Komunitas The True Crime Community Tumbuh Sporadis, Kumpulkan Anak dengan Kriteria Ini
JAKARTA - Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mengungkap komunitas The True Crime Community tumbuh secara sporadis. Komunitas itu memaparkan paham ekstremisme kekerasan terhadap 70 anak Indonesia.
"Komunitas ini tidak didirikan oleh tokoh pendiri, organisasi, maupun institusi. Dia tumbuh secara sporadis seiring dengan media digital," ungkap Juru Bicara Densus 88 Antiteror, Kombes Mayndra Eka Wardhana, Rabu (7/1/2026).
Mayndra menjelaskan dalam komunitas itu berkumpul orang-orang dengan minat yang sama. Dari hasil identifikasi, minat itu berkaitan dengan kekerasan, sensasionalisme media, dan ruang digital transnasional.
"Yang merupakan pertemuan antara minat seseorang dengan kekerasan, sensasionalisme media, dan ruang digital transnasional," sambung dia.
Mayndra menjelaskan, beberapa orang yang tergabung dalam komunitas ini bahkan terdeteksi sudah melakukan aksi nyata kekerasan. Mayndra memaparkan sejumlah aksi, misalnya Robin Westman (23) yang melakukan penembakan di rumah ibadah Gereja Katolik di Amerika.
Belum lagi ada Trinity Shockley (18), remaja yang merencanakan penembakan, hingga yang terbaru remaja bernama Mario (15) yang melakukan penikaman terhadap bocah berusia sepuluh tahun. Salah satunya bahkan menyasar Indonesia, di mana terjadi ledakan di SMAN 72 Jakarta yang dilakukan oleh pelajar.
"Data global memperlihatkan, dari Januari sampai Desember hampir masif terjadi kekerasan," tutur dia.
Dari hasil analisis Densus 88, korban yang terpapar ideologi kekerasan ekstrem ini menyasar anak-anak yang jarang bersosialisasi. "Karakter daripada anak yang melakukan aksi tersebut betul-betul introvert, bisa dikatakan seperti itu. Sangat tidak bersosialisasi dan tidak berkaitan dengan anak mana pun dalam melakukan aksinya," ujarnya.









