Periodisasi Sastra Indonesia oleh Pakar Sastra
JAKARTA, celebrities.id - Periodisasi sastra Indonesia adalah perkembangan sastra yang memiliki sifat dan pengucapan yang berbeda dari masa sebelumnya.
Dikutip dari ensiklopedia.kemdikbud.go.id, periodisasi adalah sejarah perkembangan kesusastraan yang ditentukan oleh sudut pandang peneliti. Kriteria periodisasi bisa diurutkan berdasarkan masa penerbitan karya sastra, pertimbangan intrinsik karya sastra, pertimbangan ekstrinsik karya sastra maupun perbedaan norma umum dalam sastra sebagai pengaruh situasi zaman.
Dilansir dari berbagai sumber, pada Senin (30/1/2023), celebrities.id telah merangkum periodisasi sastra Indonesia sebagai berikut.
Periodisasi Sastra Indonesia
Dikutip dari ensiklopedia.kemdikbud.go.id, berikut ini periodisasi sastra di Indonesia
Periode sastra Indonesia yang digagas oleh H.B Jassin, dibagi menjadi dua
1. Sejarah Melayu Lama
2. Sastra Indonesia Modern, pada masa ini terdiri dari empat angkatan yaitu angkatan 20, angkatan 33 (pujangga baru), angkatan 45 dan angkatan 66.
Periode sastra Indonesia menurut Buyung Salaeh, yaitu:
1. Periode sastra sebelum tahun 20-1n
2. Periode sastra tahun 20-an hingga tahun 1933
3. Periode sastra tahun 1933 hingga Mei 1942
4. Periode sastra Mei 1942 hingga 1956
Periode sastra Indonesia menurut Nugroho Notosusanto yaitu:
1. Sastra Melayu Lama
2. Sastra Indonesia Modern:
a. Masa Kebangkitan, pada masa ini dibagi menjadi tiga periode yaitu periode 20, periode 30 dan periode 42
b. Masa perkembangan, pada masa ini dibagi menjadi dua periode yaitu periode 45 dan periode 50
Periode sastra Indonesia menurut Bakri Siregar dibagi menjadi empat, yaitu:
1. Periode Pertama: Periode pertama dimulai pada abad 20 hingga 1942. Pada periode ini dimulai dengan adanya sastra melayu klasik hingga pujangga baru
2. Periode Kedua: Periode kedua sastra Indonesia dimulai pada tahun 1942 hingga 1945. Pada periode ini para sastrawan sudah mulai memberikan kalimat semangat pada karya-karyanya
3. Periode Ketiga: Periode ketiga dimulai pada 1945 hingga 1950. Sastra pada periode ini sudah menggunakan Bahasa Indonesia dan sastrawan lebih ekspresif
4. Periode Keempat: Periode keempat dimulai 1950 hingga saat ini. Pada periode ini sudah adanya kebebasan berkarya yang penuh improvisasi.










