MK Pisahkan Pemilu Nasional dan Lokal, Ketua F-PKB MPR Neng Eem: Ingat, UUD 1945 Adalah Konstitusi Tertinggi

MK Pisahkan Pemilu Nasional dan Lokal, Ketua F-PKB MPR Neng Eem: Ingat, UUD 1945 Adalah Konstitusi Tertinggi

Nasional | sindonews | Senin, 7 Juli 2025 - 17:12
share

Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) MPR Neng Eem Marhamah Zulfa Hiz mengingatkan bahwa Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 adalah Konstitusi Tertinggi di Indonesia. Karena itu, setiap undang-undang atau peraturan hukum di bawahnya tidak boleh tidak sesuai dengan UUD 1945.

Menanggapi Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) nomor 135/PPU-XXII/2024 yang memisahkan Pemilu Nasional dan Pemilu Lokal, Neng Eem kembali menegaskan kedudukan UUD 1945 sebagai konstitusi tertinggi di negara ini.

“Di Pasal 22E UUD 1945 ayat 1 jelas disebut pemilu dilaksanakan secara Luber setiap lima tahun sekali. Ayat 2 juga menyebutkan pemilu diselenggarakan untuk memilih Anggota DPR, DPD, Presiden dan Wapres, dan DPRD, jadi jelas dasar hukumnya. Tidak boleh ada aturan yang tidak sesuai dengan ini,” tegas Eem di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Senin (7/7/2025)

Baca juga: MK Pisahkan Pemilu Nasional dan Lokal, Gus Jazil: Penjaga Konstitusi Nggak Usah Ngatur

Diketahui, dalam putusan MK dinyatakan pemilu nasional dan lokal digelar terpisah mulai 2029. Pemilu nasional untuk memilih Presiden - Wakil Presiden, DPR dan DPD akan dilaksanakan terlebih dahulu. Setelah jeda sekitar dua hingga dua setengah tahun atau sekitar 2031, baru dilanjutkan dengan pemilu lokal untuk memilih Anggota DPRD, Gubernur, Bupati dan Wali Kota.

Baca juga: Pemilu Nasional dan Lokal Dipisah, Apa Saja Dampaknya?

Lebih lanjut Neng Eem, yang juga Wakil Sekjen DPP PKB, mengatakan, bahwa salah satu tugas MPR adalah menyerap aspirasi masyarakat berkaitan dengan pelaksanaan UUD 1945. Karena itu, saat ini Fraksi PKB MPR telah mempelajari lebih lanjut putusan MK tersebut.

“Saat ini Fraksi PKB MPR masih mendalami putusan MK yang dinilai tidak sesuai dengan UUD 1945 ini, karena itu perlu ditindaklanjuti agar tidak terjadi krisis ketatanegaraan,” kata Eem.

Neng Eem berharap fraksi-fraksi di DPR sebagai lembaga legislatif yang berwenang membuat undang-undang bisa segera bertemu dan mengambil keputusan terhadap putusan MK tersebut.

Topik Menarik