Loading...
Loading…
BKKBN Teken Kerja Sama dengan PWRI

BKKBN Teken Kerja Sama dengan PWRI

Nasional | sindonews | Kamis, 08 Oktober 2020 - 13:22

JAKARTA - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menjalin kerja sama dengan Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI). Penandatanganan dua naskah terkait kerja sama itu dilakukan secara daring.

Pertama , penandatanganan naskah kesepahaman bersama antara BKKBN dengan PWRI tentang Penyelenggaraan Program Bangga Kencana dan Bina Lanjut Usia. Naskah itu ditandatangani oleh Kepala BKKBN Hasto Wardoyo dan Ketua Umum PWRI Haryono Suyono.

Kedua , penandatanganan naskah perjanjian kerja sama tentang Penyelenggaraan Program Pembangunan Keluarga dan Bina Lanjut Usia. Naskah kedua itu ditandatangani oleh Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga BKKBN M Yani dan Ketua Umum PWRI Haryono Suyono.

Kepala BKKBN Hasto Wardoyo mengatakan bahwa daya tahan fisik lanjut usia (lansia) tentu semakin lemah dan banyak keterbatasan baik dari segi ekonomi maupun secara fisik. "Dalam hal ini kami terkait dengan kerja sama antara BKKBN dengan PWRI kami sangat beruntung karena PWRI ini juga tentu anggota adalah para purna kerja semua, di mana usia di atas minimal di atas 60 tahun," ujar Hasto Wardoyo, Kamis (8/10/2020).

"Oleh karena itu bekerja sama dengan kelompok atau organisasi yang langsung merasakan problematika yang ada, usia Lansia, saya kira sangat baik dan kemudian sangat riil, masalahnya pun sangat konkret sesuai dengan apa yang dialami, bukan sekadar teori, tapi betul-betul seperti apa yang dialami oleh teman-teman yang dialami PWRI," tambah Hasto.

Sehingga, kata dia, ketika BKKBN membuat suatu program atau terobosan-terobosan untuk pelayanan lansia, PWRI bisa menjadi bagian penting untuk ikut di dalam program itu sekaligus sebagai pengontrol. Sehingga bisa diketahui apakah program BKKBN sesuai atau tidak dengan kebutuhan di lapangan.

"Oleh karena itu, pilot project yang akan sangat cocok dengan kebutuhan lansia ini bisa betul-betul dirasakan bersama antara BKKBN dan PWRI bisa menjadi bahan evaluasi bersama antara BKKBN dengan PWRI, apakah program-program yang dilakukan itu sudah dirasakan oleh lansia, apakah cocok untuk kebutuhan lansia," ungkapnya.

Karena, diakuinya tidak mudah untuk mengawal lansia menjadi tangguh, atau yang masih tetap sehat dan produktif. Berbeda, kata dia, dengan balita atau bawah dua tahun (baduta) yang roadmapnya sudah jelas, seperti ada pertumbuhannya maupun nutrisinya jelas.

"Ada pakemnya, tetapi kalau orang tua, lansia ini karena variabilitasnya luar biasa, antara problem lansia satu dengan lainnya berbeda, proses menua ini juga tidak seperti proses pertumbuhan, kalau proses pertumbuhan itu relatif seragam, sama, bolehlah dikelompokkan," katanya.

Dia menjelaskan, proses menua itu variasinya bisa luar biasa. Misalnya kata dia, ada seseorang yang usianya 70 tahun, tetapi kondisi fisiknya seperti orang usia 50 tahun.

"Tapi sebaliknya ada, yang mereka kondisi umurnya baru 55 tahun tetapi kondisi fisiknya sudah seperti orang 70 tahun, jadi proses aging proses atau penuaan sel-sel ini sangat dipengaruhi oleh perilaku, makanan dan juga stressing dan seterusnya, oleh karena itu, itulah pengawalan atau bina keluarga lansia tidak semudah melakukan program bina keluarga balita, atau baduta bawah dua tahun, karena banyak sekali variasinya," pungkasnya.

Original Source

Topik Menarik