Penyintas Covid-19 Kena Gangguan Mental, Dampingi Yuk!

Nasional | republika | Published at Senin, 16 November 2020 - 06:05
Penyintas Covid-19 Kena Gangguan Mental, Dampingi Yuk!

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Survivor atau penyintas Covid-19 memiliki risiko yang lebih besar untuk mengalami gejala sisa berupa gangguan mental. Gejala gangguan jiwa ini ditemukan pada satu dari lima penyintas Covid-19.

Hal ini diungkapkan oleh tim peneliti University of Oxford melalui studi dalam jurnal The Lancet Psychiatry. Studi ini melibatkan lebih dari 62 ribu pasien Covid-19 tanpa riwayat gangguan mental.

Studi ini mengungkapkan bahwa satu dari lima penyintas Covid-19 terdiagnosis dengan gangguan mental. Gejala gangguan mental ini ditemukan pada kisaran 14-90 hari setelah penyintas terdiagnosis Covid-19.

Tim peneliti juga mengungkapkan bahwa gangguan kecemasan, depresi, dan insomnia merupakan kondisi yang paling umum ditemukan pada penyintas Covid-19 yang mengalami gangguan mental. Selain itu, tim peneliti juga mendapati adanya risiko demensia yang lebih tinggi pada penyintas Covid-19.

"Orang-orang mengkhawatirkan bahwa penyintas Covid-19 akan memiliki risiko yang lebih besar terhadap masalah kesehatan mental, dan temuan kami menunjukkan hal tersebut mungkin terjadi," ujar profesor di bidang ilmu kejiawaan dari Oxford Paul Harrison, seperti dilansir Times Now News.

Berdasarkan temuan ini, tim peneliti menilai Covid-19 dapat meningkatkan risiko gejala sisa psikiatri. Selain itu, diagnosis kejiwaan juga dapat menjadi faktor risiko independen untuk Covid-19.

Konsultan ilmu kejiwaan dari University College London Michael Bloomfield yang tak terlibat dalam studi turut mengomentari temuan ini. Bloomfield menilai temuan terbaru ini menambah bukti bahwa infeksi pada kasus Covid-19 dapat memengaruhi otak dan pikiran. Kondisi ini yang kemudian meningkatkan risiko beragam masalah kejiwaan pada penyintas Covid-19.

"Ini kemungkinan disebabkan oleh kombinasi dari stresor psikoogis yang berkaitan dengan pandemi ini serta efek fisik dari penyakit tersebut," timpal Bloomfield.

Psikiatris Dr Kedar Tilwe dari Rumah Sakit Hiranandani juga mengungkapkan hal serupa. Dr Tilwe menilai kemunculan gangguan kejiwaan seperti depresi dan gangguan stres pascatrauma (PTSD) kemungkinan dipicu oleh stres yang berkaitan dengan diagnosis Covid-19.

Oleh karena itu, Dr Tilwe mengatakan orang-orang di sekitar penyintas Covid-19 perlu ikut berperan dalam mencegahnya. Salah satunya dengan membantu para penyintas Covid-19 untuk mengenal dan beradaptasi dengan situasi saat ini.

Setidaknya ada empat hal yang bisa dilakukan untuk memberikan dukungan mental kepada penyintas Covid-19. Berikut ini adalah keempat hal tersebut.

Lawan stigma
Stigma yang meliputi Covid-19 bisa menjadi sangat memprihatinkan. Stigma ini dapat membuat penyintas Covid-19 menyalahkan diri sendiri karena menjadi sumber penularan pada orang-orang terkasih mereka. Penghiburan dan kesabaran yang konstan dari orang-orang sekitar perlu ditunjukkan kepada penyintas Covid-19 yang diterpa stigma.

Bantu dalam keseharian
Melakukan aktivitas sehari-hari mungkin sulit untuk dilakukan oleh pasien yang sedang dalam masa pemulihan. Salah satu pemicunya adalah adanya gejala kelelahan yang mungkin masih dirasakan. Dalam kondisi seperti ini, orang-orang di sekitar dapat ikut membantu mengerjakan urusan sehari-hari, sehingga pasien memiliki waktu untuk beristirahat secara fisik dan mental.

Jadi teman bicara
Kecemasan kerap melanda para pasien yang sedang menjalani pemulihan. Kecemasan ini bisa dipicu oleh beragam hal, termasuk oleh perasaan takut menjadi beban bagi keluarga.

Anggota keluarga dapat mengajak penyintas untuk melakukan diskusi terbuka dan membicarakan kecemasan yang muncul serta membantu penyintas untuk menghadapi kecemasan tersebut. Contohnya, melalui latihan yang merelaksasi.

Alihkan pikiran
Hal-hal yang tak bisa diprediksi terkait Covid-19 tak jarang menguasai pikiran penyintas dan memunculkan kekhawatiran. Orang-orang terdekat dapat membantu penyintas mengalihkan pikiran tersebut. Misalnya, dengan membantu memilah informasi dan memastikan penyintas hanya mendapatkan informasi yang akurat dan sumber yang jelas.

Artikel Asli