Kisah Keindahan Asrama Sagara Taman di Tengah Hutan, Bangunan Hilang dari Kerajaan Majapahit
KAKAWIN Nagarakretagama karya Mpu Prapanca mengisahkan bagaimana seluk beluk detail Kerajaan Majapahit.Dia mendeskripsikan detail kondisi dari Kerajaan Majapahit. Ia bahkan mencatat beberapa bangunan yang dahulu berdiri tegak sudah hilang.
Beberapa bangunan di antara Candi Kagenengan dan Asrama Sagara jadi perhatian Mpu Prapanca. Candi Kagenengan bahkan dibahas khusus pada Nagarakretagama mengenai keindahan candi makam yang berada di selatan candi Buddha.
Baca juga: Megah! Begini Penampakan Istana Majapahit di Trowulan Hasil Artificial Intelligence
Candi itu dijelaskan, Mpu Prapanca sudah dalam keadaan rusak dan diperbaiki oleh Hayam Wuruk yang memerintah Majapahit. Candi itu sebagaimana penuturan sejarawan Prof. Slamet Muljana pada bukunya "Tafsir Sejarah Nagarakretagama", merupakan pemberkahan yang dilakukan oleh pendeta Jnyanawidi dan bahwa candi itu bernama wisesapura.
Selain bangunan Candi Kagenengan yang tak ada, ada satu bangunan menyerupai asrama yang dideskripsikan Mpu Prapanca. Asrama bernama Sagara itu konon berada di wilayah pemerintahan Majapahit. Ia memang menceritakan detail bagaimana setiap kehidupan di Majapahit.Pada Pupuh 32 Nagarakretagama diceritakan Prapanca menurut Prof. Slamet Muljana keindahan Asrama Sagara yang terletak di dalam hutan rimba. Ia masuk ke dalam taman, melihat pemandian penuh lukisan dongengan, berpagar batu tinggi. Di halaman yang bertepi selokan berhamburan bunga naga, andung, karawira, kayu mas, menur dan kayu puring.
Baca juga: Pilu dan Diselimuti Kesedihan, Begini Gambaran Istana Majapahit saat Raden Wijaya Mangkat
Kelapa gading kuning rendah menguntai di sudut mengharu-rindu pandangan. Tiada sampai kata meraih keindahan asrama yang sampai-sampai digambarkan gaib ajaib itu. Asrama itu berselimut hijuk dari dalam dan dari luar, memberi kesan betapa keras tata-tertib yang dianut oleh para penghuninya, yakni para pertapa laki-laki, perempuan, tua muda.
Semuanya tampaknya bijak, luput dari cela serta papa, seolah-olah asrama itu adalah Siwaloka. Betapa indah Prapanca menguraikan kesedihan asrama Sagara waktu ditinggalkan oleh Sri Nata Hayam Wuruk, menunjukkan bakat kepujanggaannya.









