Said Didu: Riza Chalid Bendahara Politisi dan Partai Politik, Siapa Pun Penguasanya
Mantan Sekretaris Kementerian BUMN Said Didu menyebut tersangka kasus dugaan korupsi tata kelola minyak mentah, Riza Chalid sebagai bendahara politisi dan partai politik (parpol).
Hal itu diungkap Said Didu di Podcast To The Po!nt Aja SindoNews bertajuk “Siapa Pun yang Berkuasa, Riza Chalid Bendaharanya?” pada Kamis 14 Agustus 2025.
“Orang ini memang istilah saya itu bendahara politisi dan partai politik, bendahara umum siapa pun, siapa pun penguasanya dia bendaharanya,” ujarnya, Jumat (15/8/2025).
Analis Kebijakan Publik Said Didu menyebut ada kemajuan Presiden Prabowo Subianto bisa menyentuhnya. Said Didu menuturkan, Riza Chalid mulai bermain dengan Petral yang dibentuk pada 1969 untuk menjual minyak Indonesia.
Baca juga: 9 Mobil Riza Chalid Disita Kejaksaan Agung, Apa Saja Jenisnya?“Tujuannya itu bagus dulu, karena korupsi Indonesia tinggi baiknya di Amerika perusahannya, supaya koruptornya jauh. Tahun 70-an pindah ke Hong Kong. Tahun 1998 pindah ke Singapura, lebih dekat lagi. Pemiliknya bukan lagi asing tapi perusahaan Pertamina di Singapur. Jadi tujuan Pak Harto mendirikan itu supaya tidak dikorupsi di Indonesia,” katanya.
Menurut Said Didu, dari situlah Riza Chalid mulai bermain di 1998 dengan Petral. Kerja Petral adalah menjual minyak Indonesia dan membeli minyak. “Jadi semua lewat situ. Tahun 98 dia (Riza Chalid) bermain sampai pemerintahan Megawati dan Gus Dur. Setop sedikit di Pemerintahan Habibie,” katanya.
Baca juga: Selamat! 8 Kombes Pol Pecah Bintang usai Dimutasi Kapolri Awal Agustus 2025, Ini Nama-namanya
Said Didu mengaku, sempat bertemu Riza Chalid saat diangkat menjadi Sekretaris Kementerian BUMN pada 2005. “Saya ditelepon oleh Istana pada saat SBY. Orangnya pangkatnya Brigjen tidak perlu disebutkan nelepon saya mau ketemu. Di ruangan itu saya dilantik jam 11 diminta ketemu jam 4 dengan pejabat istana. Orang ini Riza Chalid ada di dalam ruangan, lho kok ada di sini,” katanya.
Said Didu kemudian menelpon orang yang membuat janji dan bertanya mengenai kehadiran Riza Chalid. Saat itu, dirinya bertanya siapa yang meminta bertemu.
“Lalu kata dia (Riza Chalid), saya hanya minta, saya jangan diganggu, bisnis saya. Saat itu saya langsung berdiri ku ganggu kau, selama aku menjabat, ku ganggu kau karena aku membersihkan negeri. Besok-besoknya ditelepon, Pak siap-siap diganti, siaplah diganti. Tapi Alhamdulillah tidak diganti juga,” katanya.
Saat itu, dirinya berpikir Pertamina harus dibersihkan maka diangkatlah Ari Sumarno menjadi Direktur Utama (Dirut), kemudian Endriartono Sutarto menjadi Komisaris Utama (Komut) lalu Sudirman Said.
“2007 sampai awal 2009 dimatikan Petral oleh trio ini. Akhirnya Reza Chalid mati lagi. Kemudian 2009 datang instruksi digantilah Ari Soemarno, Endriartono Sutarto pergi, Sudirman Said diberhentikan. Masih di era SBY. Atas perintah Bu Karen itu dihentikan semua dan dihidupkan kembali Petral oleh Reza Chalid,” tuturnya.
Selanjutnya, Jokowi menjadi Presiden di 2014. Saat itu, Sudirman Said diangkat menjadi Menteri ESDM. “Kita ketemu lagi kasus Papa minta saham. Ketemu Riza Chalid lagi. Kita matiin lagi. Terus tahu-tahu menikah Gibran, kita masih perang di Papa minta saham. Nikah Gibran, lho kok Riza Chalid jadi tamu istimewa, tamu VVIP,” katanya.
Setelah itu, setiap ada undangan Jokowi selalu ada Riza Chalid di depan. Pada 2016, Said Didu bersama rekannya diberhentikan. ”Hasil penyelidikan Mafia Migas almarhum Faisal Basri, semua pegawai Petral itu HP nya terkoneksi ke HP Riza Chalid, kita laporkan ke KPK tapi tidak ditindak lanjuti,” katanya.










