Masker Bukan Formalitas

Nasional | republika | Published at Senin, 16 November 2020 - 00:30
Masker Bukan Formalitas

REPUBLIKA.CO.ID, Penambahan kasus baru Covid-19 kembali memecahkan rekor pada Jumat (13/11). Berdasarkan data, tercatat penambahan kasus konfirmasi positif Covid-19 sebanyak 5.444 orang dalam 24 jam terakhir. Kasus covid-19 semakin menjadi-jadi.

Pemerintah merinci ada beberapa faktor yang mungkin memicu kenaikan. Salah satunya momentum yang memicu kerumunan. Dua peristiwa yang menarik banyak massa belum lama ini adalah unjuk rasa penolakan UU Cipta Kerja dan momen libur panjang.

Dimana ada keramaian di situ ada potensi penularan. Pemerintah, para dokter hingga aparat tak henti-hentinya mengingatkan soal protokol kesehatan. Salah satunya pemakaian masker.

Banyak sanksi diberlakukan bagi mereka yang tidak memakai masker. Mulai dari denda dalam bentuk uang hingga sanksi sosial berupa push up hingga bersih-bersih fasilitas umum.

Nah, bagi yang tidak terciduk melanggar prtotokol kesehatan, mari kita coba introspeksi diri, apakah kita sudah mengenakan masker dengan benar?

Saya pernah mendatangi sebuah acara hajatan yang menurut saya sudah cukup menerapkan protokol kesehatan. Sebelum masuk area hajatan, sudah disediakan air dan sabun serta hand sanitizer.

Semua tamu wajib membersihkan tangan sebelum masuk ruangan. Di dalam ruangan, masih bisa dilakukan jaga jarak.

Tak ada tamu yang berdesak-desakan. Tamu masih bisa melakukan jaga jarak sekitar 1,5 meter.

Namun, ada satu hal yang menggelitik. Ketika tamu ngobrol, beberapa kali momen di mana membuka masker. Alasannya, suara kurang bisa didengar dengan jelas ketika memakai masker sehingga terpaksa harus membuka masker sebentar untuk sekadar mengulang pembicaraan. Mereka lalu kembali mengenakan masker.

Momen-momen membuka masker tampaknya reflek. Sama seperti kita reflek mengeraskan suara saat lawan bicara kita tak cukup paham dengan apa yang kita katakan. Namun, momen reflek buka masker ini sebenarnya bisa menjadi celah penularan. Ini contoh potensi penularan di lokasi yang menerapkan protokol kesehatan ketat ya..

Momen buka masker yang mungkin terjadi pada saat berkerumun juga membuka celah penularan. Selain itu, momen ngobrol sambil makan (tentu makan buka masker dong) juga bisa menjadi celah penularan karena ada potensi terpercik droplet.

WHO telah mengonfirmasi bahwa covid-19 juga bisa menular melalui udara. Beberapa studi melihat ada kemungkinan droplet berukuran kecil (mikrodroplet) yang dihasilkan saat batuk atau bersin dapat membuat virus bertahan lama di udara. Momen buka masker (yang mungkin hanya sebentar) ini bisa menjadi celah penularan.

Nah, soal membuka masker ketika ngobrol ini tak ada polisinya. Tidak ada yang akan memberikan sanksi ketika ada orang yang membuka masker untuk ngobrol. Perlu kesadaran dari diri sendiri, untuk berhati-hati menjaga diri dan juga orang lain.

Beberapa orang yang pernah terpapar covid-19, mereka selalu berpesan: jangan buka masker. Pesan ini bukan main-main karena kita tidak tahu siapa saja yang membawa virus ini.

Seringkali, kita lepas masker karena reflek atau mungkin sungkan atau merasa aman ketika ngobrol dengan seseorang. Keluarga atau tetangga atau teman dekat misalnya. "Ah, masa sama keluarga pakai masker sih? " tapi mungkin saja rasa sungkan inilah yang membuat kasus covid-19 semakin menjadi-jadi.

Nah, sembari menunggu vaksin covid-19, mari terus jalankan protokol kesehatan. Kalau sudah pakai masker, saat berbicara jangan dibuka yaa... Mari kita pakai masker dengan benar.

*) Penulis adalah jurnalis republika.co.id

Artikel Asli