Asuransi Tugu Pratama Indonesia (TUGU) Bakal Stock Split Saham 1:2
JAKARTA - PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU) alias Tugu Insurance berencana untuk melakukan pemecahan nilai nominal saham stock split 1:2.
Dikutip Harian Neraca, perseroan menyebut stock split diusulkan dengan rasio 1:2 atau saham lama dengan nilai nominal Rp100 per saham menjadi 2 saham dengan nilai nominal Rp50 per saham.
Pertimbangan dilakukannya stock split dalam rangka mendukung peningkatan likuiditas perdagangan saham perseroan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan meningkatnya jumlah saham yang beredar. Selain itu, meningkatkan jumlah pemegang saham dengan menjangkau basis investor yang lebih luas.
Kemudian rencana stock split telah memperoleh persetujuan prinsip dari Bursa Efek Indonesia sesuai dengan surat tanggal 3 Februari 2023.
Alfamidi (MIDI) Stock Split Saham 1:10 demi Tarik Investor, Ini Jadwalnya Pemegang saham TUGU saat ini adalah PT Pertamina 58,5%, Samsung Fire and Marine Insurance Co Ltd 5,29%, UOB Kay Hian Pte Ltd 15,89%, dan masyarakat 20,32%. Perseroan akan mengumumkan jadwal pelaksanaan stock split setelah perseroan memperoleh persetujuan RUPS dan/atau pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia atas perubahan pasal 4 anggaran dasar perseroan serta perseroan telah memenuhi seluruh persyaratan dalam POJK No.15/2022 dan persyaratan pencatatan saham tambahan dan setelah memperoleh persetujuan pencatatan saham tambahan dari Bursa Efek Indonesia.
Sebelumnya, perseroan dikabarkan memenangkan gugatan perdana senilai US$ 43,12 juta ditambah bunga atas Citibank NA di pengadialan The Hong Kong Court of Final Appeal.
Kemenangan tersebut akan berdampak terhadap pengakuan pendapatan lain-lain dalam pencatatan pembukuan perseroan.
Selain itu, TUGU membukukan pendapatan meningkat dari Rp1,99 triliun menjadi Rp2,20 triliun hingga September 2022. Begitu juga dengan laba tahun berjalan meningkat dari Rp228,78 miliar menjadi Rp262,20 miliar. Peningkatan tersebut menjadikan laba per saham perseroan bertumbuh dari Rp124,49 menjadi Rp132,26 per saham.
Asal tahu saja, aksi korporasi stock split saham di kuartal pertama tahun ini ramai dilakukan.
Sebut saja, ada PT Bank Mandiri Tbk, PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) dan PT Superkrane Mitra Utama Tbk. Research and Consulting Infovesta Utama, Nicodemus Anggi pernah mengatakan, banyaknya aksi stock split akan berdampak mendorong peningkatan transaksi saham atau RNTH.
"Terlebih jika didorong solidnya fundamental dan ekspektasi prospek bisnis yang menjanjikan pada emiten tersebut," ujarnya.
Ada pula Head of Research Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan mengatakan, stock split dapat mendorong RNTH jika yang melakukan aksi tersebut adalah emiten blue chip yang memiliki rata-rata nilai transaksi harian besar.
"Jika dilakukan oleh emiten blue chip yang memiliki rata-rata transaksi besar, stock split berpotensi meningkatkan nilai transaksi rata-rata harian," pungkasnya.










