Kematian Akibat Masalah Jantung Melonjak di Masa Pandemi

Nasional | republika | Published at Senin, 16 November 2020 - 07:00
Kematian Akibat Masalah Jantung Melonjak di Masa Pandemi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebagian pasien cenderung menunda rencana terapi atau kunjungan ke rumah sakit di masa pandemi Covid-19. British Heart Foundation (BHF) memperingatkan bahwa penundaan ini dapat berujung pada kondisi yang mengancam jiwa.

Di Inggris, misalnya, BHF mencatat ada total 73.799 kasus kematian akibat penyakit jantung dan peredaran darah selama 20 Maret-30 Oktober. Jumlah ini mengalami peningkatan sebesar 4.785 kasus atau tujuh persen dibandingkan prediksi.

"Kita harus mengambil pelajaran dari pandemi ini," ujar associate medical director BHF Dr Sonja Babu-Narayan, seperti dilansir The Sun.

Dr Sonja mengatakan, ada beberapa faktor yang turut mempengaruhi peningkatan kasus kematian ini. Salah satu di antaranya adalah orang-orang enggan mengakses layanan kesehatan karena takut menambah beban tenaga kesehatan.

Faktor lainnya adalah pasien yang sudah menunjukkan gejala mengkhawatirkan memilih unutk menunda pengobatan ke rumah sakit karena takut tertular Covid-19. Faktor ketiga adalah penundaan operasi dan perawatan rutin untuk jantung.

Kematian akibat semua penyebab di rumah pribadi juga tampak mengalami peningkatan di Inggris. Prof Sir David Spiegelhalter dari University of Cambridge mengatakan, ada penambahan sekitar 100 kematian non Covid-19 di rumah pribadi setiap hari.

"Sepertiga lebih tinggi dibandingkan biasanya, dan tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan," ungkap Prof Sir David.

Dr Sonja mengatakan, Covid-19 merupakan penyakit yang baru. Berdiam diri di rumah merupakan salah satu anjuran yang digaungkan untuk menekan penyebaran Covid-19. Akan tetapi, Dr Sonja tidak ingin orang-orang yang memang membutuhkan perawatan medis hanya diam di rumah sehingga terlambat mendapatkan pertolongan.

"Setiap kematian adalah sebuah tragedi, tak peduli berapa umur Anda dan keadaan Anda, apakah (kematian tersebut) karena Covid-19 atau tidak," kata Dr Sonja.

Artikel Asli