Surabaya Deklarasikan Sekolah Ramah Anak Sejak 2019, Terapkan Pendidikan Karakter dan Anti-Bullying

Surabaya Deklarasikan Sekolah Ramah Anak Sejak 2019, Terapkan Pendidikan Karakter dan Anti-Bullying

Nasional | sindonews | Senin, 21 Juli 2025 - 15:44
share

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus mengukuhkan komitmennya dalam membentuk generasi muda yang berkarakter kuat dan berakhlak mulia. Salah satu langkah konkret yang diambil adalah melalui penguatan program "Sekolah Ramah Anak", yang telah dideklarasikan Pemkot Surabaya sejak tahun 2019.

Program tersebut bertujuan menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi anak-anak. Apalagi di era digitalisasi, anak-anak diharapkan bisa memilah penggunaan internet, serta mengasah potensi bakat dan minat dalam segala bidang.

Memasuki tahun ajaran baru 2025/2026, Pemkot Surabaya kembali menekankan pentingnya pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang ramah anak serta bebas dari praktik perundungan atau bullying.

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, memberikan instruksi kepada seluruh satuan pendidikan, khususnya jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP), untuk menyelenggarakan MPLS yang menyenangkan, penuh kasih sayang, dan membangun suasana positif.

“Karakter anak-anak ini akan dimulai dari MPLS, sehingga suasana yang gembira dan nyaman akan membuat siswa betah di sekolah. Maka disitulah disiapkan sekolah yang penuh rasa kasih sayang, penuh rasa gembira, penuh dengan rasa agama,” ujar Wali Kota Eri Cahyadi, Jumat (18/7/2025).

Menurutnya, pendidikan karakter merupakan tanggung jawab bersama antara sekolah dan keluarga. Oleh karena itu, keterlibatan aktif orang tua sangat diperlukan dalam menjaga dan mendampingi tumbuh kembang anak. "Saya berharap orang tua ini mempunyai peranan penting menjaga putra-putrinya. Tidak bisa hanya dititipkan di sekolah,” tegas Wali Kota Eri.

Sebagai bentuk kolaborasi nyata, Pemkot Surabaya telah mengatur sistem pembelajaran hingga pukul 12.00 WIB. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan program Sekolah Wawasan Kebangsaan serta Sekolah Bakat Minat yang berlangsung hingga pukul 14.00 WIB.

Melalui program tersebut, Wali Kota Eri berharap anak-anak diberikan ruang untuk mengeksplorasi dan mengembangkan potensi non-akademik seperti seni, olahraga, dan keterampilan lainnya. "Apa pun bakat dan minat anak, mari kita dukung sepenuhnya. Saya sangat berharap orang tua dapat membantu anak-anak mereka mengeksplorasi hobi dan bakatnya,” kata Wali Kota Eri.

Langkah progresif Kota Surabaya pun mendapat apresiasi dari pemerintah pusat. Direktur PAUD Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI, Nia Nurhasanah, menyampaikan kekagumannya terhadap pelaksanaan MPLS di Surabaya yang dinilainya aman, nyaman, dan menggembirakan bagi siswa."Jika di rumah mereka disayangi orang tua, di sekolah baru pun mereka harus merasa sama. Mereka diperhatikan, dihormati, bahkan dimuliakan," tutur Nia saat meninjau kegiatan di TK-KB Bung Karno, Komplek Graha Bunda PAUD, Kota Surabaya.

Nia menilai sinergi antara sekolah, orang tua, dan Pemkot Surabaya sangat sejalan dengan berbagai program prioritas nasional. Program-program tersebut meliputi Wajib Belajar 13 Tahun, Gerakan 7++ Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (KAIH), MPLS Ramah, serta Sekolah Orang Tua Hebat (SOTH).

“Ini merupakan sinergi dan kolaborasi luar biasa antara program prioritas kami dengan Pemkot Surabaya,” imbuh Nia.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya, Yusuf Masruh, memastikan bahwa seluruh SD dan SMP baik negeri maupun swasta telah menerapkan prinsip Sekolah Ramah Anak. Ia juga menyebut bahwa masing-masing sekolah diberi keleluasaan untuk berinovasi sesuai dengan karakteristik wilayahnya."Sudah diterapkan di semua sekolah, tergantung inovasi apa saja yang dibuat sekolah dan nanti kita evaluasi,” jelas Yusuf.

Yusuf menjabarkan bahwa prinsip sekolah ramah anak mencakup lingkungan yang edukatif, rekreatif, serta memperkuat pendidikan karakter siswa dari berbagai aspek, termasuk religius, akademik, hingga pengembangan bakat. "Lingkungan sekolah yang ramah dan edukatif dikemas menjadi Sekolah Arek Suroboyo, program pembelajaran yang efektif dan edukatif,” ungkapnya.

Untuk tahun ajaran baru ini, Dispendik Surabaya juga memfokuskan pada penguatan program anti-bullying dan penanaman nilai toleransi di sekolah. Menurut Yusuf, kunci utama mencegah perundungan adalah keberanian siswa untuk bersuara. “Berani berpendapat, berani bicara, berani memberitahu, dan berani menolak jika ada hal yang tidak benar,” ujarnya.

Dalam mendukung implementasi tersebut, Pemkot Surabaya melalui Dispendik telah membentuk Satuan Tugas (Satgas) Anti-Bullying di setiap sekolah. Satgas ini terdiri dari unsur OSIS, ORPES (Organisasi Pelajar Sekolah), UKS, dan siswa senior.

Satgas ini bertugas mengenalkan berbagai kegiatan ekstrakurikuler kepada siswa baru, serta membantu mereka beradaptasi dengan lingkungan sekolah dan menemukan minat serta bakatnya. “Dengan adanya Satgas ini, diharapkan tidak ada lagi kasus perundungan yang terjadi,” harap Yusuf.MPLS tahun 2025 ini mengusung tema “Sekolahku, Rumahku, Guruku, Orang Tuaku". Tema yang diangkat tersebut sebagai cerminan integrasi antara lingkungan sekolah dan rumah dalam membentuk karakter anak.

Yusuf berharap pelaksanaan MPLS selama sepekan menjadi awal positif dan menyenangkan bagi peserta siswa baru. Sekaligus pula diharapkan dapat memperkuat komitmen semua pihak dalam menciptakan suasana belajar yang aman dan sehat secara psikologis.

"Kami berharap MPLS yang berjalan satu minggu ini menjadi awal masuk sekolah yang menyenangkan bagi para siswa dan bebas dari bullying," pungkasnya. (ADV)

Topik Menarik