Nasib Mujur Feisal Tanjung, Bisa Jadi Panglima Setelah Sempat Gagal Daftar TNI AL

Nasib Mujur Feisal Tanjung, Bisa Jadi Panglima Setelah Sempat Gagal Daftar TNI AL

Nasional | BuddyKu | Rabu, 23 Agustus 2023 - 06:09
share

JAKARTA - Nasib orang tak ada yang tahu, ungkapan yang pantas disematkan kepada Feisal Edno Tanjung. Cita-citanya gagal menjadi prajurit TNI Angkatan Laut (AL).

Siapa sangka, ia malah menjadi TNI Angkatan Darat. Kegigihannya sebagai seorang prajurit mengantarkannya menjadi menjadi Panglima TNI.

Feisal sempat menempuh pendidikan dasar di Sekolah Rakyat Sibolga hingga kelas 5. Ketika keluarganya pindah ke Medan karena sang ayah bekerja sebagai pegawai negeri di Djawatan Penerangan, Feisal meneruskan sekolah di SR Yosua.

Sibolga merupakan kota di pantai Barat pulau Sumatera. Tak ayal, Feisal remaja akrab dengan pantai, laut dan ombak. Selain itu, prajurit TNI Angkatan Laut yang sedang bertugas kerap wara wiri menghiasi kota tersebut yang membuat Feisal bercita-cita menjadi prajurit AL.

Catatan Usamah Hisyam dalam buku Feisal Tanjung: Terbaik untuk Rakyat, Terbaik bagi ABRI, Feisal Tanjung ketika duduk di kelas tiga SMP diam-diam pernah mendaftarkan diri menjadi aspiran kadet AAL. Untuk diketahui saat itu AAL menerima tamatan SMP untuk menjadi aspiran (calon) kadet.

Dalam perhitungannya, ketika dia diterima sebagai aspiran kadet, maka dua tahun berikutnya dapat menjadi kadet. Sayangnya, harapan Feisal kandas lantaran dirinya tidak diterima karena tak memenuni syarat usia minimal yang ditetapkan yakni 16 tahun.

Kala itu Feisal baru berusia 15. Namun Kegagalan tak membuatnya putus asa. Tamat SMA, lagi-lagi dia mengisi formulir pendaftaran masuk AAL. Tapi kali ini dia juga mendaftar di Akademi Militer Nasional atau AMN (kini Akademi Militer/Akmil).

Surat panggilan dari AMN ternyata datang terlebih dahulu. Akhirnya Feisal mengikuti seleksi dan lolos tingkat kodam hingga akhirnya resmi menjadi calon prajurit taruna (capratar) pada 1958.

Jadi Panglima TNI

Prestasi yang ditorehkan Feisal Tanjung cukup cemerlang. Prajurit dari kecabangan infanteri ini banyak ditempa di Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang kelak berubah menjadi Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha) dan akhirnya Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Feisal juga berkiprah di Pasukan Cakra alias Kostrad.

Sederat jabatan pernah melekat di pundak prajurit tempur ini. Dimulai dari komandan peleton dan kompi di Yonif 152 Kodam XV/Pattimura, dia lantas menjadi Komandan Kompi Tanjung Batalyon 2 RPKAD, Komandan Detasemen 41 Grup 4 RPKAD, hingga Wakil Komandan Grup 1 RPKAD (Grup 1/Para Komando).

Di Baret Hijau, tentara yang pernah terlibat operasi penumpasan G30 S/PKI ini dipercaya sebagai Kastaf dan Komandan Brigif Lintas Udara 17 Kostrad. Setelah itu meroket sebagai Asisten Operasi Kepala Staf Kostrad, Kepala Staf Komando Tempur Lintas Udara Kostrad dan akhirnya Panglima Komando Tempur Lintas Udara Kostrad (Divisi Infanteri 1/Kostrad).

Feisal terus menanjak dengan dipromosikannya sebagai Komandan Pusat Kesenjataan Infanteri pada 1983 hingga 1985, kemudian Pangdam VI/Tanjungpura (1985-1988). Setelah itu dia dipercaya sebagai Dansekoad, kemudian Kasum ABRI.

Dari posisi Kasum itulah Feisal naik ke kursi Panglima menggantikan Edi Sudrajat yang duduk di kursi pimpinan ABRI selama hanya hampir tiga bulan, kata Salim Said dalam buku Dari Gestapu ke Reformasi: Serangkaian Kesaksian.

Sebelum mengangkat Feisal, kata Salim Said, Presiden Soeharto perlu kesaksian tentang calon panglima ABRI itu dari orang-orang yang kenal secara pribadi. Mereka yang ditanyai Soeharto antara lain Menko Azwar Anas dan Mayjen TNI Zaini Azhar Maulani.

Mereka diminta bersaksi lewat rekaman yang alat perekamnya dibawa Kolonel Kivlan Zein dan Kolonel Ismed Yuzeri. Rekaman itu kemudian diperdengarkan kepada Soeharto.

Saya tidak tahu siapa saja yang diminta kesaksiannya sebelum akhirnya Bapak Presiden berkeputusan melantik Feisal Tanjung sebagai pangab, tutur Said. Apa pun, keputusan itu memang dinilai mengejutkan,"

Lazimnya, KSAD yang ketika itu dijabat Jenderal TNI Wismoyo Arismunandar layak menjadi calon Pangab. Namun, banyak yang menilai pemilihan Feisal sebagai panglima merupakan cara Soeharto untuk mempererat kembali hubungan dengan kalangan Islam.

Tak heran pada masa ini Soeharto banyak mempromosikan jenderal santri. Feisal merupakan kelahiran Tarutung, Tapanuli Utara, Sumatera Utara.

Ia adalah anak ke-5 dari 10 bersaudara dari pasangan Amin Husin Abdul Mun\'im dan Siti Rawani Hutagalung. Feisal Tanjung anak dari seorang tokoh ulama, Abdul Munin.

Dalam catatan Usamah Hisyam, ayahnya dikenal penduduk Sibolga sebagai tokoh, ulama, dan salah satu pendiri Muhammadiyah yang amat disegani. Sedangkan Rawani, ibunya, juga aktif dalam kegiatan keislaman dan dakwah.

"Rawani masuk dalam organisasi Aisyiyah di Sibolga dan menjadi salah satu mubaligah sejak Munin diamanahkan sebagai konsul kedua dalam struktur Muhammadiyah Tapanuli pada 1937, tulis Usamah Hisyam dalam buku Feisal Tanjung: Terbaik untuk Rakyat, Terbaik bagi ABRI.

Topik Menarik