Sedih, Sintong Panjaitan Ingin Menangis Lihat Prajurit Kopassus Lepaskan Baret Merah

Sedih, Sintong Panjaitan Ingin Menangis Lihat Prajurit Kopassus Lepaskan Baret Merah

Nasional | BuddyKu | Sabtu, 8 Juli 2023 - 07:44
share

JAKARTA - Kisah haru pernah datang dari tubuh TNI lantaran adanya perampingan yang dilakukan mulai dari Kodam hingga Kopassus . Hal ini terjado pada sekitar 1980-an saat Jenderal LB Moerdani menjabat Panglima ABRI.

Jenderal (Purn) Benny Moerdani mengambil langkah membenahi ABRI dengan melakukan pemotongan aturan, meningkatkan efisiensi, dan meningkatkan profesionalisme.

Selain itu, ia mengubah sistem komando kawasan sebagai Tingkatan Darat, Tingkatan Laut, dan Tingkatan Udara. Komando Kawasan Militer (Kodam) diturunkan dari 16 menjadi 10, 8 Komando Kawasan Tingkatan Laut (Kodaeral) dirampingkan menjadi 2 Komando Armada, dan 8 Komando Kawasan Tingkatan Udara (Kodau) sama-sama dirampingkan menjadi 2 Komando Operasi.

Letjen TNI (Purn) Sintong Panjaitan pun memiliki kisah sedih atas perampingan ini. Saat itu, Sintong menjabat sebagai komandan pertama Grup 3 Para Komando. Sejak awal, dia menentang keras ide perampingan di tubuh TNI, termasuk perampingan Kopassus oleh Jenderal TNI (Purn) Benny Moerdani.

Ia berargumen dengan Jenderal TNI (Purn) Benny Moerdani. Sintong mencoba meyakinkan, biaya justru akan semakin boros jika perampingan dilakukan. Jumlah prajurit yang sedikit berarti harus mengadakan latihan yang lebih banyak agar dapat menyamai kekuatan prajurit berjumlah besar.

"Jadi, Bapak kalau nggak punya duit, jangan dikecilkan," kata Sintong saat itu, dikutip MNC Potral dari buku Kopassus untuk Indonesia, Profesionalisme Prajurit Kopassus.

Argumen Sintong langsung dipatahkan. Jenderal TNI (Purn) Benny Moerdani menjawab tegas, perampingan tetap dilakukan.

Sintong masih mencoba menyampaikan berbagai argumentasi untuk mencegah pengurangan prajurit Kopassus, namun tidak berhasil.

Perampingan di tubuh TNI termasuk Kopassus pada akhirnya tetap harus dilaksanakan. Salah satunya alih status Brigif 3 Linud Kopassus di Kariango menjadi Brigif Limud 3/Kostrad.

Sebelum dilakukan perampingan seluruh anggota Koppasus melakukan seleksi dilaksanakan di Sukabumi pada 1986. Anggota Kopassus kembali menjalani ujian di medan berat untuk diukur kemampuan fisik, mental, dan kecerdasannya. Tes dilakukan satu-satu dan didampingi psikiater. Latihan patroli malam hari juga dilakukan.

Para prajurit yang lulus tentu saja tetap boleh mengenakan baret merah dan tinggal di Jakarta. Sementara yang tidak lulus ditempatkan dalam kesatuan baret hijau Kostrad.

Sintong mengaku ingin menangis ketika mengetahui ternyata banyak prajurit Kopassus yang harus keluar.

"Saya rasanya mau menangis karena banyak orang yang baru masuk Kopassus harus keluar," kata Sintong.

Kemudian proses seleksi upacara pergantian baret tetap dilaksanakan di kesatrian Kariango dan berlangsung dengan penuh haru. Saat acara timbang terima, semua berdiri mengenakan baret merah.

Setelah upacara, semua bergantian menundukkan kepala. Mereka mengambil baret hijau dan mengganti baret merah yang dipakai di kepala.

Sintong lagi-lagi tak mampu menahan kesedihannya. Dia tidak tega melihat prajurit yang dia sebut anak-anak yang sangat dia sayangi itu, harus melepaskan baret merah kebanggaan mereka.

"Saya sedih sekali. Anak-anak buah ini betul-betul saya sayangi. Tetapi, negara mengatakan ini harus dilaksanakan. Ini kan orang-orang baik semua," kata mantan Komandan Kopassus itu lirih.

Topik Menarik