanya.
Menurutnya, dengan memiliki terminal BBM dengan kapasitas besar, minyak mentah yang diboyong dari lapangan di Aljazair dapat menguntungkan Pertamina karena lebih efisien. Selain itu, dengan menggunakan kapal yang besar, ongkos kirim menjadi jauh lebih murah.
“Itu keuntungannya, efisiensi. Itu satu. Yang kedua, Indonesia punya banyak sekali laut dalam, tetapi punya banyak terminal yang juga tidak di laut dalam, yang kecil-kecil. Nah, kecil-kecil dibutuhkan, tetapi ada yang besar itu yang kapal besar bisa masuk sehingga ongkos kirimnya bisa lebih murah. Jadi kita mendapatkan keuntungan dari efisiensi. Itu yang mungkin ingin dijelaskan, mungkin mau ke situ arahnya,” katanya.










